JOGJA - Sebanyak 376 mahasiswa internasional dari 54 negara resmi mengikuti Program PIONEER (Program for International Orientation and New-student Empowerment to Enhance Readiness) yang digelar Universitas Gadjah Mada (UGM). Kegiatan orientasi ini dibuka belum lama ini di Grha Sabha Pramana UGM. Para mahasiswa berasal dari berbagai program, mulai dari pertukaran pelajar, program Bahasa Indonesia, hingga program gelar sarjana, magister, dan doktor.
Lebih rinci, sebanyak 216 mahasiswa mengikuti program pertukaran, 49 mahasiswa belajar Bahasa Indonesia, 8 mahasiswa dalam program intensif, dan 103 lainnya merupakan mahasiswa reguler jenjang sarjana hingga doktoral.
“Melalui PIONEER, kami ingin mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara dan fakultas agar bisa saling bekerja sama, membangun jejaring, serta menjalin persahabatan jangka panjang,” ujar Wakil Rektor UGM Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Prof. Wening Udasmoro.
Wening menekankan bahwa internasionalisasi menjadi salah satu kekuatan utama UGM. Ia menyebut mobilitas mahasiswa merupakan kunci untuk memperkuat hubungan dengan berbagai mitra global. Tak sedikit mahasiswa asing yang awalnya hanya mengikuti program singkat, lalu memutuskan kembali ke UGM untuk menempuh pendidikan lanjut.
“Selama bertahun-tahun, UGM telah menjadi rumah bagi banyak mahasiswa internasional dan berhasil membangun jaringan alumni yang tersebar di seluruh dunia,” imbuhnya.
Baca juga: Cerita Perjuangan Ulin, Mahasiswa UGM Gagal Tiga Kali Tak Halangi Raih Beasiswa Prestisius ke Jepang
Dalam sesi kuliah umum, Dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM, Achmad Munjid, juga mengajak mahasiswa internasional mengenal sejarah UGM dan keberagaman budaya di Indonesia. Ia menyampaikan bahwa UGM tidak hanya sebagai institusi pendidikan, tapi juga sebagai agen perubahan sosial yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila.
Salah satu peserta, Kenza, mahasiswa asal Prancis yang akan menempuh studi Hukum Internasional di UGM, mengaku antusias belajar di Indonesia.
"Saya ingin menambah pengetahuan dan memperluas pemahaman saya tentang budaya Asia. Saya juga tertarik bekerja di kawasan Asia, dan saya rasa Indonesia bisa jadi tempat yang menjanjikan,” ujarnya.
Sementara itu, Alex, mahasiswa asal Australia yang mengambil studi Biologi, terkesan dengan suasana kampus UGM yang ramah dan hijau.
“Atmosfernya sangat mendukung. Saya ingin memperdalam pengetahuan tentang lingkungan, apalagi di negara tropis seperti Indonesia. Ini akan sangat berguna untuk studi saya di Melbourne nanti,” katanya.
Tak hanya orientasi di dalam kampus, PIONEER juga akan diisi dengan berbagai agenda seperti Cultural Immersion & Excursion pada 30 Agustus dan kegiatan belajar Bahasa Indonesia bersama warga lokal pada 20 September mendatang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Keterangan Pers