Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Minggu, 24 AGUSTUS 2025 • 15:35 WIB

Guru Besar Pertanian UGM Sebut Hilirisasi Produk Kelapa Dinilai Bisa Genjot Ekspor Hingga Rp 2.600 Triliun

Guru Besar Pertanian UGM Sebut Hilirisasi Produk Kelapa Dinilai Bisa Genjot Ekspor Hingga Rp 2.600 TriliunBuah kelapa. (Istimewa (via e-mail))

JOGJA - Permintaan global terhadap produk turunan kelapa seperti santan, minyak kelapa murni (VCO), dan olahan lainnya terus menunjukkan tren peningkatan. Kondisi ini dinilai menjadi peluang emas bagi Indonesia untuk mendorong hilirisasi industri kelapa secara masif.

Melihat hal itu, Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Umar Santoso, mengungkapkan bahwa saat ini, nilai ekspor produk kelapa Indonesia masih didominasi oleh bentuk mentah dengan nilai sekitar Rp 26 triliun. Namun, dengan strategi hilirisasi yang terencana dan pengolahan yang dilakukan di dalam negeri, nilai tersebut diprediksi bisa melonjak drastis hingga menyentuh angka Rp 2.600 triliun.

Hilirisasi ini penting segera dijalankan. Potensinya sangat besar karena kelapa itu The Tree of Life, semua bagiannya bisa dimanfaatkan,” ujarnya, Sabtu (24/8/2025).

Menurutnya, hilirisasi tidak hanya berfokus pada pengolahan bahan utama seperti daging kelapa, tetapi juga pada hasil samping yang selama ini belum dimaksimalkan. Produk seperti minyak kelapa, VCO, serta air kelapa, sabut, tempurung, hingga kulit ari (testa) dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tinggi di berbagai sektor, termasuk industri kreatif dan oleokimia.

Kalau ini diproses jadi produk setengah jadi atau jadi, tentu nilai tambahnya besar, baik untuk industri maupun petani,” jelas Umar.

Baca juga: Ekonom UGM Ungkap Faktor Ini Jadi Maraknya Fenomena “Rojali” dan “Rohana"

Meski teknologi pengolahan dinilai sudah memadai, Umar menekankan bahwa tantangan besar yang dihadapi saat ini justru berada pada aspek pasokan bahan baku. Ia menilai perlunya peremajaan tanaman kelapa secara nasional melalui program replanting, agar produksi tetap terjaga dalam jangka panjang.

"Tantangan ke depan saya kira ada pada keberlanjutan bahan baku. Karena itu peningkatan produksi melalui replanting harus menjadi prioritas,” tegasnya.

Umar juga menggarisbawahi pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam mendukung proses hilirisasi. Menurutnya, kampus seperti UGM siap mendukung melalui riset, inovasi teknologi, serta pendampingan kepada petani dan pelaku industri. Keterlibatan mahasiswa juga dinilai bisa memberi dampak langsung di lapangan.

Peran perguruan tinggi sangat strategis dalam mendukung revitalisasi kelapa, terutama melalui riset dan keterlibatan langsung,” imbuhnya.

Lebih lanjut, ia menekankan agar hilirisasi tidak hanya menguntungkan industri besar, tapi juga mampu mengangkat kesejahteraan petani. Ia mendorong adanya model kemitraan yang adil dan partisipatif, bahkan memungkinkan petani ikut memiliki saham di sektor hilir.

Usahakan petani juga punya saham atau diikutkan dalam usaha industri kelapa, jangan sampai perusahaan besar untung sementara petani tidak kebagian,” ujarnya.

Baca juga: Saran Pakar UGM Soal Ramai Royalti Lagu

Sementara dari sisi regulasi, ia mendorong pemerintah melalui Kementerian Pertanian dan Kementerian Perindustrian untuk memperkuat industri kelapa nasional yang sudah ada. Menurutnya, keberpihakan kepada petani harus dijaga, termasuk dengan mendengarkan aspirasi mereka dalam setiap kebijakan yang dibuat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Keterangan Pers

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Guru Besar Pertanian UGM Sebut Hilirisasi Produk Kelapa Dinilai Bisa Genjot Ekspor Hingga Rp 2.600 Triliun

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!