UGM Kenalkan Produk Gamagora 7 Kepada Warga Klaten Dalam Rembug Sesarengan, Inovasi Padi Tahan Iklim Dan Produk Premium Atasi Stunting
JOGJA - Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali meneguhkan komitmennya untuk menghadirkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat melalui kegiatan Rembug Sesarengan bertemakan "Ngolah Ilmu, Nandur Harapan" yang digelar di Desa Sekaran, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten, Rabu (29/10/2025).
Acara tersebut dihadiri masyarakat, akademisi, dan pemerintah daerah ini menjadi wadah sinergi antara hasil riset kampus dengan kebutuhan masyarakat, khususnya di sektor pertanian dan ketahanan pangan. Hadir dalam kegiatan tersebut Staf Ahli Bupati Klaten, Joko Istanto, S.H., M.Si. yang mewakili Plh. Bupati Klaten, Camat Wonosari Sri Wahyuningsih, S.Psi, serta sejumlah warga dan petani setempat.
Sementara dari pihak UGM, hadir para peneliti dan akademisi, di antaranya Prof. Himawan Tri Bayu Murti Petrus, S.T., M.E., D.Eng., Dr. Andrianto Ansari, S.T.P., M.Agr., Ph.D., serta Cahyo Wulandari selaku peneliti Gamahumat.
Dalam sambutann Plh Bupati Klaten, yang diwakili Joko Istanto menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan Rembug Sesarengan oleh UGM yang dinilai menjadi langkah nyata menghadirkan hasil riset ke tengah masyarakat.
"Atas nama pribadi, masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Klaten, kami menyambut baik dan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Universitas Gadjah Mada yang menyelenggarakan acara Rembug Sesarengan sebagai komitmen untuk menghadirkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat," ujar Joko dihadapan warga serta jajaran akademisi UGM
Joko menyampaikan, Kabupaten Klaten memiliki potensi besar di sektor pertanian. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Klaten, luas lahan sawah mencapai 33.435 hektar, dengan target tanam padi 90.213 hektar pada tahun 2025. Produksi padi pada Januari - April 2025 tercatat 178.592 ton dari 28.348 hektar luas panen.
Menurutnya, saat ini Klaten tengah mengembangkan varietas padi unggulan Rojolele Srinuk, hasil rekayasa bersama Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN).
"Padi Rojolele Srinuk ini punya keunggulan masa tanam lebih pendek, batang lebih tahan roboh, namun tetap mempertahankan rasa pulen dan wangi khas Rojolele asli," jelasnya.
Menurutnya, penerapan hasil riset sangat penting untuk menjawab tantangan pertanian tradisional yang masih dominan di Klaten.
"Melalui Rembug Sesarengan ini, kami berharap hasil riset UGM tidak berhenti di ruang akademik semata, tetapi dapat dibumikan dan dimanfaatkan petani untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat," tutur Joko.
Ditemui usai memaparkan kepada warga setempat, Guru Besar Fakultas Pertanian UGM sekaligus peneliti varietas padi Gamagora 7, Prof. Dr. Ir. Taryono, menjelaskan bahwa varietas tersebut menjadi salah satu inovasi unggulan UGM untuk menjawab tantangan perubahan iklim dan stunting di Indonesia.
"Gamagora 7 adalah hasil rakitan UGM sendiri. Kelebihannya, umur panen sangat pendek dimana hanya 95 hari pada musim hujan dan 85 hari saat kemarau," ujar Prof. Taryono kepada wartawan usai acara.
Mengandung Banyak Nutrisi
Selain itu, kata Taryono, produktivitasnya tinggi, bisa mencapai 9 - 10 ton gabah kering giling per hektare di lahan dengan kondisi optimal. Di Klaten sendiri, hasil panen Gamapora 7 rata-rata 6–7 ton per hektare, tergantung kondisi hama.
"Yang menarik, nasi Gamagora 7 rasanya pulen dan kandungan gizinya tinggi seperti kaya protein, zat besi, dan zinc. Ini diharapkan bisa membantu mengatasi masalah stunting," sebutnya.
Prof. Taryono menambahkan, Gamagora 7 juga mampu beradaptasi di berbagai kondisi lahan, termasuk tadah hujan.
"Varietas ini punya kemampuan recovery yang baik, sehingga risiko gagal panen akibat kekurangan air sangat rendah. Karena itu, banyak daerah kini mulai mengadopsinya sebagai varietas pergiliran untuk meningkatkan indeks pertanaman dari dua kali menjadi tiga kali setahun," imbuh Taryono.
Saat ini, lanjut Prof Taryono, beras Gamagora 7 saat ini dijual terbatas di pasar premium di Yogyakarta, Jakarta, Semarang, dan Surabaya, dengan harga sekitar Rp17.000 per kilogram.
"Kami menjual mutu. Konsumen yang sudah mencoba biasanya tidak mau beralih ke beras lain meskipun harganya naik," tuturnya.
Kendati demikian, melalui kegiatan Rembug Sesarengan ini, UGM berupaya mendekatkan hasil riset kepada masyarakat desa agar tidak berhenti di ranah akademik.
"Rembug Sesarengan menjadi wadah bersama untuk mengolah ilmu, menanam harapan, dan memperkuat ketahanan pangan berbasis riset," tandas Prof Taryono.
Sebagai salah satu Peneliti Gamapora 7 UGM lainnya, Dr. Andrianto Ansari, S.T.P., M.Agr., Ph.D., menambahkan bahwa dari varietas Gamagora 7 juga lahir produk turunan bernama "Risokasi" yakni beras premium kaya gizi.
"Salah satu keluaran dari Gamagora adalah risokasi, yaitu premium rice kaya gizi. Kami menyebutnya beras premium dengan kandungan protein, vitamin, dan mineral tinggi," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Dan Wawancara Langsung