JOGJA - Momen langka dan penuh haru mewarnai Balai Senat Universitas Gadjah Mada (UGM) belum lama ini. Dua akademisi dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), yang juga merupakan pasangan suami istri, dikukuhkan secara bersamaan sebagai Guru Besar.
Pasangan harmonis tersebut adalah Prof. Drs. Edi Winarko, M.Sc., Ph.D., yang menyandang gelar Guru Besar dalam bidang Ilmu Rekayasa Pengetahuan, dan sang istri, Prof. Dra. Tutik Dwi Wahyuningsih, Ph.D., sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Kimia.
Dalam prosesi tersebut, keduanya tak hanya memaparkan temuan ilmiah, tetapi juga saling melempar apresiasi romantis atas dukungan selama meniti karier akademik.
"Ungkapan terima kasih yang paling tulus saya persembahkan kepada istri saya, Prof. Tutik Dwi Wahyuningsih, atas kasih sayang, dukungan, motivasi, serta pengertian yang senantiasa diberikan sepanjang perjalanan kehidupan dan karier saya," ujar Prof. Edi Winarko.
Senada dengan sang suami, Prof. Tutik juga mengungkapkan betapa besarnya peran sang suami dalam pencapaian jabatan akademik tertinggi ini.
"Akhirnya, terima kasih yang sebesar-besarnya kepada suami tercinta, Prof. Drs. Edi Winarko, M.Sc., Ph.D. yang selalu memberikan ridho, doa, dan dukungan penuh dalam setiap langkah perjalanan karier ini. Dukungan dan pengertiannya menjadi sumber kekuatan yang memungkinkan saya untuk selalu terus berkarya," ungkap Prof. Tutik.
Prof. Edi Winarko: Soroti AI
Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul "Data Berkualitas, AI Berdaya: Pentingnya Pendekatan Data-Centric dalam Penerapan Kecerdasan Buatan di Dunia Nyata", Prof. Edi menyoroti pergeseran penting dalam dunia Artificial Intelligence (AI).
Ia pun menjelaskan bahwa selama ini dunia teknologi terlalu fokus pada algoritma atau yang disebut sebagai paradigma model-centric.
"Sepanjang sejarah pengembangannya, kemajuan dalam kecerdasan buatan secara fundamental didorong oleh paradigma model-centric, di mana evolusi dicapai melalui inovasi pada algoritma dan arsitektur model," paparnya.
Meski pendekatan ini melahirkan teknologi hebat seperti Convolutional Neural Network (CNN) hingga transformer, Prof. Edi mengingatkan adanya keterbatasan besar. Menurutnya, kegagalan AI di lapangan sering kali bukan karena modelnya yang buruk, melainkan datanya yang "sampah".
"Kinerja sistem kecerdasan buatan sangat bergantung pada kualitas data latih. Dua model yang identik dapat menghasilkan keluaran dan kualitas yang sangat berbeda jika dilatih dengan data yang berbeda," jelas Prof. Edi.
Ia mengibaratkan AI seperti mobil balap. Secanggih apa pun mesinnya, tidak akan berfungsi maksimal tanpa bahan bakar berkualitas. Prof. Edi mendorong penggunaan data-centric AI untuk menjawab fenomena operational gap atau penurunan performa AI saat menghadapi data dunia nyata.
"Data-centric AI tidak menggantikan model-centric AI, melainkan melengkapinya. Pengembangan AI modern memerlukan rekayasa model dan rekayasa data yang berjalan secara paralel. Data merupakan fondasi utama kecerdasan buatan. Melalui pendekatan yang berpusat pada data, sistem AI yang lebih akurat dan dapat dipercaya dapat dibangun," tandasnya.
Prof. Tutik: Harapan Baru Terapi Kanker
Di sisi lain, Prof. Tutik memukau hadirin dengan riset kimianya yang berjudul "Pirzolina sebagai platfrom molekul multifubgsi:Sintesis, Akt8vitas Antikanker, dan Aplikasinya sebagai Kemofluprosensor Selektif".
Karena itulah, Prof. Tutik menekankan bahwa sintesis organik bukan sekadar teknis laboratorium, melainkan sebuah seni merancang molekul.
"Sintesis organik merupakan proses pembentukan molekul organik berbasis karbon secara bertahap dan terencana melalui reaksi kimia yang terkontrol," ujarnya.
Ia menganalogikannya dengan dunia konstruksi yakni sintesis organik sering dianalogikan sebagai architecture of the molecular world karena menuntut kreativitas dalam perancangan molekul.
Menurutnya, fokus utama risetnya adalah senyawa pirazolina. Senyawa ini dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi obat kanker yang lebih efektif dengan efek samping minim.
"Pirazolina merupakan senyawa heterosiklik dengan cincin lima anggota yang mengandung nitrogen. Dan itu menjadikannya memiliki berbagai aktivitas farmakologis, seperti antimikroba, antikanker, antiinflamasi, dan antioksidan," terang Prof. Tutik.
Selain itu, pirazolina juga dapat digunakan sebagai detektor zat (kemofluorosensor) karena sifat fluoresensinya. Meski potensinya besar, Prof. Tutik mengakui masih ada tantangan dalam pengembangannya ke depan.
"Sifat fluoresensi alami dari pirazolina menjadikannya kandidat yang menarik sebagai fluorofor dalam sistem kemofluorosensor. Senyawa turunan pirazolina memiliki prospek yang menjanjikan di dalam pengembangan obat antikanker maupun kemofluorosensor. Namun, masih menghadapi beberapa tantangan, antara lain optimasi selektivitas dan pemahaman mekanisme interaksi molekuler," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Melalui E-mail