Cerita Picoez Dosen UGM Ajak Warga Sulap Lahan Bekas Tambang di Belitung Timur Ini Jadi Lahan Produktif
JOGJA - Lahan bekas tambang yang dulu dianggap tak produktif kini mulai menunjukkan kehidupan baru berkat upaya rehabilitasi yang dilakukan dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Agus Affianto, S.Hut., M.Si., atau yang akrab disapa Picoez.
Sebagaimana diketahui, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan, hingga pertengahan 2025, realisasi reklamasi lahan bekas tambang mencapai 5.739,39 hektare, atau 80,43 persen dari target 7.135 hektare. Reklamasi ini tidak hanya dilakukan pada lahan bekas tambang, tetapi juga di area penunjang operasional tambang, seperti jalan, pabrik, dan tempat penimbunan tanah penutup.
Picoez mengungkapkan dalam banyak kasus, kerusakan lahan telah mencapai tahap serius, di mana tanah kehilangan kemampuan alaminya untuk mendukung kehidupan.
"Di sinilah peran manusia untuk membantu penyembuhan tanah dan mengembalikannya ke kondisi semula," ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Tantangan Lahan Bekas Tailing Timah
Salah satu proyek rehabilitasi yang dilakukan Picoez adalah lahan bekas tambang timah di Desa Manggar, Kabupaten Belitung Timur, dekat "SD Laskar Pelangi". Menurutnya, kondisi lahan tergolong ekstrem.
"Berdasarkan hasil studi yang pernah dilakukan oleh sebuah penelitian sebelumnya, rumput saja membutuhkan waktu hingga 20 tahun untuk dapat tumbuh secara alami," ungkapnya.
Menurutnya, tim awalnya membuat demplot uji coba, tetapi suhu pasir di lokasi dapat mencapai 62,4 derajat Celcius antara pukul 10.00 hingga 10.30 pagi, serta tanah yang tidak menyerap air menyebabkan kondisi asam saat hujan turun.
"Karakteristik pasir yang tidak mampu menyerap air menyebabkan kondisi tanah menjadi asam saat hujan turun," katanya.
Baca juga: Buka IUP Gelombang II, UGM Tawarkan Double Degree Hingga Jaminan Karier Internasional
Kompos Blok Jadi Kunci
Untuk mengatasi kondisi ekstrem itu, Picoez dan tim mengembangkan metode berbasis kompos blok pada area uji coba seluas 10 hektar, bekerja sama dengan pemerintah Kabupaten Belitung Timur. Kompos dipadatkan dan dijadikan media tanam awal guna meningkatkan kemampuan tanah menahan kelembapan. Beberapa tanaman seperti buah naga, kelengkeng, cemara, dan jambu ditanam sebagai fondasi awal ekosistem.
"Yang kita lakukan itu adalah bagaimana caranya alam tersebut bisa recovery dengan bantuan manusia untuk mempercepat dia memperbaiki diri," jelas Picoez.
Picoez menjelaskan, rehabilitasi lahan ekstrem dilakukan melalui empat tahapan. Pertama, menanam asal hidup, memastikan tanaman bertahan hidup dengan bantuan kompos yang mengandung bahan organik. Tahap kedua, pemantauan intensif, misalnya dengan menjaga kelembapan batang menggunakan potongan batang pisang saat musim kemarau.
Tahap ketiga, peningkatan kualitas tanaman melalui pemupukan yang tepat. Dan tahap terakhir, memastikan tanaman dapat memberikan manfaat, seperti menghasilkan buah.
"Kita tidak bisa menghadapi keadaan ekstrem dengan pendekatan yang biasa-biasa saja dan dalam waktu yang singkat," tegasnya.
Ia menyebut bahwa keberhasilan rehabilitasi, tidak hanya bergantung pada aspek teknis, tetapi juga pada kemitraan dengan masyarakat.
"Yang paling terpenting adalah bagaimana penyembuhan tanah tersebut juga merupakan pengabdian yang dapat memberikan faedah bagi masyarakat setempat. Kondisi pra-rehabilitasi, yakni masyarakatnya, adalah hal yang fundamental untuk diperhatikan," ujarmya.
Disamping itu, Picoez menceritakan kisah inspiratif Nek Inah, seorang lansia yang tetap menanam semangka meski hasil panennya sempat dicuri.
"Ketika ditanya apakah masih ingin melanjutkan usaha tersebut, Nek Inah tetap menunjukkan optimisme yang kuat mengenai usaha yang ia pupuk sedari awal," kata Picoez.
Menurutnya, mayoritas masyarakat setempat terbiasa bekerja di sektor penambangan timah, sehingga keterlibatan awal justru banyak datang dari kelompok lansia.
"Tim kemudian mengintegrasikan tanaman sayuran dalam demplot untuk meningkatkan nilai ekonomi dan menarik minat masyarakat," imbuhnya.
Pengembangan Model
Setelah bertahun-tahun, lahan hasil pengelolaan Picoez dan tim tetap produktif dan memberikan kontribusi terhadap ekosistem setempat.
"Melihat tanaman tumbuh dan memberikan manfaat bagi masyarakat merupakan kebahagiaan tersendiri. Ini bukti bahwa niat dan upaya baik untuk lingkungan akan selalu memberikan hasil yang tidak sia-sia," ungkapnya.
Menurut Picoez, metode serupa juga diterapkan di wilayah lain. Salah satu pemenang Kalpataru bahkan mengadaptasi metode tersebut di lahan tailing Belitung Timur lainnya, dengan hasil yang terlihat dalam beberapa bulan hingga tahun berikutnya.
Kendati demikian, Picoez mengingatkan pentingnya peran hutan dalam menjaga keseimbangan lingkungan.
"Semoga pemerintah tidak hanya memandang hutan sebagai sumber ekonomi semata, tetapi juga sebagai penyedia jasa lingkungan yang memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan kehidupan," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Melalui E-mail