Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 15 SEPTEMBER 2025 • 16:30 WIB

Anak Keluarga Dosen UGM Luncurkan Buku “Celoteh Cah Bulaksumur”, Ceritakan Nostalgia Remaja Era 60-80an

Anak Keluarga Dosen UGM Luncurkan Buku “Celoteh Cah Bulaksumur”, Ceritakan Nostalgia Remaja Era 60-80anPeluncurkan Buku “Celoteh Cah Bulaksumur”. (Istimewa (via e-mail))

JOGJA - Sebuah buku antologi berjudul Celoteh Cah Bulaksumur resmi diluncurkan di Museum Universitas Gadjah Mada (UGM), belum lama ini. Buku setebal 412 halaman ini merupakan kumpulan 93 esai karya 41 penulis, yang semuanya merupakan anak-anak dari keluarga dosen UGM yang pernah tinggal di kompleks perumahan Bulaksumur pada era 1965–1985.

Acara peluncuran buku turut dihadiri oleh para penulis, keluarga besar mantan warga Bulaksumur, serta tamu undangan dari kalangan akademisi. Suasana peluncuran terasa akrab dan penuh nostalgia, apalagi saat beberapa penulis seperti Wihana Kirana Jaya, Wijayanti Subronto, Tyas Utami, dan Rizon Pamardhi Utomo membacakan cuplikan cerita mereka di depan hadirin.

Buku ini mengangkat kenangan masa remaja para penulis di kawasan Bulaksumur, Yogyakarta, yang mana sebuah wilayah yang dikenal sebagai pusat kehidupan akademik UGM, sekaligus tempat tinggal bagi banyak dosen dan keluarganya.

Selain menghadirkan potret kehidupan remaja tempo dulu, Sri Rudiatin Siswanto, yang akrab disapa Tenong, selaku editor buku, menjelaskan bahwa buku ini juga menjadi gambaran dinamika sosial budaya yang berkembang di lingkungan intelektual tersebut.

"Buku ini seperti album foto yang hidup kembali. Siapa pun yang tumbuh di Yogyakarta pada era 60-an sampai 80-an akan menemukan dirinya dalam cerita-cerita ini,” ujar Tenong.

Menurut Tenong, para penulis membagikan cerita masa kecil dan remaja mereka dengan latar kehidupan kampus yang sederhana—jauh dari teknologi seperti sekarang. Cerita-cerita dalam buku ini mencakup beragam topik, mulai dari permainan tradisional di lorong-lorong perumahan, pengalaman sekolah di SMA sekitar Yogyakarta, hingga kisah kuliah di UGM.

"Melalui buku ini, kami ingin menunjukkan bagaimana nilai-nilai kebersamaan, solidaritas, dan kegembiraan dalam kesederhanaan bisa menjadi bekal hidup yang luar biasa. Itu yang kami alami di Bulaksumur dulu," tuturnya.

Baca juga: Dukung DIY Jadi Pusat Wisata Kebugaran Nasional, UGM Siap Dukung Secara Akademik Hingga Praktik

Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UGM, Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra, yang juga menjadi salah satu penulis dalam buku ini, menyebut karya tersebut sebagai sebuah “biografi kolektif”.

"Ini bukan sekadar buku kenangan, tapi catatan hidup sebuah komunitas intelektual. Ini cara kami berterima kasih kepada bapak dan ibu kami, para dosen UGM, yang telah membesarkan kami di lingkungan penuh nilai dan ilmu,” ujar Heddy.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Aset, dan Sistem Informasi UGM, Arief Setiawan Budi Nugroho, mengapresiasi terbitnya buku tersebut. Ia menyebut bahwa pelestarian kawasan Bulaksumur bukan hanya soal bangunan fisik, tetapi juga memori kolektif yang dimilikinya.

"Saya membayangkan isi buku ini akan sangat menarik, karena banyak hal yang sudah tidak ditemui di era sekarang. Permainan masa kecil, interaksi sosial tanpa gawai, dan suasana kekeluargaan yang kental, itu semua sangat berharga untuk diabadikan,” ungkap Arief.

Baca juga: Dosen UGM Desak Kembali Investigasi Mendalam Soal Penembakan Diplomat RI di Peru

Menurut Arief, kompleks Bulaksumur memang bukan kawasan biasa. Selain menjadi bagian penting dari sejarah UGM, kawasan ini juga sempat menjadi tempat tinggal Barack Obama kecil ketika tinggal di Yogyakarta bersama keluarganya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Anak Keluarga Dosen UGM Luncurkan Buku “Celoteh Cah Bulaksumur”, Ceritakan Nostalgia Remaja Era 60-80an

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!