Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 30 JUNI 2026 • 18:45 WIB

Belum Telat Sasaran, Guru Besar UGM Soal Program MBG Desak Rombak Total Sistem

Belum Telat Sasaran, Guru Besar UGM Soal Program MBG Desak Rombak Total SistemSalah satu giat program MBG di SD Kabupaten Sleman. (Olivia Rianjani)

JOGJA - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang menjadi kebijakan unggulan pemerintah kini tengah menjadi sorotan tajam. Di tengah upaya pemerintah melakukan refocusing sasaran ke kelompok ibu hamil, menyusui, balita, dan wilayah 3T, muncul dugaan korupsi dalam tata kelola Badan Gizi Nasional (BGN).

Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Sri Raharjo, menilai ada kekeliruan mendasar sejak awal program ini dijalankan. Menurutnya, publik dan pemerintah sering menyamakan MBG dengan program penurunan stunting, padahal keduanya memiliki fokus yang berbeda.

"MBG itu sebetulnya untuk meningkatkan status gizi. Sering dipersepsikan sama dengan mengatasi stunting, padahal mestinya urusannya beda," ujar Sri Raharjo dalam keterangannya, Selasa (30/6/2026).

Ia menegaskan, pemerintah seharusnya belajar dari pengalaman program percepatan penurunan stunting yang sudah berjalan selama sepuluh tahun. Ia menilai, kelemahan fatal MBG terletak pada obsesi mengejar target 82 juta penerima manfaat tanpa mempertimbangkan kesiapan infrastruktur dan sistem keamanan pangan.

"Targetnya memang demikian ambisius, tidak memedulikan proses atau kesiapan untuk mendukung penyelenggaraan itu. Saya katakan too much, too soon," tegasnya.

Baca juga: Ratusan Mahasiswa UII Kepung DPRD DIY: Kritisi Badai PHK, Program MBG, Hingga Sentil Anggota Dewan Soal Gelombang Aksi :" Yang Kaya Makin Kaya!"

Ia menyoroti bahwa target yang terlalu masif ini justru memicu masalah di lapangan, seperti kasus keracunan makanan yang sempat mencuat beberapa waktu lalu.

"Selain itu, pembentukan Badan Gizi Nasional dinilai membebani anggaran negara dan justru mengurangi alokasi anggaran di kementerian maupun pemerintah daerah yang sejatinya sudah memiliki sistem terkoordinasi," jelasnya.

Terkait dugaan korupsi yang kini mencuat, Raharjo menilai persoalan tersebut tidak hanya terletak pada integritas individu, melainkan pada desain program itu sendiri yang menciptakan "lahan basah" bagi penyimpangan.

"Korupsi itu dipengaruhi oleh pelakunya atau orangnya, tapi bisa juga peluang korupsi itu dibuat karena desain dari program ini," tuturnya.

Menurutnya, keterlibatan pihak perantara seperti yayasan dan mitra pelaksana dalam skema Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) justru membuat rantai birokrasi menjadi sangat panjang. Hal ini dinilai berisiko memicu praktik rente dan kickback jika pengawasan tidak dilakukan secara ketat.

"Semakin banyak perantara yang terlibat, semakin besar peluang munculnya praktik rente. Kenapa tidak gunakan sistem yang sudah ada? Misalnya melalui kantin atau dapur sekolah yang sudah berjalan, sehingga rantai birokrasi bisa dipersingkat," tegasnya.

Kendati demikian, ia mengingatkan pemerintah agar tidak hanya mengukur keberhasilan program berdasarkan jumlah porsi makanan yang dibagikan. Ia mendesak adanya evaluasi berbasis data yang transparan.

Baca juga: "Mau Kerja di Mana Lagi?": Jeritan Hati Relawan SPPG Jogja Saat Gelar Aksi Tolak Pembubaran MBG Hari Ini

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Belum Telat Sasaran, Guru Besar UGM Soal Program MBG Desak Rombak Total Sistem

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!