Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Jumat, 29 MEI 2026 • 19:00 WIB

Simbol Toleransi Gunungkidul: Umat Lintas Iman Bersatu di Grebeg Besar Gunung Wijil

Simbol Toleransi Gunungkidul: Umat Lintas Iman Bersatu di Grebeg Besar Gunung WijilRitual adat tahunan Grebeg Besar Gunung Wijil pada Kamis Kliwon (28/5/2026), di Gunungkidul. (Istimewa)

JOGJA - Ratusan warga Padukuhan Gudang, Kelurahan Kampung, Kapanewon Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, kembali menggelar ritual adat tahunan Grebeg Besar Gunung Wijil pada Kamis Kliwon (28/5/2026). Selain menjadi ruang spiritual untuk memohon berkah, momentum ini tampil unik karena menjadi ajang pembuktian kuatnya kerukunan antarumat beragama di bumi Handayani.

Baca juga: Idul Adha 2026: Pemkab Gunungkidul Sebar 7 Sapi dan 44 Kambing ke Wilayah Minim Kurban, Bupati Endah :"Stok Melimpah"

Upacara adat ini digelar sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa leluhur, khususnya Raden Ngabehi Jayakrama. Tokoh yang dimakamkan di kawasan tersebut dikenal sejarah sebagai bagian dari Bergada Kawandajaya Alap-alap Pangeran Sambernyawa, pasukan yang gigih melawan penjajah demi mempertahankan tanah air.

Melalui filosofi Jawa "Rumangsa melu handarbeni, wajib melu hangrungkepi, mulat sarira hangrasa wani" (merasa ikut memiliki, wajib ikut mempertahankan, dan berani mawas diri), masyarakat setempat diajak untuk konsisten melestarikan kebudayaan agar tidak punah ditelan zaman.

Prosesi sakral dimulai dengan upacara pasrah lan tampi (serah terima) gunungan. Purrahuan, yang bertindak mewakili warga, menyerahkan sarana upacara tersebut kepada Agus Sumaryana. Prosesi ini menjadi simbol permohonan kolektif agar seluruh masyarakat senantiasa dianugerahi keselamatan, ketenteraman, dan kesejahteraan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Ada pemandangan menarik dalam pelaksanaan Grebeg Besar tahun ini. Perbedaan keyakinan sama sekali tidak menjadi sekat. Umat Islam, Hindu, Kristen Jawa, Katolik, hingga warga Muhammadiyah bahu-membahu menyukseskan acara. Tidak hanya orang tua, keterlibatan aktif juga datang dari generasi muda, mulai dari pelajar tingkat SD hingga SMK.

Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, yang hadir langsung di lokasi memberikan apresiasi mendalam terhadap semangat kebersamaan ini.

"Kebudayaan adalah alat pemersatu bangsa. Perbedaan suku, agama, dan ras dibingkai dalam Bhinneka Tunggal Ika," ujar Endah.

Ia juga mengingatkan seluruh yang hadir bahwa identitas sebagai bangsa Indonesia harus tetap dijaga erat meskipun memeluk keyakinan yang berbeda-beda.

Secara khusus, ia memuji kreativitas dan semangat gotong royong warga yang rela melembur hingga dini hari untuk membuat hiasan janur dan penjor guna menyemarakkan lokasi acara.

"Pentingnya masyarakat memiliki kepribadian dalam kebudayaan, selaras dengan ajaran Tri Sakti yang digaungkan oleh Bung Karno," ucap Endah.

Sebagai komitmen Pemkab Gunungkidul menjaga kelestarian Situs Gunung Wijil, melalui Dinas Pekerjaan Umum (DPU), pemerintah daerah telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp 300 juta dikucurkan untuk rehabilitasi jalan menuju kawasan Gunung Wijil demi mempermudah akses bagi wisatawan maupun peziarah.

Dukungan finansial dan moral juga mengalir dari berbagai pihak eksternal, termasuk donasi dari KGPAA Mangkunegara, kontribusi dari Ikatan Keluarga Gunungkidul (IKG), serta para pelaku usaha lokal. Suasana budaya kian kental dengan adanya pentas seni tradisi seperti Jathilan, reog ogoh-ogoh, hingga unjuk bakat seni dari sekolah-sekolah di wilayah Ngawen.

"Langkah ini kian diperkuat dengan masuknya ritual Grebeg Besar ini ke dalam kalender event tahunan resmi Kabupaten Gunungkidul," tutur Endah.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Di Grup WA

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Simbol Toleransi Gunungkidul: Umat Lintas Iman Bersatu di Grebeg Besar Gunung Wijil

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!