Guru Besar dari Fakultas Biologi UGM yang dikukuhkan, Kamis (10/7/2025). (Istimewa)
JOGJA - Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menambah daftar Guru Besar dari Fakultas Biologi. Tiga dosen resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam upacara yang berlangsung di Balai Senat UGM, Kamis (10/7/2025). Mereka adalah Prof. Andhika Puspito Nugroho, Prof. Rina Sri Kasiamdari, dan Prof. Niken Satuti Nur Handayani.
Dalam pidato pengukuhannya, Prof. Andhika Puspito Nugroho, membahas pentingnya pendekatan multi-biomarker dalam program biomonitoring untuk menjaga ekosistem sungai. Ia menekankan bahwa sungai memiliki fungsi vital sebagai habitat, sumber air bersih, serta ruang ekonomi dan rekreasi.
“Salah satu strategi penting dalam melindungi ekosistem sungai adalah implementasi program biomonitoring sebagai alat evaluasi kondisi ekologis dan deteksi dini terhadap perubahan kualitas perairan,” kata Andhika.
Menurutnya, pendekatan multi-biomarker mampu mendeteksi efek kumulatif dari pencemaran seperti pupuk, pestisida, plastik, dan logam berat secara lebih akurat.
“Pendekatan ini dapat merepresentasikan status kesehatan ekosistem secara lebih informatif dan menyeluruh,” pungkas Guru Besar bidang Ekotoksikologi tersebut.
Sementara itu, Prof. Rina Sri Kasiamdari yang dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Biologi Fungi, menyoroti potensi dua mikroorganisme tanah yakni Jamur Mikoriza Arbuskular (JMA) dan Binucleate Rhizoctonia (BNR) nonpatogen, ini menurutnya sebagai alternatif pengendalian hayati penyakit tanaman dalam pertanian berkelanjutan.
"Keduanya tidak hanya memberikan perlindungan terhadap penyakit, tetapi juga meningkatkan kualitas dan kesehatan tanah serta pertumbuhan tanaman," ujar Rina.
Ia juga menyebut JMA lebih banyak digunakan sebagai biofertilizer dalam sistem pertanian organik, sedangkan BNR tengah dikembangkan sebagai biofungisida potensial.
"JMA menonjol dalam meningkatkan ketersediaan nutrisi dan ketahanan tanaman, sementara BNR fokus sebagai agen hayati melawan patogen tular tanah. Keduanya bisa digunakan secara sinergis," pungkas Rina.
Adapun Prof. Niken Satuti Nur Handayani, Guru Besar bidang Genetika Molekuler, menyampaikan pentingnya teknologi Next-Generation Sequencing (NGS) dalam deteksi dini penyakit thalassemia. Teknologi ini, menurutnya, mampu membaca ratusan gen dalam waktu singkat dan mendeteksi mutasi yang tak teridentifikasi oleh metode konvensional.
"NGS membuka peluang bagi pengobatan personal dan presisi, serta sangat efektif untuk skrining pembawa (carrier) thalassemia,” jelas Niken.
Ia menekankan bahwa strategi skrining berbasis NGS harus difokuskan pada ibu hamil, bayi, dan pasangan pranikah khususnya di wilayah dengan prevalensi tinggi.
"Tujuannya adalah mengurangi kelahiran bayi dengan thalassemia mayor, bentuk paling berat dari penyakit ini,” tegasnya.
Menurut data, Indonesia termasuk dalam kawasan “Thalassemia Belt” dengan jumlah pasien mencapai 10.973 pada tahun 2021. Penyakit ini juga menjadi lima besar penyakit tidak menular dengan pembiayaan tertinggi. Niken menekankan pentingnya kolaborasi semua pihak untuk mendukung adopsi teknologi NGS secara lebih luas.
“Dibutuhkan kerja sama yang erat antara pemerintah, tenaga medis, lembaga pendidikan, laboratorium diagnostik, organisasi masyarakat, serta keluarga dan individu yang berisiko," pungkas Niken.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Keterangan Pers