Warga Panjatkan Doa di Makam Raja Imogiri, Ikatan Batin Leluhur Abdi Dalem Hingga Keikhlasan Tukang Ojek Warnai Takziah PB XIII
JOGJA - Suasana haru menyelimuti kompleks Makam Raja-Raja Mataram Imogiri, Bantul, Rabu (5/11). Sejak pagi, ribuan warga memadati area pemakaman untuk memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang Kanjeng Gusti Paku Buwono (PB) XIII, Raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Salah satu pelayat, Bunda Dewi (39), warga Bambanglipuro, Bantul, mengaku datang bersama dua rekannya sejak pukul 09.00 WIB. Ia menyebut, kehadirannya di makam bukan sekadar bentuk duka cita, melainkan juga panggilan batin sebagai bagian dari trah abdi dalem Keraton Yogyakarta.
"Tujuan kami ke sini untuk melayat, ndherek bela sungkawa. Jogja - Solo itu satu persaudaraan. Keluarga kami memang trah Abdi Dalem Jogja, jadi pusaka-pusaka leluhur masih kami simpan di rumah. Kalau ada peristiwa seperti ini, rasanya ada panggilan dari hati untuk sowan dan mendoakan," ujarnya dilokasi.
Dewi menambahkan, tradisi spiritual keluarganya telah berlangsung turun - temurun. Sehingga, ia merasa memiliki ikatan batin dengan sosok raja Solo karena garis keturunan dan nilai-nilai mistis yang diwariskan leluhurnya.
"Kaki ini sudah melangkah sendiri. Darah mistis dari simbah-simbah dulu masih mengalir. Nanti kalau saya sudah tidak ada, mungkin anak atau cucu saya yang akan meneruskan," ucapnya.
Sementara itu, di tengah padatnya peziarah, para tukang ojek makam Imogiri juga menunjukkan keikhlasan mereka. Selama prosesi pemakaman, seluruh akses menuju puncak makam ditutup dan kendaraan dilarang naik sesuai aturan dari pihak keraton.
Baca juga: Solusi Pustral UGM Soal Maraknya Kecelakaan Transportasi
Nurhadi, salah satu pengojek senior di kawasan tersebut, mengatakan para anggota paguyuban PPWI (Paguyuban Pengantar Wisata Imogiri) sepakat menghentikan sementara aktivitas ojek sebagai bentuk penghormatan.
"Dari pagi masih sempat narik satu dua kali, tapi setelah jam sembilan sudah steril. Kita patuhi aturan keraton, enggak boleh naik, ya sudah. Sekarang fokusnya bukan cari uang, tapi ikut berkabung," tuturnya.
Menurut Nurhadi, biasanya setiap pengojek bisa mengantongi Rp 100 ribu di akhir pekan. Namun khusus hari ini, mereka rela tidak berpenghasilan demi menghormati prosesi pemakaman raja.
"Iya harus ikhlas gitu. Kita numpang hidup di makam ini, jadi kalau ada raja dimakamkan, ya kita ikut berduka. Sekalipun enggak bisa ngojek, tetap takziah. Semua sudah siap, bukan siap kerja tapi siap berduka," ucapnya dengan nada tulus.
Sekitar 50 tukang ojek yang tergabung dalam PPWI tersebut memilih berada di sekitar area bawah makam, sembari membantu mengatur parkir dan menjaga ketertiban.
"Biasanya kita mulai ngojek jam 9 sampai selesainya ada tamu. Misalnya ada rombongan bis, misalnya kok kita mau pulang jam 5 misalnya ya. Kebetulan ada bis datang dari rombongan dari Magelang atau dari mana ya kita tetap terusin kalau pada ngojek. Tapi Kadang ya sepi, belum jam 3 sudah pada pulang," pungkas Nurhadi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Dan Wawancara Langsung