Selasa, 25 NOVEMBER 2025 • 12:50 WIB

Penderita Alzheimer di Indonesia Capai 4,2 Juta, Pakar UGM Kenalkan Metode "Mas OK" Cegah Alzheimer

Author

(Ilustrasi) Penderita Alzheimer. (Istimewa)

JOGJA - Jumlah penderita Alzheimer di Indonesia terus meningkat seiring bertambahnya populasi lanjut usia (lansia). Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 4,2 juta warga Indonesia mengalami Alzheimer, menjadikannya salah satu ancaman kesehatan utama di tengah proses penuaan masyarakat.

Dokter geriatri Universitas Gadjah Mada (UGM), DR. dr. Probosuseno, Sp.PD-KGer(K), FINASIM., SE., MM., menjelaskan bahwa Alzheimer merupakan penyakit degeneratif yang muncul akibat kerusakan jaringan otak, terutama pada jalur penghantar sinyal saraf. Kondisi ini berdampak pada kemampuan berpikir, memori, hingga perilaku penderitanya.

"Alzheimer terjadi ketika jaringan otak yang berperan dalam proses berpikir mengalami kerusakan, sehingga kemampuan kognitif menurun secara bertahap," ujar dr. Probo, Selasa (25/11/2025).

Ia menyebut ada 15 faktor risiko yang bisa meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami Alzheimer. Daftar tersebut meliputi diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, obesitas, paparan polusi, kebiasaan merokok, depresi, pendidikan rendah, gangguan pendengaran dan penglihatan, kurang berolahraga, minim interaksi sosial, riwayat cedera kepala, kurang paparan cahaya matahari, hingga jarang melakukan aktivitas di luar ruangan.

"Faktor-faktor ini tidak membuat seseorang pasti mengalami Alzheimer, tapi jelas meningkatkan risiko demensia,” tegasnya.

Baca juga: UGM Kembangkan Gamahumat, Solusi Tanah Subur Berbasis Batubara untuk Pertanian dan Reklamasi Lahan

Berjalan 30 Menit Sehari

Dr. Probo menekankan bahwa aktivitas fisik merupakan cara paling mudah sekaligus efektif untuk menurunkan risiko Alzheimer. Tidak diperlukan olahraga berat; cukup berjalan kaki selama 30 menit per hari.

Ia menyebut target langkah dapat menyesuaikan usia, yakni 3.000 - 5.000 langkah untuk lansia dan 5.000 - 7.000 langkah untuk usia muda. Aktivitas fisik pun tidak harus dilakukan sekaligus.

"Tidak wajib langsung 30 menit. Bisa dicicil, misalnya 10 menit di pagi hari dan 7 menit sore, asal totalnya setengah jam,” katanya.

Ia juga menyarankan waktu olahraga pada pukul 07.00 - 10.00, karena cahaya matahari pagi membantu mengatur hormon suasana hati dan meningkatkan kualitas tidur.

Khusus lansia dengan keterbatasan gerak, ia menyarankan aktivitas yang lebih ringan, seperti senam otak, latihan otot sederhana, atau gerakan tubuh dasar.

"Yang penting tubuh tetap aktif. Kurang gerak justru mempercepat munculnya demensia," sambungnya.

Mengenal Metode “MAS OK

Kendati demikian, dr. Probo memperkenalkan metode “MAS OK”, metode ini sebagai langkah pencegahan Alzheimer sejak dini yakni diantaranya :

  • M (Mother of Learning): membiasakan otak aktif melalui membaca, mendengarkan, menulis, dan menjelaskan ulang.
  • A (Agama): doa, sujud, dan aktivitas spiritual untuk menstabilkan pikiran.
  • S (Seni dan Sosial): keterlibatan dalam kegiatan seni dan interaksi sosial guna menjaga kesehatan mental.

Baca juga: Dua Gajah Betina di Way Kambas Mati Dalam Sebulan, Ahli UGM Desak Terapkan Konsep "One Health" Agar Tak Terulang

Selain itu, ia merangkum pola hidup sehat lewat rumus “OK”, yang mencakup kedisiplinan minum obat bagi penderita penyakit kronis, melakukan kontrol kesehatan rutin, membawa identitas lansia, menjaga interaksi sosial, serta berolahraga secara konsisten.

"Penanganan dan pencegahan demensia sangat bergantung pada penyebabnya. Tidak ada satu pola yang cocok untuk semua orang," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU