Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Rabu, 30 JULI 2025 • 14:40 WIB

Banyak Kejanggalan Pada Kematian Arya Daru, Pakar Sosiolog Kriminalitas UGM Minta Penyidik Untuk Kaji Ulang "PR" Ini

Banyak Kejanggalan Pada Kematian Arya Daru, Pakar Sosiolog Kriminalitas UGM Minta Penyidik Untuk Kaji Ulang PR IniSosok Arya Daru Pangayunan, alumnus S-1 Ilmu Hubungan Internasional angkatan 2005. (Istimewa)

JOGJA - Hasil konferensi pers Polda Metro Jaya yang menyimpulkan kematian diplomat muda Kementerian Luar Negeri (Kemenlu RI), Arya Daru Pangayunan yang menyebutkan tidak ada tanda-tanda tindak pidama kembali menuai sorotan dari berbagai kalangan, termasuk Pakar Sosiologi Kriminalitas UGM, Soeprapto.

Menurut Soeprapto menyampaikan bahwa masih banyak hal yang perlu dikaji lebih dalam oleh aparat penegak hukum, mengingat sejumlah kejanggalan yang belum terjawab secara ilmiah maupun logis.

"Sebelum saya menyampaikan pandangan, pertama tentu kita perlu mengapresiasi kerja keras pihak kepolisian, tim dokter forensik, psikologi forensik, dan digital forensik yang sudah melakukan upaya maksimal. Tetapi itu adalah hasil maksimal dari mereka, dan kami dari sisi sosiologi kriminalitas masih melihat banyak pekerjaan rumah yang belum selesai," ujarnya kepada wartawan, saat diwawancara melalui sambungan telpon, pada Rabu (30/7/2025).

Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah keberadaan handphone korban yang disebut hilang.

"Dulu dinyatakan tidak ada barang yang hilang dan tidak ada tanda kekerasan. Tapi ternyata handphone korban tidak ditemukan. Ini seharusnya menjadi barang bukti penting karena bisa mengungkap aktivitas terakhir korban, isi komunikasi, bahkan kondisi psikologisnya melalui interaksi digital," ujar Soeprapto.

Baca juga: Tak Percaya Rilis Polda Metro Jaya, Keluarga Arya Daru Berencana Tempuh Jalur Hukum

Selain itu, mekanisme penguncian pintu kamar tempat korban ditemukan juga menjadi pertanyaan. Menurut Soeprapto, tidak ada bukti yang benar-benar menunjukkan bahwa slot pintu dikunci dari dalam oleh korban sendiri.

Disebutkan ada tiga kunci yaitu kartu, kunci biasa, dan slot. Kita belum bisa memastikan apakah slot benar-benar dikunci oleh korban. Sangat mungkin dia belum menguncinya karena masih bolak-balik keluar masuk, misalnya saat buang sampah,” katanya.

Ia juga menyoroti tayangan video CCTV yang dinilai hanya memperlihatkan sebagian kecil kronologi dan tidak disertai dengan penjelasan komprehensif dalam bentuk analisis ilmiah seperti yang lazimnya dilakukan dalam scientific investigation crime.

Dalam dunia akademik, proses ilmiah itu tidak hanya penyajian data, tapi juga analisis dan interpretasi. Jika ada temuan email misalnya, harusnya juga dikaji siapa yang dihubungi dan bagaimana kondisi psikologis korban saat itu,” tegasnya.

"Lalu, pada video yang memperlihatkan korban membuang sampah tidak memperlihatkan kondisi pintu. Bisa jadi, saat pintu terbuka itulah ada orang masuk. Ini perlu dikaji dari CCTV secara utuh, termasuk frame yang tidak ditayangkan ke publik," ucapnya.

Tidak Ada Indikasi Tanda Bunuh Diri

Kejanggalan lain, lanjut Soeprapto, yakni cara pria asal Bantul itu meninggal yang disebut menyumbat saluran pernapasan dengan lakban. Ia pun meragukan kemungkinan seseorang bisa melakukan itu sendiri dalam keadaan sadar.

"Kalau seseorang melakban kepala sendiri dengan rapi, apalagi sampai menyumbat hidung dan mulut, itu sangat tidak masuk akal. Baik secara teknis maupun naluri bertahan hidup manusia, ini sulit dijelaskan," ungkapnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Banyak Kejanggalan Pada Kematian Arya Daru, Pakar Sosiolog Kriminalitas UGM Minta Penyidik Untuk Kaji Ulang "PR" Ini

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!