Kamis, 05 MARET 2026 • 14:30 WIB

Sekda DIY : Cabai disini Primadona Sampai ke Luar Daerah, Dorong Tanam di Pekarangan

Author

Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Ni Made Dwipanti. (Olivia Rianjani)

JOGJA - Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Ni Made Dwipanti menyebut cabai merupakan komoditas pangan yang masuk kategori voluntary food sehingga harganya sangat dipengaruhi oleh permintaan dan kondisi pasar.

Menurutnya, sejumlah bahan pokok seperti cabai, bawang merah, daging ayam, dan telur termasuk komoditas yang pergerakan harganya sangat fluktuatif.

"Voluntary food kemudian administrative price. Nah cabai itu masuk di voluntary. Jadi kalau voluntary ini memang sangat mempengaruhi sekali, karena voluntary itu biasanya masuk di bahan-bahan pokok, jadi kayak cabai, kayak bawang merah, kemudian daging ayam, telur, maksudnya seperti itu," ujarnya, di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Rabu (4/3/2026).

Ia menyebut harga cabai di sejumlah wilayah DIY memang dapat berbeda-beda tergantung waktu dan lokasi. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh dinamika permintaan masyarakat serta distribusi komoditas.

"Saya juga mantau nih, cabai itu ada yang kalau kemarin mungkin ini tergantung hari ya, mungkin pas kunjungan ke Bantul tanggal berapa, kunjungan ke Kulon Progo tanggal berapa sehingga tadi saya melihat memang harganya beda-beda," katanya.

Menurutnya, fluktuasi harga tersebut merupakan hal yang wajar karena cabai termasuk komoditas yang sensitif terhadap permintaan.

"Berarti betul ada fluktuaktif gitu, karena dia memang juga voluntary food. Jadi tergantung dari sisi konsumsi masyarakat, jadi tergantung dari demand. Kalau supply itu berarti kan sebenarnya ini kalau balance antara supply dan demand mestinya tidak mempengaruhi harga komoditas," jelas Ni Made.

Ia pun menilai secara umum pasokan cabai di DIY sebenarnya masih cukup aman. Namun, distribusi dan penyerapan hasil panen menjadi faktor penting yang mempengaruhi ketersediaan di pasar.

"Kalau dibilang tadi juga sebenarnya supply-nya aman, cabai juga sebenarnya aman. Cuma persoalannya disini adalah ketika, ini ada dari sisi supply, supply itu bisa kita lihat dari Gapoktannya, dari distribusornya, dari pasarnya," jelasnya.

Selain itu, ia menyebut cabai asal DIY memiliki karakter rasa yang khas sehingga banyak diminati tidak hanya oleh masyarakat lokal tetapi juga dari luar daerah.

"Kenapa cabai DIY itu sangat disuka tidak hanya masyarakat ini saja, tapi katanya rasanya lebih beda, lebih pedas," ujarnya.

Karena itulah, menurut Ni Made, pemerintah tidak bisa membatasi petani dalam menentukan harga jual hasil panen mereka. Apalagi ketika ada permintaan dari daerah lain dengan harga yang lebih tinggi.

"Petani, kita juga nggak bisa bicara masalah kepada petani ‘kamu jangan kasih harga tinggi dong’, mereka kan pasti cari untung untuk itu apalagi ketika kemudian di daerah sekian berani menawarnya cukup tinggi untuk supply mereka," ucapnya.

Untuk itu, Pemda DIY mendorong masyarakat untuk mulai menanam cabai sendiri di pekarangan rumah guna membantu menjaga stabilitas konsumsi rumah tangga.

"Sebenarnya kalau cabai itu kan tanahnya sangat mudah untuk ditanam, kalau kita habis masak bijinya itu kita taburkan di rumah itu masih tumbuh. Cuma kan kadang orang tidak begitu aware dengan itu," ucap Ni Made.

Baca juga: Pemda DIY Klaim Stok Pangan untuk Lebaran 2026 Tercukupi, Salab Satunya Beras Bisa untuk 26 Bulan

Penanaman cabai dalam pot maupun pekarangan rumah, kata dia, dapat menjadi alternatif pemenuhan kebutuhan konsumsi keluarga.

"Kalau punya sejengkal-dua jengkal dengan pot juga masih bisa untuk digunakan sebagai konsumsi rumah tangga lah ya, bukan untuk industri," katanya.

Di sisi lain, Pemda DIY juga sempat menjajaki kerja sama dengan BUMD sebagai off-taker untuk menampung produk pangan, salah satunya melalui Taru Martani.

"Kita bisa off taker. Off taker kita adalah BUMD, Taru Martani contohnya. Tapi sebenarnya itu juga tidak mampu. Karena ketika disimpan mungkin kalau kita punya cold storage seberapa besar bisa bertahan," terangnya.

Ia menambahkan cabai memiliki keterbatasan daya simpan sehingga sulit ditahan dalam waktu lama.

"Dan ini kebiasaan masyarakat kita tidak suka yang tidak segar. Iya kan? Tidak suka yang tidak segar gitu," tandas Ni Made.

Sementara itu, Kepala Biro Administrasi Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Setda DIY Eling Priswanto mengatakan fluktuasi harga cabai juga dipengaruhi oleh faktor cuaca.

"Pertama itu bisa diperhatikan ketika ada hujan pasti besoknya naik. Jadi memang itu memang kalau khusus cabai itu komoditas yang unik jadi begitu hujan pasti besok paginya naik karena petani tidak berani memanen," ujar Eling.

Menurutnya, banyak petani memilih menunda panen saat hujan demi menjaga harga dan menghindari risiko di lapangan.

"Selain itu berbahaya pada dirinya sendiri. Nanti kalau pada saat hujan harganya juga pasti turun petani tidak mau, jadi pasti ditahan dulu supaya naik," jelas Eling.

Baca juga: Sekda DIY Angkat Bicara Polemik Penamaan Jembatan Kabanaran, Sebut Perubahan Nama Proyek Hal Biasa

Menurutnya, perbedaan harga antara wilayah seperti Sleman dan Pasar Beringharjo juga merupakan hal yang lazim terjadi.

"Itu salah satu penyebab kenapa di Sleman sudah turun hal berikutnya di Beringharjo naik itupun di Sleman saya yakin naik. Ketika Beringharjo naik, Sleman juga naik pasti naik memang begitu dan itu tidak hanya terjadi di Jogja alias rata di seluruh provinsi," pungkas Eling.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wawancara Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU