Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Minggu, 22 FEBRUARI 2026 • 19:55 WIB

Tak Perlu Panik, Guru Besar UGM Ini Ungkap Coronavirus Anjing Belum Bersifat Zoonosis

Tak Perlu Panik, Guru Besar UGM Ini Ungkap Coronavirus Anjing Belum Bersifat Zoonosis(Ilustasi) anjing terkena coronavirus. (Istimewa)

JOGJA - Di tengah kewaspadaan global terhadap berbagai penyakit zoonosis seperti virus nipah, kemunculan isu mengenai canine coronavirus (CCoV) atau coronavirus pada anjing turut memicu kekhawatiran publik. Namun, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM) menegaskan bahwa hingga kini virus tersebut belum terbukti bersifat zoonosis atau menular dari hewan ke manusia.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. drh. Tri Untari, M.Si., menjelaskan bahwa coronavirus pada anjing berbeda secara mendasar dengan virus penyebab Covid-19 pada manusia.

"Zoonosis dari anjing ke manusia sangatlah sulit terjadi. Perbedaan struktur molekul virus dan reseptornya membuat virus dari anjing tidak mudah menginfeksi sel manusia," ujar Untari, Minggu (21/2/2026).

Menurutnya, canine coronavirus umumnya menyerang saluran pencernaan anjing dan menular melalui jalur fekal-oral. Virus ini terutama menggunakan reseptor Aminopeptidase N (APN) atau CD13 yang terdapat pada saluran pencernaan. Hal tersebut berbeda dengan COVID-19 yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 pada manusia, yang memanfaatkan reseptor ACE2 di saluran pernapasan.

"Ada tipe coronavirus anjing yang menyerang saluran respirasi, tetapi tetap menggunakan reseptor yang berbeda dengan virus Covid-19 pada manusia," jelasnya.

Untari menjelaskan, suatu virus hewan dapat menjadi zoonosis, diperlukan proses adaptasi yang kompleks. Virus harus mampu menyesuaikan diri dengan reseptor sel manusia, memiliki kecocokan tropisme sel, serta didukung enzim protease hospes agar bisa bereplikasi dan ditularkan lebih lanjut.

"Virus harus bisa menempel, masuk, bereplikasi, lalu dikeluarkan dalam jumlah cukup untuk menginfeksi manusia. Itu proses panjang dan tidak mudah," ungkapnya.

Baca juga: Kapasitas PLTS Atap Warga Meningkat, Pakar UGM Desak Pemerintah Percepat Transisi Energi

Ia juga menanggapi laporan mengenai anjing yang hasil uji serologinya menunjukkan antibodi terhadap Covid-19. Menurut Untari, kondisi tersebut tidak serta-merta membuktikan adanya penularan aktif dari atau ke manusia.

"Kalau tes serologi positif tetapi PCR negatif, itu artinya anjing pernah terpapar dan membentuk antibodi, namun virusnya tidak bereplikasi. Jadi belum bisa disebut zoonosis," tegasnya.

Lebih lanjut, Departemen Mikrobiologi FKH UGM tersebut mengatakan selama ini memang melakukan berbagai penelitian terkait penyakit hewan, seperti pengembangan antibodi poliklonal untuk deteksi Newcastle Disease (ND), Avian Influenza (AI), Bovine Herpes Virus pada sapi, Lumpy Skin Disease (LSD), hingga Avian Infectious Bronchitis pada ayam. Fokus penelitian tersebut, kata Untari, sebagian besar pada penyakit non-zoonosis.

"Penelitian virus zoonosis membutuhkan laboratorium dengan standar biosafety ketat agar agen penyakit tidak mencemari lingkungan. Karena itu, kami lebih banyak meneliti virus hewan yang bukan zoonosis," imbuhnya.

Baca juga: Ahli Gizi RSA UGM Berikan Tips Cegah Kenaikan Berat Badan Saat Puasa Ramadhan

Oleh karena itu, Untari mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi mengenai potensi pandemi baru dari hewan peliharaan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Tak Perlu Panik, Guru Besar UGM Ini Ungkap Coronavirus Anjing Belum Bersifat Zoonosis

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!