Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 24 NOVEMBER 2025 • 19:30 WIB

Dua Gajah Betina di Way Kambas Mati Dalam Sebulan, Ahli UGM Desak Terapkan Konsep "One Health" Agar Tak Terulang

Dua Gajah Betina di Way Kambas Mati Dalam Sebulan, Ahli UGM Desak Terapkan Konsep One Health Agar Tak TerulangPotret gajah di Taman Nasional Way Kambas (TNWK). (Istimewa)

JOGJA - Dua gajah Sumatera betina jinak di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), masing-masing bernama Dona dan Suli, dilaporkan mati hanya dalam rentang satu bulan. Keduanya mengalami penurunan kondisi akibat infeksi parasit dan sirosis hati, meski telah menjalani perawatan intensif sejak gejala awal terdeteksi.

Kepala Balai TNWK membenarkan kejadian tersebut dan menyatakan bahwa seluruh langkah penanganan medis telah dilakukan.

"Tim dokter sudah berupaya semaksimal mungkin, tetapi kondisi mereka terus memburuk,” ujarnya.

Menanggapi kejadian tersebut, Dosen Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Prof. Dr. drh. Raden Wisnu Nurcahyo, menilai kasus kematian gajah jinak di Way Kambas bukan hal baru. Menurutnya, kematian Dona dan Suli tergolong tragis karena keduanya merupakan gajah dewasa yang biasanya lebih kuat dan tidak rentan terhadap penyakit mematikan seperti EEHV.

"Dari indikasi yang ada, infeksi parasit kronis sangat mungkin menjadi penyebab utama. Gajah rutin dimandikan di sungai sehingga berpeluang terpapar siput air pembawa cacing hati," ujarnya, Senin (24/11/2025).

Ia juga menyebut bahwa kasus kematian ini menunjukkan infeksi cacing tersebut sudah berlangsung lama. Apalagi kerentanan gajah jinak yang hidup di penangkaran. Tanpa kemampuan alami mencari tanaman obat, kata Wisnu, gajah sepenuhnya bergantung pada pakan yang disediakan serta obat-obatan medis. Kondisi itu dinilai mempertinggi risiko penyakit jika sistem pemeliharaan tidak diperbaiki.

"Kalau pola pengelolaannya tidak diubah, risiko kematian berulang akan tetap ada. PLG membutuhkan sistem kesehatan gajah yang terintegrasi," jelasnya.

Baca juga: Pertanian Indonesia Terancam, Regenerasi Makin Sulit, Pakar UGM Sebut Ini Jadi Kunci Sukses Pertanian

Meski habitat Way Kambas dinilai relatif stabil, Wisnu mengingatkan bahwa kesehatan satwa tidak bisa dilepaskan dari faktor lingkungan dan aktivitas manusia. Ia menyebut konsep One Health harus diterapkan, terutama karena aliran sungai dapat tercemar parasit dari limbah ternak maupun aktivitas masyarakat.

"Itu sebabnya kami mendorong pendekatan One Health ini meliputi kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan harus dijaga bersama," tegasnya.

Selain itu, Wisnu menyoroti fasilitas rumah sakit gajah di PLG Way Kambas yang masih terbatas, terutama terkait ketersediaan obat. Ia merekomendasikan sejumlah langkah teknis, seperti mengeringkan aliran sungai untuk memutus siklus hidup siput inang cacing, melakukan penyemenan area sungai agar keberadaan siput lebih mudah dipantau, serta pemeriksaan rutin sampel feses dan darah.

"Pemeriksaan jangan menunggu ada kasus. Minimal sebulan sekali perlu dilakukan untuk pencegahan," kritiknya.

Baca juga: UGM Kembangkan Gamahumat, Solusi Tanah Subur Berbasis Batubara untuk Pertanian dan Reklamasi Lahan

Wisnu kembali menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat ketahanan kesehatan gajah di Way Kambas. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Dua Gajah Betina di Way Kambas Mati Dalam Sebulan, Ahli UGM Desak Terapkan Konsep "One Health" Agar Tak Terulang

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!