Potret mahasiswa UGM yang membuat Model Hybrid Pengelolaan Sampah. (Istimewa (via e-mail))
JOGJA - Isu pengelolaan sampah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali mencuat setelah ditutupnya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan pada 2024. Kondisi ini memicu penumpukan sampah di berbagai titik dan menuntut terobosan baru dalam sistem pengelolaan sampah. Menjawab tantangan itu, sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) tengah mengembangkan model pengelolaan sampah berbasis partisipasi komunitas di tingkat desa.
Tim yang berasal dari Jurusan Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM ini melakukan studi kasus di dua lokasi yakni Desa Panggungharjo di Bantul dan Desa Sinduadi di Sleman. Penelitian mereka mencoba merumuskan model hybrid atau gabungan dari dua pendekatan berbeda yang telah diterapkan oleh masing-masing desa.
"Kami melihat bahwa setiap desa punya keunikan dalam mengelola sampahnya. Panggungharjo kuat dalam aspek sosial dan gotong royong, sementara Sinduadi menonjol dalam kemitraan dengan sektor swasta," ujar Muhammad Thoriq Nailul Author, salah satu anggota tim, saat ditemui di Kampus UGM, baru-baru ini.
Penelitian ini dilakukan oleh empat mahasiswa yakni diantaranya Muhammad Thoriq Nailul Author, Pradipta Arya Arsensa, Fata Rozin Jahfal, dan Peter Gabriel Taiyoo Karnodipuro, di bawah bimbingan dosen Departemen Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM, Nur Azizah, S.IP., M.Sc. Menggunakan pendekatan ekonomi sirkular, mereka memetakan alur sampah dari rumah tangga hingga ke pembuangan akhir. Tim juga menelaah keterlibatan berbagai aktor baik formal maupun informal dalam sistem pengelolaan sampah di desa.
Baca juga: Soroti Kewenangan Penegakan Hukum di RKUHAP, Dosen UGM Desak Perlindungan HAM Diperkuat
Peter Gabriel Taiyoo Karnodipuro menjelaskan, pihaknya ingin merancang model yang fleksibel dan bisa diadaptasi oleh desa-desa lain.
“Desa tidak harus memilih antara partisipasi warga atau kolaborasi bisnis. Keduanya bisa dikombinasikan agar lebih berkelanjutan dan berdampak ekonomi,” ujarnya.
Dari hasil observasi awal, Panggungharjo dinilai unggul dalam partisipasi warga dan pengelolaan berbasis gotong royong. Namun, tantangan muncul ketika semangat iuran warga menurun, sehingga keberlanjutan program terganggu. Di sisi lain, Sinduadi berhasil menjalin kerja sama dengan pihak swasta seperti PT Hayuning Bhumi Makmur dan PT DUI dalam mengolah sampah organik. Meski begitu, Sinduadi masih menghadapi persoalan regulasi dan resistensi sebagian warga.
“Sampah bukan hanya isu teknis, tapi juga menyangkut aspek sosial, ekonomi, bahkan politik. Lewat riset ini, kami ingin menunjukkan bahwa desa punya potensi menjadi aktor penting dalam tata kelola sampah yang adil dan inklusif,” kata Pradipta Arya Arsensa.
Baca juga: UGM Terlibat Riset Internasional Panel Surya Terapung, Dorong Peran Perempuan di Pulau Tanakeke
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, dengan pendekatan observasi partisipatif serta wawancara mendalam. Tim juga menerapkan analisis PESTLE (Political, Economic, Social, Technological, Legal, Environmental) untuk mengidentifikasi faktor eksternal yang memengaruhi sistem pengelolaan sampah. Ke depan, hasil riset ini akan dituangkan dalam bentuk policy brief, artikel ilmiah, laporan penelitian, serta konten media sosial untuk memperluas jangkauan edukasi publik.
“Kami ingin riset ini tak berhenti di meja kampus. Harapannya, rekomendasi kami bisa menjadi rujukan nyata bagi pemerintah daerah maupun desa-desa lain dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan,” ujar Fata Rozin Jahfal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Melalui E-mail