Orang utan. (Istimewa (via e-mail))
JOGJA - Peneliti Parasitologi Hewan dari Masaryk University, Republik Ceko, Prof. MVDr. Ivona Foitova, Ph.D., mengungkap jenis parasit yang dapat menyerang orang utan dan berpotensi menyerang manusia karena keduanya memiliki kemiripan genetik.
Hal ini diungkapkannya dalam kuliah umum bertajuk Wildlife Parasites yang digelar di Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Senin (3/11/2025), Ivona menyebut bahwa terdapat tiga jenis parasit yang ditemukan pada orang utan, yaitu Pongobus hugot, Mammomonogamus laryngeus, dan Balantidium coli. Khusus Balantidium coli tercatat memiliki tingkat kematian yang tinggi bagi orang utan.
Ivona juga menyoroti perilaku orang utan dalam mencegah infeksi parasit, yang dikenal sebagai swamedikasi.
"Perilaku ini mencakup mengunyah bahan abnormal, menelan daun, hingga mengoleskan berbagai bahan pada tubuh. Ada korelasi antara konsumsi tumbuhan tertentu dengan penurunan parasit pada orang utan," ujarnya.
Menurut Ivona, penelitian ini tidak hanya bermanfaat bagi konservasi orang utan, tetapi juga bagi manusia.
"Karena orang utan memiliki genetik yang mirip dengan manusia, informasi ini dapat dimanfaatkan dalam penelitian kesehatan manusia,” katanya.
Pada kuliah umum ini juga menghadirkan drh. Aji Winarso, M.Si., dari Universitas Nusa Cendana, dan drh. Lintang Firdausy dari UGM, yang membahas parasit pada hewan konservasi Indonesia seperti orang utan, gajah, dan komodo.
Baca juga: 3 Tewas Dan Salah Satu Korban Luka Bayi 2 Bulan Dalam Kecelakaan Maut KA Bangunkarta di DIY
Lintang menjelaskan bahwa gajah di Sumatera dan Kalimantan memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem hutan. Namun, aktivitas manusia seperti penambangan dan illegal logging meningkatkan risiko penularan penyakit antara manusia dan gajah.
“Infeksi Elephant Endotheliotropic Herpesvirus (EEHV) merupakan infeksi fatal yang paling sering menjangkit anak gajah. Virus ini dapat mematikan anak gajah dalam 24 jam setelah terjangkit,” ungkap Lintang.
Selain itu, gajah juga rentan terhadap endoparasit, ektoparasit, dan tuberkulosis akibat interaksi dengan manusia.
Sementara itu, drh. Aji Winarso mengungkap kondisi komodo yang masih minim data penyakit. Dari sampel feses dan darah komodo, ditemukan cacing pita, ektoparasit, parasit darah, hingga miasis atau infestasi belatung akibat luka.
"Kami juga menemukan Hepatozoon dalam eritrosit berinti komodo, serta miasis yang muncul akibat perkelahian antar jantan," beber Aji.
Baca juga: Maraknya Fotografi Jalanan, Sosiolog UGM Soroti Privasi Warga Korea Selatan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Melalui E-mail