Wisatawan Nataru 2025 Disinyalir Lebih Pilih Jogja Ketimbang Bali, PHRI DIY Minta Jangan Aji Mumpung Nuthuk Harga
JOGJA - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyinyalir terjadi pergeseran minat wisatawan pada libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025. Sejumlah wisatawan yang semula berencana ke Bali disebut memilih Yogyakarta sebagai tujuan alternatif.
Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo Eryono, mengatakan kondisi tersebut menjadi peluang positif bagi sektor pariwisata di Yogyakarta, meski tetap perlu diantisipasi dampak ikutannya.
"Banyak yang awalnya rencana ke Bali, mengurungkan niat, lalu ke Yogyakarta. Nah ini sebetulnya menguntungkan kita, tapi kita juga harus mewaspadai, seperti kemacetan dan lain-lain itu harus diantisipasi," ujarnya kepada wartawan di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Senin (22/12/2025).
Menurut Deddy, kondisi Bali yang relatif sepi dipengaruhi kekhawatiran wisatawan pascabanjir yang melanda wilayah tersebut
"(Mungkin) Habis banjir, mereka kekhawatiran. Makanya kita pun harus waspada. Jangan sampai ada bencana bagi kita, kita tidak siap. Kita berharap tidak ada bencana di DIY," jelasnya.
Khusus periode Nataru 2025 ini, kata Deddy, PHRI DIY menargetkan tingkat okupansi hotel sebesar 80 persen. Namun, ia optimistis angka tersebut berpotensi terlampaui.
"Target kita hanya 80 persen, tapi kelihatannya dari target ini kita bisa naik," katanya.
Meski peluang kunjungan meningkat, Deddy kembali mengingatkan seluruh anggotanya agar tidak memanfaatkan momentum Nataru untuk menaikkan harga secara tidak wajar atau "aji mumpung".
"Seperti yang disampaikan Gubernur (Ngarsa Dalem) kepada kami, anggota kami dimohon tidak memanfaatkan momentum Nataru ini untuk aji mumpung. Ini adalah tempat kita untuk bisa berpromosi, memberikan hospitality yang terbaik," tegasnya.
Ia pun mencontohkan bentuk pelayanan yang baik, mulai dari keramahan hingga perhatian kecil kepada tamu.
"Ya hospitality itu, nuthtuk dan sebagainya, tapi jangan sampai berlebihan dalam arti menaikkan harga seenaknya," ucapnya.
Terkait praktik nuthuk harga, Deddy menyebut hingga saat ini belum ditemukan pelanggaran di wilayah DIY.
"Sampai saat ini belum ditemukan," katanya.
Namun demikian, sanksi tegas telah disiapkan jika ada anggota yang melanggar.
"Oh jelas ada sanksi. Bentuknya SP1, SP2, SP3 sampai dikeluarkan dari PHRI. Itu tegas, seperti tahun-tahun yang lalu. Alhamdulillah selama ini masih patuh," ungkapnya.
Sebagai bentuk pengawasan, PHRI DIY telah menetapkan batas kenaikan harga hotel selama Nataru.
"Kita sudah ada batas bawah dan batas atas. Batas atasnya 40 persen dari public rate. Itu pun berbeda-beda di tiap hotel karena ada paket-paket tertentu yang mempengaruhi harga," terang Deddy.
Pada kesempatan itu juga, pihaknya minta wisatawan untuk mewaspadai maraknya modus penipuan reservasi hotel yang biasanya muncul saat musim liburan.
"Kita sudah memberikan informasi ke calon wisatawan, reservasi harus dipastikan dengan nomor handphone resmi hotel. Bisa dicek melalui website PHRI DIY, karena Google Maps kadang-kadang dirubah oleh penipu," jelas Deddy.
Baca juga: Pemda DIY Salurkan Living Cost Rp 300 Ribu per Bulan Kepada Lebih Dari Seribu Mahasiswa Sumatra
Ia pun mengakui kasus penipuan sempat terjadi pada libur tahun lalu.
"Pernah, tahun lalu. Tapi saat ini belum ada laporan,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Doorstop