Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 23 MARET 2026 • 17:40 WIB

Perjuangan Rif’an dari Bantul Tembus UGM Hingga Doktoral di Belanda: Tekad Kuat Hadapi Keterbatasan Ekonomi, Uang Jerih Payah Sempat Kecopetan

Perjuangan Rif’an dari Bantul Tembus UGM Hingga Doktoral di Belanda: Tekad Kuat Hadapi Keterbatasan Ekonomi, Uang Jerih Payah Sempat KecopetanPotret Ahmad Rif’an Khoirul Lisan (Istimewa)

JOGJA - Keterbatasan ekonomi tak menghentikan langkah Ahmad Rif’an Khoirul Lisan menembus pendidikan tinggi. Pria asal Pleret, Bantul, ini membuktikan bahwa tekad dan kerja keras mampu membawanya dari bangku kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) hingga meraih kesempatan studi doktoral di Belanda.

Rif’an memulai perjalanan akademiknya sejak diterima di Fakultas Geografi UGM pada 2012. Pilihan itu sempat mendapat penolakan keluarga, terutama sang ayah, karena kondisi ekonomi yang sulit.

"Alasannya sederhana sekaligus berat, keluarga tidak punya cukup biaya, sementara enam adik saya masih kecil," ujarnya, Senin (23/3/2026).

Ayah Rif’an bekerja sebagai guru mengaji, sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga. Keluarga berharap Rif’an segera bekerja setelah lulus SMA, tapi ia memilih tetap menempuh pendidikan tinggi untuk mengubah nasib keluarga.

"Bagi saya, kuliah bukan sekadar mimpi pribadi. Saya ingin mengubah kondisi keluarga dan membantu adik-adik mendapatkan kehidupan yang lebih baik," tutur Rif’an.

Masa Kuliah: Hidup Hemat dan Berjuang Sendiri

Awal kuliah menjadi fase penuh tantangan. Rif’an bertahan hidup dengan bantuan beasiswa Bidikmisi dan penghasilan dari kerja sampingan. Ia aktif di organisasi kampus bukan hanya untuk pengalaman, tetapi juga demi mendapatkan konsumsi.

"Saya suka ikut kegiatan karena tahu ada konsumsi," kenangnya sambil tersenyum.

Dengan uang terbatas, Rif’an terbiasa hidup hemat.

"Dengan sekitar Rp 4.000, saya biasanya hanya membeli nasi, sayur, dan satu gorengan. Yang penting makan," ucapnya.

Keterbatasan juga membuatnya tidak memiliki komputer. Ia menyiasatinya dengan bekerja di warnet agar bisa mengerjakan tugas. Usahanya berbuah manis ketika salah satu dosen memberinya komputer bekas.

Meski berada di lingkungan kampus, Rif’an sering merasa sendiri.

"Barangkali bagi teman-teman saya dianggap aneh karena jarang ikut makan bersama, padahal itu karena keterbatasan ekonomi," tuturnya.

Perubahan terjadi pada 2014 saat ia diterima di program Rumah Kepemimpinan, yang memberinya tempat tinggal dan uang saku bulanan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Di Grup WA

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Perjuangan Rif’an dari Bantul Tembus UGM Hingga Doktoral di Belanda: Tekad Kuat Hadapi Keterbatasan Ekonomi, Uang Jerih Payah Sempat Kecopetan

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!