Rabu, 15 APRIL 2026 • 14:55 WIB

50 Persen Lansia, Sebanyak 494 Jemaah Haji Kota Jogja Siap Berangkat Melalui Embarkasi YIA

Author

Para calon jemaah haji Kota Yogyakarta yang siap berangkat tahun 2026 ini. (Olivia Rianjani)

JOGJA - Persiapan keberangkatan jemaah haji asal Kota Yogyakarta tahun 2026 memasuki babak akhir. Pada tahun ini, total jemaah yang akan diberangkatkan mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, yakni mencapai 494 jemaah.

Kasubag TU Kementerian Agama (Kemenag) Kota Yogyakarta sekaligus Petugas Pembimbing Ibadah Kloter 6 YIA, Ahmad Mustafid, menjelaskan bahwa ratusan jemaah tersebut tidak diberangkatkan dalam satu kelompok terbang (kloter) yang sama karena adanya batasan kapasitas.

"Insya Allah dari kota Yogyakarta akan diberangkatkan jemaah haji sejumlah 494 jemaah insya Allah. Tapi memang tidak bisa satu kloter kan, karena satu kloter terbatasi maksimal kan 354 jemaah, sehingga terbagi menjadi beberapa," ujar Mustafid, saat ditemui di acara Pengajian Pamitan Calon Jemaah Haji Kota Yogyakarta, Rabu (15/4/2026).

Pembagian Kloter dan Jadwal Keberangkatan

Mustafid merinci bahwa jemaah akan tersebar di beberapa kloter. Kloter 6 menjadi kloter utama yang berisi jemaah asal Kota Jogja secara utuh.

"Ada yang gabung di kloter pertama dengan Kulon Progo itu jumlahnya hanya 2 jemaah. Lalu yang utuh dari Kota Jogja di Kloter 6, itu full jamaah Kota Jogja yang berjumlah 354 jamaah lalu 6 petugas," jelasnya.

Selain itu, terdapat 3 jemaah di Kloter 7, dan sisanya akan masuk dalam Kloter 26 YIA yang sering disebut sebagai 'kloter sapu jagad'. Kloter terakhir ini memiliki tantangan tersendiri karena jadwalnya yang sangat mepet dengan puncak ibadah haji.

"Kloter 26 YIA, itu disebut kloter sapu jagad, jadi berangkatnya tanggal 20 Mei, terbang sampai ke sana tanggal 21 Mei, tanggal 26 Mei sudah arofah. Jadi begitu sampai ke Tanah Suci yang kloter 26 ini, itu nanti 4 hari berikutnya sudah persiapan puncak haji armusnya," katanya.

Untuk Kloter 6 sendiri, jemaah dijadwalkan masuk ke asrama pada 28 April mendatang.

Skema Baru Embarkasi YIA

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang menggunakan Embarkasi Donohudan, tahun ini jemaah asal DIY dan sebagian Keresidenan Kedu akan menggunakan Embarkasi YIA dengan fasilitas hotel berbintang.

"Tahun ini DIY dan sebagian Karisidenan Kedu itu berangkatnya dari embarkasi YIA. Dan kedua itu basicnya adalah hotel, menggunakan Hotel Ibis dan Novotel. Kalau di Embarkasi Donohudan, satu kamar dihuni 10 jamaah, karena ini basicnya Embarkasi Hotel, maka satu kamar hanya bertiga. Penak nopo penak? Penak banget," ucap Mustafid.

Menurutnya, penggunaan Embarkasi YIA ini merupakan yang pertama kali dengan total melayani 26 kloter. 

"Jadi nomor kloter pertamanya nanti tanggal 21 April, hampir setiap hari hanya satu. Kalau Donohudan dulu satu hari tiga kloter," katanya.

Antisipasi Cuaca Panas

Terkait kondisi di Tanah Suci, tim kesehatan memberikan peringatan khusus mengenai cuaca. Mustafid mengimbau jemaah untuk waspada terhadap suhu udara yang diperkirakan mencapai 30-35 derajat Celcius pada bulan Mei.

"Pesan dari tim kesehatan bahwa bulan-bulan Mei ini memang masih panas. Itu masih panas. Jadi kalau musim haji ketika bulan-bulan November, Desember itu musimnya dingin misalnya. Tapi kalau kayak gini ya panas. Panas ya sekitar 30-35," ungkapnya.

Salah satu lansia calon jemaah haji di Kota Jogja. (Olivia Rianjani)

Baca juga: Mulai Hari Ini, UGM Buka Pendaftaran UM CBT 2026, Ujian Digelar Juni di Jogja dan Jakarta

Namun, ia menenangkan jemaah bahwa fasilitas di Arafah kini sudah jauh lebih nyaman.

"Arofah sekarang tendanya itu sangat besar ada AC-nya, sejak 2019 itu tenda Arofah nyaman ada AC-nya begitu. Sehingga relatif, sebenarnya jamaah terkena sengatan matahari langsung, itu terpapar sedikit kesempatannya," jelasnya.

Mengingat persentase jemaah lansia mencapai 40-50 persen, pihak Kemenag telah menyiapkan skema pendampingan berjenjang melalui ketua rombongan dan ketua regu. Bagi jemaah disabilitas dan risiko tinggi (risti), akan diterapkan skema murur saat di Muzdalifah.

"Yang disabilitas termasuk ada kategori murur, jadi musdalifah tidak turun, beliau yang Risti yang disabilitas tetap di dalam bis, sehingga Mabit Musdalifahnya dalam posisi di atas bis tanpa turun dalam rangka keselamatan kesehatan haji," tegas Mustafid.

Baca juga: Distribusi Koper Alami Keterlambatan, Pemkot Jogja Minta Calon Jemaah Haji 1447 H Bersabar

Kendati demikian, Mustafid menyebutkan bahwa antrean haji saat ini mencapai 28 tahun. Ia berharap operasional perdana di YIA ini berjalan tanpa kendala.

"Mudah-mudahan semuanya lancar lalu diperjalankan dalam keadaan senang, happy, ceria, bahagia dan semuanya mabrur," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU