JOGJA - Di sudut Kota Yogyakarta, di warung-warung sederhana, sepiring nasi dan secangkir kopi kini lebih dari sekadar santapan. Bagi para mahasiswa perantau dari daerah terdampak bencana banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, itu menjadi simbol kepedulian, penguat semangat, dan pengingat bahwa mereka tidak sendiri di tanah rantau.
Banjir yang melanda beberapa wilayah Sumatera tersebut tak hanya merusak rumah warga, tetapi juga menghentikan denyut nadi ekonomi, termasuk kiriman uang bagi para perantau yang sedang menuntut ilmu di Yogyakarta.
Nur Ismi, mahasiswi asal Kota Langsa, Aceh, yang tengah menempuh pendidikan di Universitas Cendekia Mitra Indonesia (UNICIMI) jurusan Psikologi, menceritakan pengalamannya. Bersama saudarinya yang juga kuliah di Jogja, mereka mengikuti program makan gratis yang digagas oleh Warkop Perdjuangan di Jalan Tegal Turi, Umbulharjo. Program ini diketahui melalui media sosial.
"Kita tahu keadaan di sana, ya sedih lah pastinya, karena kepikiran juga sama orang tua, apalagi nggak ada kabarnya sama sekali. Baru kemarin ada kabar, listrik juga nggak ada. Jadi kalau mau menghubungi orang tua memang nggak bisa, mau nelpon siapapun memang nggak ada,” ujar Nur Ismi kepada awak media di Warkop tersebut, Senin (8/12/2025).
Hampir delapan hari mereka kehilangan kontak dengan orang tua.
"Awal tahu kabar orang tua pun dari tetangga, karena listrik dan baterai memang nggak ada sama sekali," kata Ismi.
Diketahui, pekerjaan sang ibu Ismi hanya IRT, sedangkan ayahnya sudah lama tidak bekerja. Karena itu, untuk melanjutkan pendidikannya mereka memanfaatkan bantuan KIP.
"Ibu IRT, ayah sudah lima tahun nggak kerja," katanya.
Selama masa kehilangan kontak keluarganya tersebut, Nur Ismi mengaku banyak berdoa.
"Yang penting kan orang tua selamat. Alhamdulillah selamat. Karena nggak bisa akses internet, mau ngabarin pun nggak bisa sama sekali," ucapnya.
Suasana Warkop Perdjuangan yang berada di Giwangan, Kota Yogyakarta. (Olivia Rianjani)
Kehadiran program makan gratis di Warkop Perjuangan, menurut Ismi sangat membantu para mahasiswa terdampak.
"Sangat membantu, apalagi kita memang butuh makan sehari-hari. Sudah tiga hari sih makan di sini,” jelasnya.
Bencana banjir terjadi saat orang tua Nur Ismi harus mengungsi ke masjid setempat karena air terus meninggi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Dan Wawancara Langsung