Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 24 NOVEMBER 2025 • 19:20 WIB

UGM Kembangkan Gamahumat, Solusi Tanah Subur Berbasis Batubara untuk Pertanian dan Reklamasi Lahan

UGM Kembangkan Gamahumat, Solusi Tanah Subur Berbasis Batubara untuk Pertanian dan Reklamasi LahanPanen Raya Tebu sekaligus Rembuk Tani di lahan ketahanan pangan milik TNI AU di Wotgaleh, Kalurahan Sendangtirto, Kapanewon Berbah, Sleman, Selasa (8/7/2025). (Istimewa)

JOGJA - Pemerintah mendorong percepatan pembangunan ekonomi melalui program prioritas, mulai dari swasembada pangan hingga hilirisasi komoditas strategis. Salah satu inovasi yang sejalan dengan agenda ini hadir dari Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui riset Gamahumat, yang sekaligus mendukung target net zero emission (NZE).

Guru Besar Fakultas Teknik UGM, Prof. Ferian Anggara, menyatakan riset ini memanfaatkan cadangan batu bara kalori rendah yang masih tersisa sekitar 6 miliar ton untuk sektor agroindustri.

"Dengan memanfaatkan cadangan batu bara kalori rendah, kita masih punya sumber daya besar yang bisa mendukung NZE," ujarnya dalam keterangan yang dikirim ke wartawan, Senin (24/11/2025).

Menurutnya, Gamahumat sendiri merupakan pembenah tanah berbasis lignite atau batubara peringkat rendah yang selama ini belum dimanfaatkan optimal. Melalui proses rekayasa teknik, lignite diubah menjadi humat berkualitas tinggi yang mampu memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan kesuburan. Prof. Ferian juga menyebut produk ini sebagai Gamahumat Lignite - Based Soil Stabilizer.

"Kami ingin memulihkan tanah yang sudah kehilangan kualitasnya," katanya.

Lanjut Ferian menyampaikan Humat dikenal sebagai komponen penting kesuburan tanah, sementara Gamahumat hadir sebagai versi rekayasanya dengan volume lebih besar dan kualitas terkontrol. Dalam hal ini, tanah yang menjadi bantat akibat pemupukan berulang dapat dibenahi melalui penggunaan humat

"Sederhananya, humat itu ya humus, bedanya yang kami buat volumenya jauh lebih besar dan kualitasnya bisa disesuaikan dengan kebutuhan lahan," terangnya.

Baca juga: Pemda DIY Targetkan Pengentasan Kemiskinan 1 Digit Tahun 2026, Fokus pada 18 Lokus Prioritas

Meski demikian, ia menegaskan Gamahumat bukan pengganti pupuk NPK, melainkan memperbaiki tanah agar pemupukan menjadi lebih efisien.

"Efektivitas pupuk kimia sering kali hanya 50 persen karena hilang akibat pencucian. Humat membantu memulihkan kehilangan itu melalui perbaikan kualitas tanah. Takaran penggunaan disesuaikan dengan kondisi tanah dan jenis tanaman," tegas Ferian.

Ferian menambahkan produk ini telah diuji di berbagai lahan, mulai dari perkebunan sawit Bukit Asam, kawasan karst, hingga area bekas tambang dengan tingkat keasaman tinggi. Di sektor pertambangan, kebutuhan humat sangat besar karena perusahaan wajib mereklamasi ratusan hektar lahan setiap tahun.

"Bayangkan itu baru dari satu perusahaan, lahan bekasnya bisa digunakan untuk mendukung pertanian maupun perkebunan berikutnya," tuturnya.

Baca juga: Pertanian Indonesia Terancam, Regenerasi Makin Sulit, Pakar UGM Sebut Ini Jadi Kunci Sukses Pertanian

Saat ini, Gamahumat telah memperoleh sertifikasi produk grade A dari Kementerian Pertanian. Inovasi ini diharapkan menjadi solusi bagi pengelolaan lahan ekstrem, reklamasi tambang, dan pembukaan lahan untuk ketahanan pangan di masa depan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

UGM Kembangkan Gamahumat, Solusi Tanah Subur Berbasis Batubara untuk Pertanian dan Reklamasi Lahan

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!