Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 11 AGUSTUS 2025 • 14:15 WIB

Di Hadapan 6.000 Mahasiswa Baru UPNVY Hari Ini, Stafsus Kemenhan Dedy Corbuzier : Ancaman Bangsa Bukan Senjata Tapi Konten Medsos

Di Hadapan 6.000 Mahasiswa Baru UPNVY Hari Ini, Stafsus Kemenhan Dedy Corbuzier : Ancaman Bangsa Bukan Senjata Tapi Konten MedsosStaf Khusus Kementerian Pertahanan RI, Letkol TNI Tituler Deodatus Andreas Dedy Cahyadi Sundjoyo atau Dedy Corbuzier saat hadiri Sidang Terbuka Senat dalam rangka Pengenalan Kehidupan Bela Negara, yang digelar di UPNV Yogyakarta. (Olivia Rianjani)

JOGJA - Sidang Terbuka Senat dalam rangka Pengenalan Kehidupan Bela Negara bagi sekitar 6.000 mahasiswa baru UPN “Veteran” Yogyakarta (UPNVYK) berlangsung meriah dan penuh semangat di Auditorium kampus, Senin (11/8/2025). Acara ini menghadirkan Staf Khusus Kementerian Pertahanan RI, Letkol TNI Tituler Deodatus Andreas Dedy Cahyadi Sundjoyo atau yang lebih dikenal publik sebagai Dedy Corbuzier.

Dalam sesi pemaparannya, Dedy menekankan bahwa tantangan bela negara di era modern tidak lagi berbentuk senjata atau serangan fisik, melainkan melalui penyebaran informasi menyesatkan di ruang digital. Ia menyebut hoaks, adu domba, framing opini, dan tayangan tak mendidik sebagai bentuk ancaman baru yang perlu diwaspadai generasi muda.

Sekarang ini, serangan terhadap bangsa datang bukan lewat bom, tapi lewat konten. Salah satunya lewat tayangan sinetron azab yang menanamkan logika tidak sehat,” ujar Dedy.

Dedy juga mengkritisi maraknya konten media sosial yang sarat kepalsuan dan minim nilai edukasi. Menurutnya, instastory galau dan perdebatan tak bermutu di TikTok atau Facebook secara tak sadar melemahkan daya pikir masyarakat.

"Kita dicuci otak lewat filter AI. Tanpa disadari, logika kita dirusak. Karena itu, bela negara sekarang bukan hanya soal fisik, tapi soal bela logika,” tegasnya.

Baca juga: Dukung Program Kali Bersih Oleh Pemkot Yogya, Sultan HB X Sebut Kebersihan Tergantung Aliran Sungai Bantul dan Sleman

Selain itu, ia juga mengingatkan, sejarah penjajahan masa lalu seperti yang dilakukan Belanda melalui politik "divide et impera" bisa kembali terulang jika masyarakat, khususnya generasi muda, terjebak dalam polarisasi yang dibangun oleh opini salah di media sosial.

Jangan sampai bangsa ini dipecah oleh bangsanya sendiri. Pertahankan kedaulatan lewat logika, dedikasi, dan potensi yang kalian miliki,” pesannya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Bela Negara Kementerian Pertahanan RI, Brigjen TNI G. Eko Sunarto, mengajak mahasiswa untuk meneladani semangat perjuangan para pendahulu bangsa yang meletakkan nilai bela negara di atas segalanya. 

Indonesia ini berdiri karena para pejuang kita punya hati nurani bela negara. Itu harus terus kita tularkan,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa tantangan seperti radikalisme, penyalahgunaan narkoba, hingga kejahatan siber kini menjadi nyata dan semakin kompleks.

"Batas antara perang dan damai semakin tipis. Di situlah kualitas sumber daya manusia menjadi kunci. Bela negara harus jadi kesadaran kolektif, tertanam kuat di hati dan sanubari,” jelas Eko.

Sementara itu, Rektor UPN Veteran Yogyakarta, Prof. Dr. M. Irhas Effendi, menegaskan komitmen kampusnya sebagai perguruan tinggi negeri satu-satunya yang menjadikan bela negara sebagai bagian inti dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Kami memiliki peta jalan bela negara, lengkap dengan indikator sikap dan perilaku berbasis nilai bela negara. Ini satu-satunya di Indonesia,” tegasnya.

Baca juga: Geger Warga Sleman Temukan Mortir Aktif Saat Menggali Tanah, Diledakkan Tim Gegana Hari Ini

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Di Hadapan 6.000 Mahasiswa Baru UPNVY Hari Ini, Stafsus Kemenhan Dedy Corbuzier : Ancaman Bangsa Bukan Senjata Tapi Konten Medsos

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!