Selasa, 15 JULI 2025 • 15:30 WIB

Hasil Diskusi Summer Course 2025 di FKKMK UGM, Alasan Sebut Empat Penyakit Ini Jadi Beban Tertinggi di Indonesia

Author

Ilustrasi simbol kanker. (Istimewa)

JOGJA - Kementerian Kesehatan RI menyebut empat penyakit dengan angka kematian dan beban biaya tertinggi di Indonesia, yakni kanker, stroke, penyakit kardiovaskular, dan uronefrologi. Pemerintah pun menargetkan pemerataan layanan rujukan penyakit katastropik tersebut di seluruh wilayah Indonesia hingga 2027.

Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes RI, dr. Azhar Jaya, yang juga mengatakan terkait khusus untuk kanker, pemerintah memprioritaskan lima jenis kanker utama untuk ditangani secara nasional. Kelima jenis itu adalah kanker payudara, kanker serviks, kanker paru-paru, kanker kolorektal, dan kanker anak.

Kanker anak, meskipun hanya 3–5 persen dari total kasus, sangat dapat disembuhkan dengan diagnosis, pengobatan, dan dukungan yang tepat,” kata dr. Azhar saat membuka Summer Course 2025 di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Senin (14/7/2025).

Ia menuturkan, tingkat kesembuhan kanker anak bisa mencapai 80 persen di negara-negara berpenghasilan tinggi. Namun di negara berkembang seperti Indonesia, tingkat kesembuhan masih rendah karena akses layanan kesehatan kanker yang belum merata.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerataan layanan rujukan akan terus dioptimalkan melalui jaringan kanker nasional. Targetnya, 100 persen kabupaten/kota memiliki rumah sakit rujukan pada tahun 2027,” ungkapnya.

Lanjut Azhar menyebut, percepatan peningkatan cakupan layanan rumah sakit rujukan akan difokuskan pada empat penyakit katastropik utama. Kemenkes menargetkan seluruh provinsi memiliki minimal satu rumah sakit rujukan tingkat paripurna atau utama, dan seluruh kabupaten/kota memiliki minimal satu rumah sakit tingkat madya.

Dengan target 50 persen kabupaten/kota tercapai sebelum tahun 2025, dan 100 persen sebelum 2027,” imbuhnya.

Baca juga: Kemarau Basah Melanda RI Hingga Kini, Pakar UGM Sebut Ancam Sektor Pertanian, Begini Solusinya Kepada Pemerintah

Sehingga, lanjut Azhar, untuk penangannya harus didukung kerja sama antara pemerintah dengan mitra lokal dan global.

Supaya penanganan kanker menjadi lebih tepat, dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat Indonesia di mana pun mereka berada,” harapnya.

Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FK-KMK UGM, Dr. Ahmad Hamim Sadewa, menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif lintas profesi dalam penanganan kanker yang kompleks.

Kita melihat bahwa yang namanya interprofessional collaboration itu menjadi satu hal yang sangat krusial. Tidak mungkin hanya dokter saja, atau perawat saja yang bekerja untuk kebaikan pasien,” ujarnya.

Menurutnya, penanganan pasien kanker idealnya melibatkan tim lintas profesi mulai dari dokter, perawat, psikolog, apoteker, hingga ahli gizi. Pendekatan ini telah diterapkan di RSUP Dr. Sardjito dan FK-KMK UGM sebagai model tim interprofesional dalam penanganan kanker secara menyeluruh.

Perawatan integratif tidak hanya menghubungkan manusia, tetapi juga sistem dan disiplin ilmu. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi satu sama lain untuk mewujudkan manajemen perawatan integratif secara mendalam,” tegas Hamim.

Baca juga:  Setengah Juta Penerima Bansos Main Judi Online, Sosiolog UGM: Mereka Korban Spiral Kekerasan Negara

Senada, Ketua Tim Internasionalisasi FK-KMK UGM, dr. Dwi Aris Agung Nugrahaningsih, menyatakan bahwa kanker masih menjadi tantangan utama di Indonesia, terutama karena ketimpangan akses layanan kesehatan antara daerah terpencil dan perkotaan.

"Tantangan kita lebih besar dibandingkan negara maju yang negaranya satu peta. Karenanya, kami ingin bisa mendiskusikan dan membandingkan praktik baik dari negara lain,” ujarnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Keterangan Pers

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU