JOGJA - Seorang peneliti muda asal Indonesia, Ezra Timothy Nugroho (25), menuntaskan ekspedisi ilmiah selama 57 hari di Antartika bersama tim dari University of Tasmania.
Alumni Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) itu menghadapi berbagai kondisi ekstrem, mulai dari suhu mencapai minus 30 derajat Celsius hingga gelombang tinggi di tengah samudra.
Perjalanan penelitian dimulai dari Hobart, Tasmania, pada 2 Januari 2026. Selama hampir dua bulan, Ezra dan sekitar 20 ilmuwan lintas negara menjalankan riset di kapal penelitian Investigator. Mereka bekerja dalam ritme yang tidak biasa, dengan durasi hingga 12 jam per hari tanpa hari libur.
"Kami kerja 12 jam per hari tanpa libur. Bahkan saya shift dari jam 2 pagi sampai 2 siang. Dua minggu pertama cukup berat, tapi setelah itu mulai terbiasa," ujar Ezra saat ditemui di Gedung Pusat UGM, Kamis (9/4/2026).
Selain suhu ekstrem, fenomena alam khas Antartika turut menjadi tantangan tersendiri. Pada musim panas, matahari hampir tidak pernah benar-benar terbenam.
"Jam 11 malam masih terang, jam 1 pagi sudah seperti siang lagi. Jadi waktu terasa aneh, seperti tidak ada malam," katanya.
Dalam ekspedisi tersebut, Ezra meneliti Sedimentary Ancient DNA, yakni DNA purba yang tersimpan di sedimen dasar laut. Ia mengambil sampel menggunakan metode coring system, berupa pipa silinder panjang yang menembus dasar laut.
"Saya fokus mendeteksi DNA hewan laut, khususnya moluska. Sampel yang kami ambil berumur antara 6 ribu sampai 350 ribu tahun," jelasnya.
Penelitian yang ia lakukan bahkan berhasil mengidentifikasi spesies moluska purba dari Antartika, yang disebutnya sebagai temuan pertama di dunia dalam pendekatan tersebut.
"Sejauh yang kami tahu, belum pernah ada penelitian yang mendeteksi DNA moluska dari sedimen purba seperti ini," tegasnya.
Menurut Ezra, riset ini tidak hanya berkontribusi pada penemuan ilmiah, tetapi juga memiliki dampak penting dalam memahami perubahan lingkungan global. Dengan membandingkan DNA masa lalu dan masa kini, ilmuwan dapat mempelajari bagaimana organisme beradaptasi terhadap perubahan iklim.
"Kami ingin melihat perubahan genom dari ratusan ribu tahun lalu dengan sekarang. Dari situ kita bisa tahu bagaimana mereka bertahan," ujarnya.
Ia mengungkapkan, Antartika menjadi lokasi ideal untuk penelitian karena minim aktivitas manusia, sehingga perubahan yang terjadi dapat mencerminkan kondisi alami bumi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung