Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Minggu, 07 DESEMBER 2025 • 09:15 WIB

Keraton Yogyakarta Dorong Generasi Milenial dan Gen Z Jadikan Budaya Indonesia Dominan di Medsos

Keraton Yogyakarta Dorong Generasi Milenial dan Gen Z Jadikan Budaya Indonesia Dominan di MedsosGusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan Nitya Budaya, saat membuka Seminar Jejak Peradaban bertema Resiliensi Budaya pada Era Disrupsi, di Kulon Progo, Sabtu (6/12/2025). (Olivia Rianjani)

JOGJA - Keraton Yogyakarta menegaskan pentingnya kehadiran budaya Indonesia di ruang digital, khususnya media sosial, yang kini menjadi salah satu ruang publik terbesar di dunia. Hal ini disampaikan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan Nitya Budaya, saat membuka Seminar Jejak Peradaban bertema Resiliensi Budaya pada Era Disrupsi, di Kulon Progo, Sabtu (6/12/2025).

Menurutnya, Indonesia memiliki jumlah pengguna media sosial yang sangat besar. Hal ini membuka peluang bagi generasi Milenial dan Gen Z untuk menghadirkan budaya Indonesia sebagai konten yang dominan di platform digital.

"Dengan adanya media sosial, kita bisa dengan mudah melihat budaya dari berbagai negara. Tapi yang sebenarnya kita perlukan adalah bagaimana kita secara sadar dan bijak menghiasi media sosial dengan budaya kita sendiri,” ujar GKR Bendara.

GKR Bendara menekankan bahwa pandangan generasi muda jauh dari budaya tidak sepenuhnya tepat. Menurutnya, mereka justru memerlukan akses informasi yang akurat dan bertanggung jawab untuk memahami budaya.

"Generasi Milenial dan Gen Z bukan tidak peduli budaya. Mereka hanya membutuhkan akses pada informasi yang akurat dan bertanggung jawab,” katanya.

Ia juga menyebut Keraton hadir untuk membuka sumber-sumber budaya yang sebelumnya hanya eksklusif di lingkungan Keraton, sehingga masyarakat luas dapat memanfaatkannya. Transformasi budaya dari simbol, motif, hingga produk sehari-hari yang awalnya berasal dari Keraton menjadi salah satu fokus GKR Bendara.

"Budaya tetap hidup dan relevan melalui transformasi naratif, bukan hanya pelestarian fisik atau virtual," tuturnya.

Selain itu, GKR Bendara menyinggung sejarah transformasi budaya Yogyakarta, khususnya pada era Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, ketika budaya mengalami hibridisasi dengan unsur Eropa. Dari busana, gastronomi, hingga seni visual, budaya setempat beradaptasi dengan perkembangan zaman.

"Pelestarian itu bukan hanya soal konservasi fisik dan virtual. Yang jauh lebih penting adalah transformasi naratif agar budaya kita relevan bagi generasi digital,” jelasnya.

Baca juga: Hadiri Konferda PDIP di Jogja, Hasto Kritik Ekspansi Sawit dan Singgung Ajaran “Merawat Pertiwi” Megawati untuk Atasi Krisis Lingkungan

Kendati demikian, GKD Bendara menekankan bahwa ruang digital kini bisa menjadi panggung baru bagi budaya Nusantara.

"Kita serahkan kepada Gen Milenial dan Gen Z untuk menghiasi ruang digital dengan budaya yang mereka butuhkan. Informasi adalah kunci,” ucapnya.

Selain itu, transformasi simbol-simbol budaya juga berdampak pada ekonomi masyarakat. UMKM kini memproduksi motif, bentuk, dan produk yang sebelumnya eksklusif Keraton, seperti Projokino dan Kumu.

Seminar Jejak Peradaban tahun ini mengangkat empat topik warisan budaya, yaitu Jamu dan Jampi, Budaya Visual, Perak dan Perhiasan, serta Jamuan ala Rijsttafel.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Keraton Yogyakarta Dorong Generasi Milenial dan Gen Z Jadikan Budaya Indonesia Dominan di Medsos

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!