Potret Wamen Ekraf Irene Umar saat mengunjungi Kampung Mrican, Kabupaten Sleman (Istimewa)
JOGJA - Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf), Irene Umar, memberikan apresiasi tinggi terhadap transformasi luar biasa Kampung Mrican di Sleman, Yogyakarta. Kawasan yang dulunya merupakan pemukiman kumuh di bantaran Sungai Gajah Wong ini kini berhasil menyabet penghargaan arsitektur bergengsi dunia, Ammodo Architecture Award 2025, untuk kategori Social Architecture.
Dalam kunjungan kerjanya baru-baru ini, Irene Umar menegaskan bahwa kesuksesan Kampung Mrican adalah potret nyata di mana kreativitas mampu mengubah wajah lingkungan sekaligus taraf hidup masyarakatnya.
"Keberhasilan Kampung Mrican bukan sekadar soal estetika bangunan atau penghargaan arsitektur semata. Ini adalah bukti nyata kekuatan komunitas warga yang mampu mengubah wajah lingkungan menjadi lebih produktif dan berdaya saing melalui sentuhan ekonomi kreatif," ujar Irene Umar saat meninjau kawasan tersebut.
Inovasi Eco Enzyme Sebut Produk Masa Depan
Ia mengawali kunjungannya dengan menyapa komunitas ibu-ibu di area joglo. Disana, ia diperkenalkan dengan inovasi urban farming oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) yang sukses membudidayakan sawi dan jamur meski di lahan terbatas. Langkah ini dinilai sebagai pilar penting bagi kedaulatan pangan warga.
Tak hanya soal pangan, Irene juga meninjau aspek edukasi dan mitigasi bencana melalui kunjungan ke Microlibrary serta Posko Pantau Banjir. Integrasi ini dinilai sebagai fondasi kuat untuk membangun kawasan wisata kreatif yang cerdas dan aman.
Salah satu momen yang mencuri perhatian adalah saat Irene menyusuri Jembatan Sungai Pelang. Ia dibuat terpukau oleh produk Eco-Enzyme hasil olahan limbah kulit buah yang diproduksi secara mandiri oleh warga. Produk multifungsi ini telah dikemas secara profesional sehingga siap masuk ke pasar ekonomi kreatif.
"Inovasi lingkungan seperti eco-enzyme ini adalah produk ekonomi kreatif masa depan. Mengubah sampah menjadi emas atau produk bernilai jual adalah esensi dari kreativitas yang berdampak langsung pada kantong warga dan kesehatan bumi," tegas Irene.
Kepala Dukuh Pringwulung, Sahid Fahrudin, menyampaikan harapannya agar dukungan dari pemerintah pusat terus mengalir bagi keberlanjutan ekosistem ini. Menurutnya, nafas dari Kampung Mrican terletak pada sinergi antar-kelompoknya, mulai dari bank sampah, pembatik, pembudidaya ikan, hingga pegiat sungai.
"Kami sangat senang dengan kehadiran Ibu dan berharap berbagai komunitas di sini mendapat dukungan dari Ibu Wamen Ekraf agar kampung ini semakin mandiri serta menjadi pusat ekonomi kreatif yang tangguh, karena memang kekuatan utama kami ada di kekompakan komunitasnya," ujar Sahid Fahrudin.
Baca juga: Zulhas : Apreasiasi MBG di SMAN 1 Depok Sleman, Pemerintah Rekrut 30 Ribu Manajer Kopdes
Kunjungan berakhir di RTP Gatotkaca, sebuah ruang publik yang memadukan desain modern dengan kearifan lokal. Di sini, Wamen Ekraf menegaskan komitmennya untuk membawa ekosistem Kampung Mrican "naik kelas" agar menjadi inspirasi bagi daerah lain di seluruh Indonesia.
Dalam peninjauan tersebut, Irene Umar didampingi oleh jajaran pejabat Kemenekraf, antara lain Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Dadam Mahdar, Staf Khusus Menteri Bidang Penguatan Ekraf Jago Anggara, serta Tenaga Ahli Bidang Regulasi dan Kelembagaan Dahana Esa Putera.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Di Grup WA