Kamis, 30 OKTOBER 2025 • 08:55 WIB

Lagi! Sebanyak 625 Siswa Dan Guru di Gunungkidul Keracunan MBG, Bupati Tinjau SPPG Terduga Dan Pertimbangkan Jadi KLB?

Author

Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, saat meninjau SPPG yang diduga jadi pemicu keracunan massal, pada Rabu (29/10/2025)." data-author="Istimewa" data-credit="Istimewa" data-source="Liputan Langsung">Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, saat meninjau SPPG yang diduga jadi pemicu keracunan massal, pada Rabu (29/10/2025). (Istimewa)

JOGJA - Kasus keracunan massal kembali terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), kali ini merebak di Kabupaten Gunungkidul dimana sebanyak 625 siswa dari dua sekolah di Kecamatan Saptosari, yakni SMKN 1 Saptosari dan SMPN 1 Saptosari, dilaporkan mengalami dugaan gejala keracunan makanan setelah menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dari total 1.154 siswa SMKN 1 Saptosari, sebanyak 476 siswa dan 10 guru terdampak. Selain itu, 33 siswa pada Rabu 29 Oktober 2025 tercatat izin tidak masuk sekolah, meski belum dipastikan apakah juga mengalami keracunan. Sementara itu, dari 420 siswa SMPN 1 Saptosari, 186 di antaranya mengalami gejala serupa.

Melihat kondisi tersebut, Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, langsung meninjau lokasi dugaan penyebabnya dan melakukan pemeriksaan ke dapur penyedia makanan MBG tersebut. Ia menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap bahan baku dan proses memasak agar kejadian serupa tidak terulang.

"Tadi kami sudah mengecek bahan bakunya, baik yang basah maupun yang kering. Kami juga lihat tempat memasak nasi, mencuci piring, hingga sistem pendinginan makanan. Dari hasil pemeriksaan, masih ditemukan indikasi air yang mengandung bakteri E. coli,” ujar Endah kepada awak media saat ditemui di lokasi, Rabu (29/10/2025).

Endah menjelaskan bahwa bakteri E. coli bisa menjadi penyebab utama diare dan gangguan pencernaan, terutama pada anak-anak. Karena itu, pihaknya meminta agar seluruh dapur penyedia makanan di Gunungkidul memperhatikan higienitas air dan peralatan masak.

"Kalau airnya masih mengandung E. coli, itu bahaya. Apalagi kalau makanan masih panas langsung ditutup, uap dari nasi, sayur, dan lauk bisa memicu munculnya jamur dan bakteri," jelasnya.

Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya peran Satuan Petugas Program Gizi (SPPG) dalam memastikan bahan makanan yang digunakan bena - benar layak konsumsi. Ia menegaskan, memasak untuk anak sekolah bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk tanggung jawab moral.

"Masak itu harus pakai bonding, alias pakai perasaan. Kalau ada bahan yang terasa tidak layak, jangan diteruskan. Ini bukan soal marah, tapi soal nyawa anak-anak kita," tegas Endah.

Endah bahkan mengaku sempat panik saat menerima laporan lonjakan jumlah siswa yang keracunan. Awalnya hanya dilaporkan 225 kasus, namun jumlahnya terus bertambah hingga ratusan siswa.

"Waktu saya dengar sudah 225, saya langsung gemetar. Saya perintahkan semua Puskesmas siaga, ambulance disiapkan, dan tidak boleh ada yang pulang sebelum dapat informasi dari Kepala Dinas," ujarnya.

Baca juga: Update Terbaru Kasus DBD di Sleman Capai 383 Kasus, Dinkes : Tak Ada Korban Meninggal Berkat Program Wolbachia

Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, saat menjenguk korban dugaan keracunan massal MBG, Rabu (29/10/2025) (Istimewa)

Meski jumlah kasus mencapai ratusan, Endah menyebut belum ada penetapan status Kejadian Luar Biasa (KLB) lantaran sebagian besar pasien sudah pulang dan dirawat di rumah. Namun, Pemkab tetap menyiagakan fasilitas kesehatan dan tim medis di setiap Puskesmas.

"Kami masih menunggu perkembangan. Para siswa ini Ada yang tubuhnya kuat jadi gejalanya lambat muncul, tapi semoga semua segera pulih," katanya.

Terkait biaya pengobatan, Endah menjelaskan bahwa kasus keracunan tidak masuk dalam kategori penyakit yang ditanggung BPJS. Namun Pemkab Gunungkidul telah menyiapkan anggaran Rp 100 juta untuk membantu penanganan darurat para siswa.

"Keracunan memang tidak ditanggung BPJS, tapi kami sudah siapkan dana Rp100 juta untuk biaya penanganan anak-anak yang harus dirawat," terangnya.

Baca juga: Dinkes Sleman Update Kasus Keracunan Massal di Mlati Hingga Sebut Seluruh SPPG Masih Jalani Proses Sertifikasi SLHS

Endah kembali mengingatkan agar seluruh dapur penyedia MBG di Gunungkidul melakukan evaluasi menyeluruh, mulai dari proses pencucian peralatan, pengolahan bahan makanan, hingga distribusi ke sekolah.

"Ini jadi cambuk bagi kita semua. Dari kepala dapur sampai juru masak harus sadar bahwa kebersihan itu utama. Jangan sampai piring yang masih basah diisi makanan, karena jamur dan bakteri bisa tumbuh di situ," pungkas Endah.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Dan Wawancara Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU