JOGJA - Teknologi Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan logam tanah jarang (LTA), mineral strategis yang dibutuhkan dalam berbagai sektor teknologi, mulai dari komponen pesawat tempur dan komersial, sistem rudal, hingga elektronik dan komunikasi satelit. Potensi ini mendorong pemerintah membentuk Badan Industri Mineral (BIM) untuk mengkoordinasikan penelitian dan pengembangan mineral kritis di tanah air.
Dosen Departemen Teknik Geologi, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Lucas Donny Setijadji, mengatakan riset LTA di Indonesia sebenarnya sudah berlangsung sejak lama.
"Penelitian logam tanah jarang saya mulai pada 2008, dalam proyek kerja sama Indonesia - Jepang yang didanai JICA. Mineral ini bukan isu baru di kalangan peneliti, tetapi memang perjalanan risetnya panjang," ujar Lucas, Minggu (21/2/2026).
Menurutnya, Momentum eksplorasi global meningkat ketika Tiongkok membatasi ekspor logam tanah jarang, memicu kekhawatiran negara industri seperti Jepang yang sangat bergantung pada mineral ini.
"Sejak itulah eksplorasi digalakkan di seluruh dunia. Jepang bahkan menjadi promotor utama riset di ASEAN dan Afrika melalui pendanaan penelitian dan beasiswa," katanya.
Meski memiliki potensi besar, Lucas menekankan bahwa realitas pengelolaan LTA di Indonesia masih jauh dari komoditas seperti emas atau tembaga yang sudah berproduksi masif.
"Hingga kini, Indonesia belum memiliki izin usaha pertambangan khusus untuk logam tanah jarang. Pemerintah memilih pendekatan hati-hati karena mineral ini dianggap kekayaan strategis nasional sesuai amanat Pasal 33 UUD 1945," jelasnya.
Baca juga: Tak Perlu Panik, Guru Besar UGM Ini Ungkap Coronavirus Anjing Belum Bersifat Zoonosis
Lucas menyebut, salah satu wilayah yang kini mendapat perhatian serius adalah Mamuju, Sulawesi Barat, yang disebut sebagai lokasi paling prospektif dan direncanakan menjadi pilot project hilirisasi LTA nasional. Lucas menjelaskan, UGM memiliki rekam jejak panjang dalam riset kawasan ini.
"Awalnya Mamuju diteliti karena anomali radioaktif oleh BATAN. Dalam perjalanan penelitian, ditemukan bahwa kandungan logam tanah jarangnya termasuk tinggi," ujarnya.
Namun, tantangan utama tidak hanya pada penemuan sumber daya. Lucas menegaskan, penguasaan teknologi ekstraksi menjadi kunci karena LTA sering berasosiasi dengan unsur radioaktif dan memiliki karakteristik mineral berbeda di setiap lokasi.
"Setiap lokasi memerlukan metode pengolahan yang sangat spesifik," tegasnya.
Selain Mamuju, wilayah lain di Bangka Belitung, Kalimantan, dan Sulawesi juga menunjukkan prospek menjanjikan dengan karakter geologi beragam. Lucas menambahkan, eksplorasi LTA adalah proses panjang dan kolaboratif.
"UGM patut bangga karena ikut berkontribusi sejak tahap awal. Ke depan, mudah-mudahan Indonesia benar-benar mampu mengolah logam tanah jarang secara mandiri," pungkas Lucas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Melalui E-mail