JOGJA - Sebanyak 90 mahasiswa Program Pendidikan Bahasa Jerman Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS) dengan konsep yang tidak biasa. Mereka menjalani ujian presentasi secara outdoor di kawasan Candi Prambanan, belum lama ini sebagai bagian dari penerapan pembelajaran berbasis proyek yang mengintegrasikan kajian kasus dan kemampuan komunikasi.
Sebelum pelaksanaan ujian, para peserta telah melalui persiapan intensif berupa penulisan makalah akademik dalam bahasa Jerman serta presentasi individu dan kelompok. Proses pengundian tema dilakukan tiga hari sebelumnya, pada 19 November, di ruang Cine Club Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya (FBSB) UNY.
Ujian dibagi ke dalam tiga rombongan besar yang masing-masing didampingi tiga dosen UNY yakni diantaranya Prof. Dr. Sulis Triyono, Dr. Sudarmaji, dan Dr. Phil. Aditya Rikfanto. UNY juga menghadirkan tiga penguji eksternal dari Münster University, Jerman Martina Kück, Svenja Grewing, dan Maria Haget sebagai bentuk kolaborasi akademik kedua institusi.
Apresiasi Konsep Outdoor
Para penguji dari Munster menilai suasana ujian di area candi justru membuat mahasiswa tampil lebih percaya diri.
"Lokasinya luar biasa. Suasananya santai tetapi profesional, dan itu membantu mahasiswa mengurangi rasa tegang,” ujar Martina.
Dalam ujian, mahasiswa mempresentasikan tema seputar pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka dinilai berdasarkan penguasaan materi, ketepatan tata bahasa, struktur kalimat, kefasihan, serta kemampuan komunikasi. Maria Haget menyatakan terkesan dengan performa mahasiswa UNY.
"Representasi mereka sangat terstruktur, detail, dan penguasaan tatabahasa mereka bagus sekali. Pengucapannya pun jelas,” katanya.
Ia juga menyoroti beberapa mahasiswa yang memanfaatkan media visual untuk memperkuat argumen.
Usai ujian, para peserta memanfaatkan momen berada di kompleks Candi Prambanan untuk berinteraksi dengan wisatawan mancanegara. Kegiatan spontan tersebut menjadi aplikasi nyata kemampuan berbicara bahasa Jerman di luar kelas.
Salah satu penguji, Svenja Grewing, bahkan memutuskan memperpanjang kunjungannya.
"Saya sangat terpesona dengan keindahan dan nilai budaya Prambanan. Rasanya sayang jika hanya singgah sebentar,” ujarnya.
Sementara itu, Dosen pembimbing, Prof. Dr. Sulis Triyono, mengatakan model ujian seperti ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih mendalam.
"Mahasiswa tidak hanya diuji kemampuan akademiknya, tetapi juga bagaimana mereka berkomunikasi di ruang publik dan beradaptasi dengan situasi nyata,” jelasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Di Grup WA