Rabu, 20 AGUSTUS 2025 • 16:55 WIB

Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak benda, Begini Penjelasan Ahli Gizi UGM Apakah Ampo Dapat dikonsumsi Atau Tidak

Author

Makanan Ampo. (Istimewa (via e-mail))

JOGJA - Ampo, makanan tradisional yang terbuat dari tanah liat dan berasal dari wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah, resmi ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda (intangible cultural heritage) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Republik Indonesia sejak tahun 2024 lalu. Camilan unik ini secara turun-temurun dipercaya masyarakat memiliki berbagai khasiat, mulai dari mengurangi rasa pahit pada makanan hingga menyerap racun dan menyehatkan pencernaan. Namun, apakah ampo benar-benar aman dikonsumsi?.

Menanggapi hal itu, Kepala Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Ir. Sri Raharjo, M.Sc., menyampaikan bahwa secara komposisi, ampo sebagian besar mengandung silika dan alumina dua komponen yang tidak larut dalam air dan tidak dapat diserap oleh tubuh manusia.

“Sesuatu yang memberikan nilai manfaat di sini adalah sesuatu yang memang harus bisa dicerna. Dicerna berarti harus bisa larut,” ujar Sri kepada wartawan dikirimkan die-mail, Rabu (20/8/2025).

Baca juga: Dorong Budaya Lingkungan Bersih, Warga dan Mahasiswa KKN UGM Kompak Pilah Sampah di Bantul

Kendati demikian, menurutnya, ampo tidak memiliki nilai gizi yang signifikan. Meski sering dianggap bermanfaat, ampo sesungguhnya hanya bekerja sebagai adsorben zat padat yang mampu mengikat zat lain dan tidak memiliki kandungan nutrisi. 

Terkait keamanan konsumsi, Prof. Sri Raharjo menekankan pentingnya memperhatikan asal tanah yang digunakan dalam pembuatan ampo. Tanah dari daerah pegunungan atau selatan gunung berapi dinilai lebih bersih karena belum tercemar aktivitas manusia. Namun, tanah dari wilayah yang dekat dengan ladang atau pemukiman memiliki risiko tinggi terkontaminasi pestisida dan logam berat seperti timbal.

Kalau itu di daerah-daerah yang sudah terpapar dengan banyak cemaran tadi, maka upaya untuk memanfaatkannya perlu betul-betul memperhatikan hal cemaran itu tadi,” jelasnya.

Selain itu, lanjut Raharjo, konsumsi ampo dalam jumlah besar dan dalam jangka panjang juga dinilai berisiko menimbulkan iritasi saluran pencernaan. Hal ini disebabkan oleh sifat partikel tanah yang tidak larut dan dapat menyebabkan gesekan pada dinding usus.

Karena adanya gesekan oleh partikel pada benda padat yang tidak larut tersebut pada usus manusia. Terlebih, pada lansia dan orang-orang yang memiliki kondisi rentan,” jelasnya.

Meski begitu, ia menyarankan agar konsumsi ampo dilakukan dengan penuh kehati-hatian, terutama memperhatikan siapa yang mengonsumsi, berapa jumlahnya, dan kapan dikonsumsi. Konsumsi ampo sebaiknya hanya dilakukan oleh orang dewasa dalam kondisi sehat dan dengan sistem imun yang baik.

Kalau ada kondisi, sedikit saja dalam pencernaannya pasti akan ada respon, maka dikonsumsinya oleh orang-orang dewasa yang memiliki imun yang tinggi dan dengan jumlah yang terbatas,” pesannya.

Baca juga: Musim Kemarau Kasus Leptospirosis di Yogya Meningkat, Epidemiolog UGM Soroti Penetapan KLB

 

Ia juga menegaskan pentingnya mengaitkan konsumsi ampo dalam konteks budaya, di mana makanan ini umumnya dikonsumsi dalam waktu dan kondisi tertentu, tidak sebagai makanan sehari-hari.

Kondisi ini bisa dikaitkan dengan kondisi tubuh orang yang mengonsumsinya, yang saya maksud apakah ada kondisi sehat atau sakit tertentu,” pungkas Raharjo.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Keterangan Pers

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU