Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) di Kabupaten Polewali Mandar. (Istimewa (via e-mail))
JOGJA - Inovasi teknologi kini ikut ambil bagian dalam upaya pelestarian penyu di Sulawesi Barat. Tiga mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Tim KKN Arung Campalagian menciptakan alat pemantau suhu berbasis Internet of Things (IoT) untuk mendukung konservasi penyu di Pantai Ba’batoa, Desa Lapeo, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Alat yang diberi nama Online Hatchery ini dirancang untuk memantau suhu di sekitar dan dalam sarang penyu secara daring.
Prototipe tersebut dikembangkan oleh Rizal Kurniawan Saputra (Teknik Elektro), Salma Nur Jihan (Teknologi Rekayasa Internet), dan Wahyudi Maulana (Teknik Fisika), sebagai upaya menjaga keseimbangan populasi penyu jantan dan betina.
“Penyu jantan hanya akan menetas pada suhu lebih rendah, sekitar 26-28°C. Sementara suhu di pasir Pantai Ba’batoa cenderung hangat, sekitar 28-30°C, sehingga sebagian besar tukik yang menetas berjenis kelamin betina,” jelas Rizal saat ditemui pada Selasa (19/8/2025).
Pantai Ba’batoa sendiri merupakan salah satu lokasi penting konservasi penyu yang dikelola oleh komunitas nirlaba Laut Biru, yang selama ini mencatat tingkat penetasan telur mencapai 90 persen. Namun, persoalan muncul ketika ketimpangan rasio kelamin mulai terlihat.
“Kami belum pernah punya alat pemantau suhu yang bisa dipakai terus-menerus. Biasanya kami hanya mengandalkan alat milik peneliti yang datang sewaktu-waktu. Kalau tidak ada peneliti, ya tidak ada alat,” kata Busdar, salah satu konservator dari Komunitas Laut Biru.
Online Hatchery menggunakan mikrokontroler ESP32 sebagai pusat kendali. Dua sensor terpasang pada alat ini: sensor DHT22 untuk mengukur suhu udara di sekitar sarang, dan sensor DS18B20 yang ditanam langsung ke dalam pasir guna memantau suhu inti sarang.
Menurut Rizal, data suhu akan langsung dikirim secara daring sehingga tim konservasi bisa segera mengambil langkah penyesuaian, seperti menambahkan naungan atau menyiram sarang untuk menurunkan suhu.
“Alat ini bisa digunakan untuk konservasi di daerah lain, misalnya di Kalimantan. Tapi tentu dengan catatan, harus ada koneksi internet jika ingin tetap memantau suhu dari jarak jauh,” ujarnya.
Baca juga: UGM Sambut 376 Mahasiswa Internasional Lewat Program PIONEER
Tim KKN UGM berharap, kehadiran alat ini tidak hanya menjaga tingkat keberhasilan penetasan, tapi juga membantu menjaga keseimbangan populasi penyu secara jangka panjang.
“Dengan data yang akurat dan berkelanjutan, kami bisa membuat keputusan yang lebih baik demi masa depan penyu,” pungkas Busdar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Keterangan Pers