Perjuangan Rif’an dari Bantul Tembus UGM Hingga Doktoral di Belanda: Tekad Kuat Hadapi Keterbatasan Ekonomi, Uang Jerih Payah Sempat Kecopetan
JOGJA - Keterbatasan ekonomi tak menghentikan langkah Ahmad Rif’an Khoirul Lisan menembus pendidikan tinggi. Pria asal Pleret, Bantul, ini membuktikan bahwa tekad dan kerja keras mampu membawanya dari bangku kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) hingga meraih kesempatan studi doktoral di Belanda.
Rif’an memulai perjalanan akademiknya sejak diterima di Fakultas Geografi UGM pada 2012. Pilihan itu sempat mendapat penolakan keluarga, terutama sang ayah, karena kondisi ekonomi yang sulit.
"Alasannya sederhana sekaligus berat, keluarga tidak punya cukup biaya, sementara enam adik saya masih kecil," ujarnya, Senin (23/3/2026).
Ayah Rif’an bekerja sebagai guru mengaji, sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga. Keluarga berharap Rif’an segera bekerja setelah lulus SMA, tapi ia memilih tetap menempuh pendidikan tinggi untuk mengubah nasib keluarga.
"Bagi saya, kuliah bukan sekadar mimpi pribadi. Saya ingin mengubah kondisi keluarga dan membantu adik-adik mendapatkan kehidupan yang lebih baik," tutur Rif’an.
Masa Kuliah: Hidup Hemat dan Berjuang Sendiri
Awal kuliah menjadi fase penuh tantangan. Rif’an bertahan hidup dengan bantuan beasiswa Bidikmisi dan penghasilan dari kerja sampingan. Ia aktif di organisasi kampus bukan hanya untuk pengalaman, tetapi juga demi mendapatkan konsumsi.
"Saya suka ikut kegiatan karena tahu ada konsumsi," kenangnya sambil tersenyum.
Dengan uang terbatas, Rif’an terbiasa hidup hemat.
"Dengan sekitar Rp 4.000, saya biasanya hanya membeli nasi, sayur, dan satu gorengan. Yang penting makan," ucapnya.
Keterbatasan juga membuatnya tidak memiliki komputer. Ia menyiasatinya dengan bekerja di warnet agar bisa mengerjakan tugas. Usahanya berbuah manis ketika salah satu dosen memberinya komputer bekas.
Meski berada di lingkungan kampus, Rif’an sering merasa sendiri.
"Barangkali bagi teman-teman saya dianggap aneh karena jarang ikut makan bersama, padahal itu karena keterbatasan ekonomi," tuturnya.
Perubahan terjadi pada 2014 saat ia diterima di program Rumah Kepemimpinan, yang memberinya tempat tinggal dan uang saku bulanan.
"Untuk pertama kalinya saya bisa menabung dan mulai memikirkan masa depan," katanya.
Namun, hubungan dengan keluarga belum sepenuhnya membaik. Rif’an pernah mengalami penolakan saat mengajak keluarganya makan di luar.
"Sepanjang hidup saya sebelumnya, kami belum pernah makan di luar bersama, dan ini untuk pertama kalinya saya mengajak keluarga saya makan di luar. Saya ajak makan di sate kambing Pak Pong," kenangnya.
Lika-liku Dapat Beasiswa
Di akhir masa kuliah, Rif’an mengikuti program di Kampung Inggris Pare untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris. Kondisinya sangat terbatas, hingga ia hanya makan sekali sehari. Kesulitan bertambah ketika uang untuk tes TOEFL sebesar Rp 1 juta dicopet.
Hasil TOEFL menjadi pintu masuk bagi Rif’an untuk meraih beasiswa LPDP.
"Teman-teman membantu dengan mengumpulkan uang. Dari situlah saya bisa ikut tes," ujarnya.
Baca juga: Mengenal Aplikasi "Westa", Karya Dosen UGM Kembangkan Sistem AI Ini untuk Pengolaan Sampah
Menembus Dunia Internasional
Pada 2018, Rif’an berangkat ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi magister di Arizona State University. Ia masih mengingat momen sederhana dari ibunya.
"Ibu menyiapkan bekal kering tempe. Sepanjang hidup saya sebelumnya, saya hampir tidak pernah mendapatkan bekal seperti itu," ucapnya.
Selama di Amerika, Rif’an tetap hidup sederhana.
"Saya lebih sering memasak sendiri dan memanfaatkan food bank di kampus," kenangnya.
Pandemi COVID-19 membuatnya menyelesaikan studi dari Indonesia hingga lulus pada 2020.
Setelah pulang, Rif’an sempat bekerja di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional sebelum menjadi dosen di Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPNV) Yogyakarta.
Pada 2024, ia kembali meraih beasiswa LPDP untuk studi doktoral di Wageningen University & Research, dengan fokus pengelolaan sumber daya air dan pertanian.
Bagi Rif’an, perjalanan panjang ini bukan hanya pencapaian pribadi.
"Kalau boleh menyampaikan pesan untuk siapa pun yang sedang berjuang, saya selalu percaya satu hal Gusti mboten sare Tuhan tidak pernah tidur," tuturnya.
Ia juga menegaskan setiap usaha tidak akan sia-sia.
"Mungkin jalannya panjang dan kadang terasa sangat berat. Tapi selama kita tetap berusaha, selalu ada jalan yang dibukakan," pungkas Rif’an.
Kini Rif’an tengah menyelesaikan studi doktoralnya di salah satu kampus riset pertanian terkemuka di Eropa, sambil membawa harapan untuk berkontribusi bagi kemajuan pertanian Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Di Grup WA