Sabtu, 18 APRIL 2026 • 17:35 WIB

Komdigi Kebut Talenta AI, Nezar: Masa Depan Dunia Kerja Adalah Kombinasi Manusia dan 'Digital Humans'

Author

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi), Nezar Patria, saat di UGM. (Olivia Rianjani)

JOGJA - Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) terus memacu lahirnya talenta digital muda yang mahir dalam pengembangan Kecerdasan Buatan (AI). Hal ini dilakukan guna menjawab tantangan geopolitik global serta kebutuhan industri yang mulai bertransformasi menuju kolaborasi antara manusia dan entitas digital.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital RI (Wamen Komdigi), Nezar Patria, menegaskan bahwa penguasaan AI bukan lagi sekadar isu teknologi, melainkan instrumen pengaruh dalam tatanan dunia.

"Ke depan, dunia kerja akan merupakan kombinasi antara manusia dan digital humans. Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi kita untuk mempersiapkan talenta yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mengembangkannya," ujar Nezar saat membuka Workshop Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) di Universitas Gadjah Mada, Jumat (17/4/2026).

Baca juga: Komdigi Upayakan BTS di Daerah Bencana Banjir di Sumatera Bisa Menyala dengan Genset

Fokus Bukan Sekadar Tren

Nezar mengingatkan para pengembang muda untuk menggunakan pendekatan problem-first. Menurutnya, AI harus hadir sebagai solusi atas persoalan mendasar di tengah masyarakat, terutama di sektor strategis seperti sektor kesehatan, pangan, energi, dan perikanan sebagai prioritas utama.

"Pengembangan AI tetap berorientasi pada manusia dan tidak menimbulkan dampak negatif," ucapnya.

Tak hanya soal kode dan algoritma, Nezar juga menggarisbawahi pentingnya sisi kemanusiaan dalam teknologi, seperti critical thinking, ethical judgment, dan human-AI interaction design.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Aset, dan Sistem Informasi UGM, Arief Setiawan Budi Nugroho, mengingatkan bahwa AI hanyalah sebuah alat (tool). Keampuhannya sangat bergantung pada kapasitas intelektual penggunanya.

"AI adalah tools. Seberapa besar manfaatnya tergantung pada manusia di baliknya. Tanpa pemahaman dasar yang kuat, penggunaan AI justru berpotensi menghasilkan interpretasi yang keliru," tegas Arief.

Sehingga ia berharap mahasiswa tidak sekadar menjadi konsumen teknologi, melainkan menjadi agen perubahan yang bijak.

"Mahasiswa harus menjadi agen perubahan, bukan sekadar pengguna teknologi. Pemanfaatan AI harus tetap diiringi dengan kemampuan berpikir kritis," katanya.

Memasuki Era Agentic AI

Dalam sesi teknis, Prof. Dr. Ir. Esther Irawati Setiawan, Google Developer Expert (GDE) di bidang AI, memaparkan pergeseran tren dari machine learning konvensional menuju Agentic AI.

"Sekarang kita sudah masuk ke era agentic AI, di mana sistem tidak hanya menjawab, tetapi juga memiliki kemampuan reasoning, planning, hingga mengeksekusi tugas," jelas Prof. Esther.

Baca juga: Heboh Kasus AI 'Nakal' di Kampus, Komdigi Percepat Perpres Etika AI :"Inovasi Jalan Tapi dibatasi"

Namun, ia memberikan catatan penting agar para pengembang tidak terjebak pada tren semata atau "latah" menggunakan Large Language Model (LLM) untuk semua masalah.

"LLM memang sedang hype, tapi tidak semua solusi harus menggunakan LLM. Kita perlu menyesuaikan dengan kebutuhan agar tidak overkill," pungkasnya.

Diketahui, workshop AITF ini diikuti oleh 98 mahasiswa dan 28 dosen pembimbing dari tiga kampus besar: UGM, Universitas Brawijaya, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU