Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Rabu, 29 OKTOBER 2025 • 16:25 WIB

Dinkes Sleman Update Kasus Keracunan Massal di Mlati Hingga Sebut Seluruh SPPG Masih Jalani Proses Sertifikasi SLHS

Dinkes Sleman Update Kasus Keracunan Massal di Mlati Hingga Sebut Seluruh SPPG Masih Jalani Proses Sertifikasi SLHSPotret SPPG di Mlati, Sleman (Olivia Rianjani)

JOGJA - Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman mencatat sebanyak 198 orang terdampak kasus keracunan massal makanan (MBG) yang terjadi pekan lalu. Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Cahya Purnama, menyebutkan korban tersebar di beberapa sekolah dengan gejala mulai dari mual, muntah, hingga diare.

"Total yang rawat jalan ada 59 orang. Kemudian yang berobat mandiri itu 120 orang. Yang melakukan rawat jalan di Rumah Sakit Sakina Idaman ada 18 orang, dan satu orang menjalani rawat inap di RSA UGM," ujar Cahya, Senin (28/10/2025).

Cahya menyampaikan, sampel makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan telah diambil dari beberapa sekolah, di antaranya SMP Negeri 2 Mlati, MAN 3 Mlati, dan SD Jombor Lor.

"Sampel yang kita ambil meliputi tahu balado, opor ayam, nasi, acar wortel, dan anggur. Hasilnya belum keluar karena proses uji laboratorium biasanya memakan waktu satu minggu sampai sepuluh hari," jelasnya.

Cahya menegaskan, pemeriksaan laboratorium itu dilakukan untuk mengetahui jenis bakteri penyebab keracunan.

"Kalau untuk melihat kandungan bakteri memang tidak bisa serta-merta. Sampel makanan itu perlu dibiarkan dulu untuk melihat perkembangan bakterinya," jelasnya.

Baca juga: Cerita Roro, Lulus Doktor UGM Hanya dalam 2 Tahun 10 Bulan, Jadi Wisudawan Tercepat

Sementara pemeriksaan cepat di dapur penyelenggara makanan dilakukan oleh petugas gizi dan pihak sekolah menggunakan metode organoleptik.

"Kalau di dapur itu hanya dicek dengan panca indera, misalnya dilihat apakah berlendir, diraba, atau dicicipi apakah basi. Tapi itu hanya pemeriksaan awal, bukan untuk mengetahui kandungan bakteri," terang Cahya.

Ia menyebut, pemeriksaan sampel telah dilakukan oleh Puskesmas Mlati 1, dan saat ini pemerintah daerah mempercepat pelatihan serta sertifikasi keamanan pangan bagi penyelenggara pangan institusi (SPPG).

"Pemkab sedang memproses dan mempercepat pelatihan ketahanan pangan lewat LMS dari pusat. Biasanya dilakukan Sabtu - Minggu, dan setelah lulus nanti keluar sertifikatnya," ungkapnya.

Baca juga: Update Terbaru Kasus DBD di Sleman Capai 383 Kasus, Dinkes : Tak Ada Korban Meninggal Berkat Program Wolbachia

Terkait Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), Cahya menjelaskan bahwa seluruh SPPG di Sleman saat ini masih dalam tahap proses sertifikasi. Lantaran belum ada sejak dilakukannya program unggulan Presiden Prabowo Subianto tersebut.

 “Yang sudah berproses banyak, tapi yang sudah keluar belum. Karena setelah mendapat sertifikat keamanan pangan (PKP), harus ada uji lab makanan dan pengunggahan data ke OSS sebelum SLHS diterbitkan," pungkas Cahya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Dan Wawancara Langsung

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Dinkes Sleman Update Kasus Keracunan Massal di Mlati Hingga Sebut Seluruh SPPG Masih Jalani Proses Sertifikasi SLHS

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!