JOGJA - PT Pertamina Patra Niaga memberikan jaminan bahwa pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam kondisi aman. Jaminan ini diberikan guna merespons kekhawatiran masyarakat menyusul adanya kebijakan penyesuaian harga BBM non-subsidi, khususnya Pertamax dan Pertamax Green, yang resmi berlaku sejak Rabu (10/6/2026) kemarin.
Area Manager Communication, Relations & Corporate Social Responsibility (CSR) Jawa Bagian Tengah PT Pertamina Patra Niaga, Taufiq Kurniawan, mengungkapkan bahwa ketahanan stok BBM saat ini berada jauh di atas rata-rata konsumsi normal harian masyarakat.
Ia merinci, stok Pertalite saat ini tercatat mencapai 12 kali lipat dari kebutuhan harian. Sementara untuk produk lain, stok Solar berada di angka 20 kali lipat, serta Pertamax dan Pertamina Dex masing-masing menyentuh 18 kali lipat dari konsumsi harian.
Menurut Taufiq, jumlah tersebut sangat mencukupi untuk mengantisipasi jika terjadi fenomena perpindahan (migrasi) konsumen Pertamax ke Pertalite pasca-kenaikan harga. Pertamina juga berkomitmen untuk terus memantau situasi di lapangan guna mencegah terjadinya antrean panjang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
"Kita evaluasi berkala pasca perubahan harga," ujar Taufiq, Kamis (11/6/2026).
Ia pun menghimbau masyarakat DIY agar tidak panik maupun khawatir terkait ketersediaan pasokan. Taufiq memastikan rantai distribusi dari hulu ke hilir berada dalam status aman.
"Stok aman banget di (Fuel Terminal) Rewulu dan di SPBU," ucapnya.
Berdasarkan data konsumsi hingga Juni 2026 di wilayah Jawa Bagian Tengah, kata dia, mayoritas pengendara dinilai masih mengandalkan BBM bersubsidi dan penugasan yang harganya tidak berubah. Di segmen gasoline (bensin), porsi konsumsi Pertalite mendominasi hingga 73,3 persen, disusul Pertamax sebesar 25,9 persen, sedangkan gabungan Pertamax Turbo dan Pertamax Green hanya sebesar 0,9 persen.
Menurutnya, kondisi serupa terjadi pada segmen gasoil (solar), di mana Biosolar menguasai pasar dengan 96,6 persen, sementara gabungan Dexlite dan Pertamina Dex hanya di angka 3,4 persen.
Melihat data tersebut, Taufiq menyebut bahwa lebih dari 98 persen konsumsi BBM masyarakat berasal dari produk yang harganya tetap. Oleh karena itu, dampak dari kenaikan harga BBM non-subsidi kali ini diprediksi akan relatif terbatas bagi masyarakat luas.
"Pertamina sebagai operator menjalankan penyesuaian harga BBM non-subsidi sesuai ketentuan pemerintah dan mekanisme yang berlaku, dengan tetap memastikan ketersediaan dan kelancaran distribusi energi bagi seluruh masyarakat," jelasnya.
Terpisah, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa penyesuaian harga pada Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui evaluasi berkala berdasarkan formula yang ditetapkan pemerintah. Langkah ini juga mempertimbangkan tren harga minyak dunia dan harga pasar keekonomian.
"Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah. Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat terus berjalan optimal," jelas Roberth.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Konfirmasi Langsung