Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 02 DESEMBER 2025 • 14:40 WIB

Hadiri Diskusi UGM Soal Thrifting, Puteri Indonesia 2023 Serukan Tolak Impor Pakaian Bekas, Ajak Konsumen Cintai Produk Lokal

Hadiri Diskusi UGM Soal Thrifting, Puteri Indonesia 2023 Serukan Tolak Impor Pakaian Bekas, Ajak Konsumen Cintai Produk LokalPuteri Indonesia 2023, Farhana Nariswari (Istimewa)

JOGJA - Fenomena thrifting atau berburu pakaian bekas kini telah berubah dari sekadar cara berhemat menjadi tren gaya hidup di kalangan generasi muda. Namun, tren ini ternyata menimbulkan dampak kompleks, termasuk memicu budaya overconsumption dan memperbesar krisis lingkungan akibat limbah tekstil dari fast fashion.

Selain berdampak pada lingkungan, praktik thrifting impor juga menimbulkan tantangan bagi produk dan industri lokal. Pemerintah pun merespons dengan kebijakan penghentian impor pakaian bekas.

Baca juga: Dosa Ekologis di Balik Banjir Bandang 2025, Peneliti UGM Desak Pemerintah Tegakkan Tata Ruang dan Lindungi Hutan Hulu

Menanggapi hal itu, Brand Ambassador Sahabat Lingkungan, Pujia Nuryamin Akbar, menyoroti risiko lingkungan dari penggunaan pakaian bekas, terutama yang berbahan polyester. Menurutnya, bahan ini mengandung mikroplastik yang tidak hanya menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA), tetapi juga berakhir di lautan ketika dicuci.

Sebagian besar terbuat dari bahan yang mengandung mikroplastik. Partikel ini tidak hanya berakhir di TPA, tetapi juga ketika dicuci mikroplastik ini akan meluruh dan akan berakhir di lautan,” ujar Pujia dalam Diskusi Komunikasi Magister (Diskoma) Fisipol UGM bertajuk “Di balik Euforia Thrifting: Gaya Hidup, Krisis Lingkungan, hingga Ilusi Keberlanjutan”, belum lama ini secara daring.

Pujia juga menyinggung sejarah istilah thrift. Sejak abad ke-14, istilah ini mengacu pada nilai kehematan dan penggunaan sumber daya secara bijaksana. Namun, perkembangan thrifting modern menurutnya tak bisa dilepaskan dari budaya overconsumption yang dipicu tren digital.

"Thrifting masuk ke Indonesia melalui pelabuhan di Sumatera, Batam, dan Sulawesi pada abad ke-19," katanya.

Sementara itu, Puteri Indonesia 2023, Farhana Nariswari, menguraikan dampak fast fashion serta ketimpangan distribusi limbah tekstil global. Menurut data yang ia sampaikan, sebagian besar pakaian donasi dari negara maju justru berakhir di negara berkembang.

"Hanya sekitar 10 persen pakaian donasi yang benar-benar dipakai kembali. Sisanya 90 persen menjadi limbah yang berakhir di negara-negara berkembang,” ujarnya.

Baca juga: Libatkan 300 UMKM, Batik Putra Boko Hadir dengan Interior Otentik Dengan Motif Khas Candi Boko, Harga Merakyat Mulai Rp 14 Ribu

Lebih lanjut, Farhana menekankan pentingnya apresiasi terhadap produk lokal. Ia memperkenalkan konsep produk buatan tangan berkualitas tinggi (artigianale) dan mengaitkannya dengan kekayaan tekstil Indonesia, seperti tenun dan batik.

Saya menggunakan kain dari berbagai daerah dalam sesi pemotretan dan berbagai kegiatan selama rangkaian acara Puteri Indonesia sebagai bentuk dukungan kepada para perajin lokal,” pungkas Farhana. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Hadiri Diskusi UGM Soal Thrifting, Puteri Indonesia 2023 Serukan Tolak Impor Pakaian Bekas, Ajak Konsumen Cintai Produk Lokal

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!