Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 29 SEPTEMBER 2025 • 14:50 WIB

Cerita Ibu Tunggal Menjadi Mahasiswa Double Degree UGM Raih Penghargaan di Konferensi Mikrobiologi Bergengsi di Jerman

Cerita Ibu Tunggal Menjadi Mahasiswa Double Degree UGM Raih Penghargaan di Konferensi Mikrobiologi Bergengsi di JermanTiara Putri, mahasiswi program doktoral double degree dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan University of Greifswald, Jerman (Istimewa (via e-mail))

JOGJA - Tiara Putri, mahasiswi program doktoral double degree dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan University of Greifswald, Jerman, berhasil menorehkan prestasi membanggakan di ajang internasional. Ia meraih penghargaan Poster Prize dalam 77th Annual Conference of The German Society for Hygiene and Microbiology (DGHM) yang digelar di Jena, Jerman, pada 22–24 September 2025. Konferensi bergengsi yang diikuti oleh 188 peserta dari berbagai negara itu menjadi ajang bergengsi bagi para peneliti bidang mikrobiologi di Eropa.

Tiara mempresentasikan hasil penelitiannya melalui poster berjudul “Impact of pneumolysin, hydrogen peroxide, and Streptococcus pneumoniae strains on blood–CSF barrier integrity in a human choroid plexus co-culture model”. Penelitian ini mengungkap mekanisme kerusakan yang disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae terhadap sistem blood-cerebrospinal fluid barrier komponen penting dalam sistem saraf pusat manusia.

Bersyukur bisa mendapatkan penghargaan ini. Rasanya bangga karena bisa mewakili Indonesia di forum ilmiah sebesar ini,” ujar Tiara saat dihubungi pada Senin (29/9/2025).

Tiara saat ini sedang menempuh pendidikan S3 melalui program gelar ganda di Fakultas Biologi UGM dan Department of Molecular Genetics and Infection Biology, University of Greifswald. Ia mengatakan bahwa pengalaman belajar di dua institusi berbeda memberikan perspektif yang luas serta memperkaya proses risetnya.

Baca juga: Kasus Keracunan Massal MBG di Jogja, Sultan HB X Soroti Kualitas Masak Dini Hari : "Masak Jam 2 Pagi, Ya Mesti Keracunan"

UGM memberi saya fondasi kuat di bidang biologi, sementara di Greifswald saya mendapatkan akses ke fasilitas riset modern dan kolaborasi dengan para profesor dari berbagai institusi riset di Jerman,” jelasnya.

Ia menambahkan, kombinasi dua lingkungan akademik itu membentuknya menjadi peneliti yang lebih kritis, kolaboratif, dan tangguh dalam menghadapi tantangan. Namun di balik prestasinya, Tiara juga harus menghadapi tantangan besar sebagai orang tua tunggal yang menjalani studi dan riset di luar negeri. Mengatur waktu antara laboratorium dan mengasuh anak menjadi keseharian yang tidak mudah.

Menjadi ibu tunggal sambil menjalani riset S3 di negara orang bukan hal sederhana. Tapi saya bersyukur, panitia konferensi kemarin menyediakan fasilitas penitipan anak gratis dengan pengasuh profesional selama acara berlangsung. Itu sangat membantu saya bisa fokus mengikuti seluruh sesi konferensi,” ungkapnya.

Ia mengaku terkesan dengan konsep konferensi internasional yang ramah keluarga dan berharap hal seperti itu bisa menjadi inspirasi di negara lain, termasuk Indonesia.

Ini membuktikan bahwa riset dan keluarga bisa berjalan beriringan kalau ada dukungan yang tepat,” ujarnya.

Baca juga: 14 Dosen UGM Masuk Daftar 2% Ilmuwan Paling Berpengaruh di Dunia Versi Stanford

Tiara berpesan kepada mahasiswa dan peneliti muda Indonesia untuk tidak takut bermimpi besar dan menjalin kolaborasi internasional.

Tantangan pasti ada. Tapi dengan kerja keras, dukungan akademik yang kuat, dan lingkungan yang inklusif, kita bisa memberi kontribusi nyata dan diakui di tingkat global,” pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Cerita Ibu Tunggal Menjadi Mahasiswa Double Degree UGM Raih Penghargaan di Konferensi Mikrobiologi Bergengsi di Jerman

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!