JOGJA - Sejumlah ibu-ibu yang tergabung dari Koalisi Suara Ibu Indonesia menggelar aksi damai di Bundaran UGM, Yogyakarta, Senin (22/12), mengenakan pakaian bernuansa putih, sebagai bentuk protes terhadap pengelolaan anggaran Program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Mereka menyoroti pemborosan anggaran MBG yang dinilai tidak tepat sasaran dan mendesak agar dana dialihkan untuk penanganan bencana yang tengah terjadi di Sumatera.
Mewakili massa aksi, Rika Iffati Farihah, menyampaikan lima tuntutan utama. Pertama, pemerintah harus menetapkan bencana di Sumatera sebagai bencana nasional. Kedua, mengusut tuntas pelaku kejahatan ekologis yang menyebabkan bencana. Ketiga, moratorium MBG dan alihkan dananya untuk penanganan bencana. Keempat, hentikan intimidasi terhadap jurnalis, aktivis, dan relawan. Kelima, lakukan penanganan bencana yang berpihak kepada kelompok rentan, termasuk perempuan, anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas.
"Sebenarnya dana untuk MBG ini banyak menyita hal-hal yang lebih penting bagi bangsa kita. MBG juga banyak yang tidak tepat sasaran. Misalnya, diberikan ke sekolah-sekolah swasta yang mahal, padahal orang tua mereka sebenarnya mampu memberikan gizi yang layak. Kenapa tidak diteliti dulu, disiapkan dulu, diberikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan peningkatan gizi? Ini jelas pemborosan," ujar Rika kepada wartawan disela-sela aksi.
Baca juga: Guru Besar UGM Usul Sebagian Dana MBG Difokuskan untuk Daerah Terdampak Bencana
Ia menyoroti ketidakefisienan MBG selama liburan sekolah. Dimana, orang tua harus datang untuk mengambil MBG buat seminggu. Sementara di Sumatera menurutnya lebih membutuhkan dana itu untuk memberikan makanan layak dan transportasi.
"Itu sesuatu yang menurut kami absurd. Jadi kami merasa ikhlas sebagai ibu kalau selama liburan ini minimal MBG tidak ada, dan dananya dialihkan untuk penanganan bencana," katanya.
Ia juga mempertanyakan kualitas MBG, pasalnya beberapa bulan terakhir ini banyak yang siswa maupun guru terkena keracunan lauk MBG.
"Kami menerima makanan kemasan ultra processed, misalnya sepuluh roti. Roti itu tidak mungkin habis dalam sehari, jika disimpan lama layak makan tidak jelas. Hal-hal seperti ini menunjukkan MBG bukan program yang sudah dipikirkan matang, kualitasnya buruk, malah bisa menimbulkan risiko kesehatan," jelas Rika.
Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Fathul Wahid. (Olivia Rianjani)
Dukungan terhadap aksi ini mendapatkan apresiasi dari Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Fathul Wahid yang hadir langsung. Ia menyebut aksi ibu-ibu ini sebagai bentuk kepedulian yang luar biasa. Terlebih aksi ini bertepatan dengan Hari Ibu.
"Dalam beberapa hari terakhir, kita dipertontonkan dagelan yang tidak lucu dari pejabat negara ketika bencana tidak dikelola semestinya. Justru banyak komentar yang membuat hati miris, seolah yang terjadi hanya urusan angka, bukan urusan manusia," ujarnya.
Fathul Wahid menambahkan bahwa alokasi anggaran seharusnya diprioritaskan untuk korban bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
"Kita harus mengarahkan anggaran untuk saudara-saudara kita di Sumatera agar lebih bermakna," tegasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Dan Wawancara Langsung