Jumpa pers Pemkab Sleman, di Pendopo Disbud Sleman, pada Kamis (9/4/2026). (Olivia Rianjani)
JOGJA - Pemkab Sleman melalui Dinas Kebudayaan (Disbud) akan menggelar Festival Langen Cerita yang mengangkat tema "Cinta Alam dan Kesadaran Lingkungan" pada Sabtu, 11 April 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya sekaligus pembentukan karakter generasi muda.
Kepala Bidang Adat, Tradisi, Lembaga Budaya, dan Seni Dinas Kebudayaan Sleman, Dekhi Nugroho, mengatakan bahwa Langen Cerita merupakan seni budaya lokal yang memadukan unsur sastra, gerak tari, dan musik dalam satu pertunjukan.
"Langen Cerita ini merupakan seni budaya lokal. Langen itu kesenangan, cerita itu ceritanya. Jadi cerita yang diekspresikan dalam bentuk hiburan. Di dalamnya tidak hanya membawakan cerita, tetapi juga disampaikan dengan gerak tari dan lagu," ujarnya dalam jumpa persnya, Kamis (9/4/2026).
Ia menyampaikan bahwa terdapat tiga unsur seni utama dalam Langen Cerita yang menjadi kekuatan pertunjukan tersebut.
"Ada tiga obyek seni di dalam Langen Cerita, yaitu dari sisi sastranya, dari sisi geraknya atau tari, dan dari sisi musiknya," jelasnya.
Menurut Dekhi, pelestarian Langen Cerita penting karena mengandung nilai-nilai budaya yang relevan bagi generasi muda.
"Ini penting kita lestarikan karena merupakan warisan budaya kita. Selain itu, di dalam Langen Cerita terdapat norma-norma budaya dan nilai-nilai positif yang bisa membentuk karakter anak-anak kita," katanya.
Menurutnya juga, festival ini menjadi sarana pembinaan bagi sanggar-sanggar seni yang ada di Sleman.
"Kegiatan ini juga bagian dari pembinaan sanggar. Di Sleman ini banyak sekali sanggar yang masih aktif mendukung pemajuan kebudayaan, baik dari seni gerak, seni tari, maupun seni sastra," terangnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa nilai moral dalam cerita menjadi bagian penting yang ingin disampaikan kepada masyarakat.
"Dalam setiap cerita pasti ada nilai kebaikan dan keburukan, dan yang menang adalah nilai kebaikan. Inilah yang ingin kita tanamkan kepada generasi muda, bahwa ini bukan sekadar hiburan, tapi juga pewarisan nilai," tuturnya.
Adapun tema lingkungan dipilih karena memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan manusia.
"Budaya itu lahir dari proses belajar terhadap lingkungan sosial dan lingkungan alam. Kita tidak bisa hidup tanpa keduanya. Karena itu, kami mengangkat tema cinta alam dan kesadaran lingkungan," jelas Dekhi.
Ia menyebut festival ini akan melibatkan lima kapanewon, yaitu Moyudan, Mlati, Berbah, Sayegan, dan Depok, yang dinilai memiliki rekam jejak kuat dalam seni Langen Cerita.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung