Selasa, 07 OKTOBER 2025 • 18:15 WIB

Sambutan Positif Warga Hingga Wisatawan Pada CFD Malioboro Dalam Rangka HUT Kota Jogja 269, Walikota Hasto Harap CFD Digelar Rutin

Author

Momen kawasan Malioboro bebas kendaraan bermotor 24 jam hari ini (7/10/2025) dalam rangka HUT Kota Jogja ke 269. (Olivia Rianjani)

JOGJA - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta resmi memberlakukan Car Free Day (CFD) selama 24 jam penuh di kawasan Jalan Malioboro, Selasa (7/10/2025), bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-269 Kota Yogyakarta. Langkah ini merupakan bagian dari uji coba menjadikan Malioboro sebagai kawasan pedestrian murni tanpa kendaraan bermotor.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyatakan bahwa CFD ini merupakan simulasi nyata untuk melihat dampak jika Malioboro ditetapkan sebagai kawasan bebas kendaraan sepenuhnya.

Ya, kita memang ingin melihat dampaknya ya. Seperti apa kalau kita bikin Car Free Day full ya, full pedestrian gitu. Saya akan melihat nanti laporannya seperti apa, mulai tadi malam, kemudian tadi pagi, kemudian siang, kemudian sore ini, nanti masih malam lagi itu seperti apa,” ujar Hasto saat ditemui di kawasan Malioboro sore ini.

Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya evaluasi menyeluruh untuk mengetahui tantangan yang mungkin dihadapi jika CFD ini dijadikan agenda rutin, termasuk soal akses warga dan distribusi logistik.

Saya kira ini penting untuk mengevaluasi dan sekaligus untuk merencanakan kalau seandainya kita mau Car Free Day, apa saja masalah yang harus kita atasi. Saya yakin ini kan di balai ini kan ada banyak masalah. Tak itu masalah ada yang harus minta akses, ada masalah logistik atau masalah warga yang memang harus pulang ke rumahnya, tapi tidak dapat akses, misalnya begitu kan, kelihatan di titik-titik mana yang kemudian menjadi masalah,” tuturnya.

Meskipun kendaraan bermotor dilarang, Pemkot tetap memberikan pengecualian untuk kendaraan logistik dengan waktu terbatas serta kendaraan umum seperti TransJogja.

Kendaraan yang boleh melintas hanya TransJogja, cuma kan ada warga yang memang khususnya mau masalah logistik kan harus dikasih jam-jam tertentu. Jam kapan kita bisa memberi kesempatan pada mereka untuk dropping logistik, misalnya ada hotel, ada toko, ada yang memang membutuhkan support logistik, ada restoran, yang mau tidak mau harus pakai kendaraan,” jelasnya.

Sementara itu, kendaraan tradisional tanpa mesin tetap diizinkan masuk sebagai bagian dari identitas budaya lokal.

Kendaraan tradisional juga diperbolehkan, kan itu tanpa motor ya kan, misal becak kayuh kan tanpa motor kan, ini namanya car free day ya, jadi ya full pedestrian car free day kan maksudnya ya boleh tapi ya tanpa motor lah ya,” tambah Hasto.

Uji coba ini baru dilakukan satu kali, namun ke depan Hasto membuka peluang untuk menjadikannya kegiatan rutin.

"Iya (ada rutin), kan tujuannya itu. Tujuannya untuk kalau nanti dirutinkan itu seperti apa, terus lama-lama kan bisa lebih banyak space waktu,” ucapnya.

Mengenai respon masyarakat, Hasto menilai masih terlalu dini untuk disimpulkan. Namun ia menekankan pentingnya pengaturan lalu lintas dan ketersediaan kantong parkir ke depannya.

"Saya belum bisa katakan, jadi terlalu dini saya kira, nanti sampai nanti sore. Dan sebetulnya kalau ke depan kan saya berharap ada kantong-kantong parkir tambahan. Insyaallah lah ada kantong-kantong parkir tambahan yang tidak harus parkirnya di selatan stasiun itu, pakai apa itu, yang vale,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kebudayaan) Yogyakarta, Yetti Martanti, menyebut pelaksanaan CFD berjalan lancar dan mayoritas warga mengikuti aturan dengan baik.

Ya, Alhamdulillah memang semuanya aktivitasnya berjalan kaki. Dan kalau misalnya terpaksanya ada kendaraan itu sifatnya loading dan juga ada kartu aksesnya. Nah, itu sifatnya toko-toko saja. Toko-toko ataupun kalau misalnya yang pemilik hotel yang ada di sirip-sirip memang mereka langsung lewat jalan yang langsung dari sana,” ujar Yetti.

Walikota Hasto Wardoyo bersama Wawali Wawna Harmawan saat memantau langsung CFD di Malioboro, pada Selasa (7/10/2025). (Olivia Rianjani)

Ia juga menambahkan bahwa kendaraan bermotor tidak tampak di kawasan utama Malioboro, kecuali untuk aktivitas logistik terbatas.

Jadi, di sini berjalan kaki semuanya dan Alhamdulillah juga semua kendaraan bermotor tidak ada di sini. Kecuali yang memang tadi ada loading, kemudian juga ada proses dia melakukan aktivitas yang memang penghuni di sini. Jadi becak pun, becak kayu, andong itu tradisional semuanya ada di sini,” jelasnya.

CFD ini juga menjadi ruang ekspresi bagi pelaku seni dan budaya lokal. Terdapat sejumlah titik atraksi seni yang sudah mulai difungsikan sejak hari ini.

Baca juga: Bu Tejo "Tilik" Ikut Aksi Emak-Emak di Bunderan UGM, Kritik Keras Program Makan Bergizi Gratis

Jadi banyak aktivitas olahraga tadi pagi, kemudian yang sore ini banyak ada aktivitas, ada aktivitas di titik 0 dari Sekber kalau nggak salah ya. Kemudian juga kebetulan ini adalah hari pertama titik atraksi, titik atraksi yang dimanfaatkan oleh teman-teman pekerja, pelaku seni dan pengamen. Jadi di Malioboro ada 5 titik atraksi, kemudian di Mangkubumi ada 2", lanjut Yetti.

Jadi dimulai hari ini jam 5 tadi rencananya sudah mau dimanfaatkan untuk mereka perform baik pengamen ataupun pekerja seni yang ditandai dengan kebetulan ada teman-teman kampung menari yang nanti sebelum mengamen itu,” imbuhnya.

Baca juga: Perjalanan Kereta Makin Nyaman dengan Stainless Steel New Generation, Berikut Kereta yang Naik dan Turun di Daop 6 Yogya

Sejumlah warga dan pengunjung Malioboro pun menyambut positif kebijakan CFD ini. Salah satunya, Aldilatul Alfa, mahasiswi asal Sragen yang mengaku merasa lebih nyaman berjalan kaki di Malioboro.

"Nyaman banget. Biasanya kita lihat Malioboro kan penuh (kendaraan), jadi males lewat. Karena hari ini Car Free Day jalannya jadi beda, jadi lebih kayak adem tentram,” ujar Alfa.

Senada dengan Alfa, Ainan Fiha Salsabila, mahasiswi asal Purwokerto, juga berharap CFD bisa terus dilanjutkan karena membuat suasana lebih damai dan menyenangkan.

Lebih senang kayak gini soalnya lebih tenang aja buat jalan-jalan santai. Kalau banyak kendaraan capek lihatnya,” katanya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU