Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 19 AGUSTUS 2025 • 15:20 WIB

Musim Kemarau Kasus Leptospirosis di Yogya Meningkat, Epidemiolog UGM Soroti Penetapan KLB

Musim Kemarau Kasus Leptospirosis di Yogya Meningkat, Epidemiolog UGM Soroti Penetapan KLBEpidemiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Bayu Satria Wiratama, Ph.D., (Istimewa (via e-mail))

JOGJA - Kasus leptospirosis di Kota Yogyakarta dilaporkan mengalami peningkatan signifikan meski musim hujan telah berakhir. Meski belum ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB), penanganan penyakit ini dinilai perlu dilakukan secara serius layaknya penanganan KLB.

Epidemiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Bayu Satria Wiratama, Ph.D., mengungkapkan bahwa lonjakan kasus kali ini cukup tidak lazim karena terjadi di tengah musim kemarau.

"Biasanya peningkatan kasus leptospirosis terjadi saat musim hujan atau pascabanjir, karena banyaknya kontak dengan air yang tercemar bakteri Leptospira. Tapi tahun ini berbeda, justru lonjakannya muncul di musim kemarau," ujar Bayu dalam podcast TropmedTalk yang dibagikan ke email wartawan masing-masing, Selasa (19/8/2025).

Bayu menjelaskan bahwa status KLB seharusnya tidak menjadi patokan utama dalam menentukan keseriusan penanganan. Menurutnya, yang terpenting adalah bagaimana Dinas Kesehatan merespons lonjakan kasus tersebut secara tepat.

"Status KLB itu administratif. Yang lebih penting adalah tindakan di lapangan. Penanganannya harus dilakukan seperti menghadapi KLB, meskipun belum diumumkan secara resmi," jelasnya.

Baca juga: Mahasiswa KKN UGM Di Polewali Kembangkan Alat Pemantau Suhu Sarang Penyu di Pantai Ba’batoa

Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan melalui air atau tanah yang terkontaminasi urin tikus. Bakteri Leptospira bisa masuk ke tubuh manusia lewat luka di kulit, bahkan luka kecil yang tidak terlihat. Gejala awalnya kerap menyerupai penyakit demam berdarah atau chikungunya, sehingga sering terlambat terdiagnosis.

"Kalau demam tidak turun dalam satu hingga dua hari, dan ada riwayat aktivitas di lingkungan yang berisiko, sebaiknya segera periksa ke fasilitas kesehatan," tegasnya.

Ia juga menyoroti persoalan lingkungan sebagai salah satu pemicu meningkatnya kasus leptospirosis di Yogyakarta. Menurutnya, penumpukan sampah menjadi faktor yang memperparah situasi, karena menciptakan habitat ideal bagi tikus pembawa bakteri.

"Penanganan sampah yang belum optimal bisa jadi biang keladi. Meski tidak ada banjir, tumpukan sampah menyediakan makanan dan tempat berkembang biak tikus. Jadi, faktor lingkungan sangat menentukan," terangnya.

Baca juga: Penumpukan Sampah Jadi Penyebab Tren Kenaikan Kasus Leptospirosis di Kota Yogya, Begini Respon Walikota Hasto

Oleh karena itu, Bayu menekankan bahwa pengendalian penyakit ini tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan. Ia mendorong keterlibatan lintas sektor seperti Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pasar, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), serta partisipasi aktif masyarakat.

Ia juga mengimbau warga untuk menjaga kebersihan lingkungan, mengelola sampah dengan benar, menutup makanan dan air minum agar tidak terkontaminasi, serta memakai alas kaki saat beraktivitas di area lembap.

Musim kini bukan lagi satu-satunya faktor risiko. Maka, langkah pencegahan harus dilakukan secara konsisten sepanjang tahun,” pungkas Bayu.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Keterangan Pers

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Musim Kemarau Kasus Leptospirosis di Yogya Meningkat, Epidemiolog UGM Soroti Penetapan KLB

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!