Senin, 27 OKTOBER 2025 • 15:00 WIB

Yayasan Mitra Karya Maporina Klarifikasi Dugaan Keracunan Opor Ayam Pada Lauk MBG Di Tiga Sekolah Mlati Sleman: “Selama Dua Bulan Tidak Ada Masalah”

Author

Siswa diduga keracunan lauk MBG saat dirujuk ke Puskesmas Mlati 1, Sleman, Jumat (24/10/2025). (Olivia Rianjani)

JOGJA - Yayasan Mitra Karya Maporina, yang membawahi SPPG Sinduadi di Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, memberikan klarifikasi terkait dugaan keracunan lauk MBG yang dialami sejumlah siswa di tiga sekolah, yakni SD, MAN, dan SMP di Mlati.

Menurut Pembina Yayasan, Retna Susanti, hingga saat ini pihaknya belum dapat memastikan penyebab kejadian karena masih menunggu hasil penelitian laboratorium.

Bukan keracunan, karena kita belum tahu ya apakah kena bakteri atau apa, jadi saya belum bisa memastikan kalau terkait keracunan. Saya tidak bikin pernyataan keracunan, ini masih diteliti,” ujarnya kepada wartawan belum lama ini.

Retna menjelaskan bahwa menu opor ayam yang diduga menjadi pemicu telah dijalankan dalam program SPPG selama dua bulan terakhir tanpa menimbulkan masalah sebelumnya.

Selama dua bulan itu tidak ada masalah. Ini baru dalam proses penelitian. Jadi kita belum bisa memastikan apakah itu ada racun atau ada bakteri, kita masih menunggu konfirmasi,” katanya.

Baca juga: Lagi, Keracunan Massal Diduga Konsumsi Lauk MBG Di Tiga Sekolah Mlati Sleman, 1 Dirujuk di RSA UGM

Terkait operasional pada 24 Oktober 2025, salah satu sekolah tetap menerima makanan MBG. Retna merinci jumlah pada tanggal itu yakni Kloter I jam 07.30 sebanyak 1.887 porsi, Kloter II jam 09.30 sebanyak 1.523 porsi. Yang ditarik yaitu SMPN 2 Mlati dan MAN 3, sedangkan Kloter II yang menerima MTSM tetap menerima.

Ia juga menekankan bahwa semua makanan dimasak segar setiap hari, dengan prosedur pengolahan yang memenuhi standar MBG, serta pengawasan ahli gizi dan chef bersertifikasi.

"Bahan kita enggak ada yang dibekukan, jadi semuanya fresh. Kita juga sudah mengundang ahli gizi dan ahli makanan dari UGM untuk pelatihan terkait higienitas, supaya makanan aman,” jelasnya.

Soal langkah selanjutnya, pihak yayasan masih menunggu rekomendasi dari Dinas Kesehatan, Puskesmas, dan laboratorium.

Kalau besok untuk sekolah-sekolah yang terdampak, kita masih menunggu penelitian dari pihak terkait. Belum ada kepastian terkait operasional,” imbuh Retna.

Baca juga: Separuh Siswanya Jadi Salah Satu Korban Keracunan Massal Dugaan Lauk MBG, Kepsek SMPN2 Mlati Sleman Akan Pertimbangkan Terima MBG

Kendati begitu, yayasan juga memastikan bahwa sisa makanan yang tidak disalurkan akan dibuang sesuai ketentuan dan tidak digunakan kembali.

"Kalau sudah terlanjur dimasak dan ditarik, sudah masuk kategori sampah,” pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wawancara Daring

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU