Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Jumat, 18 JULI 2025 • 16:50 WIB

Kisah Puspa, Wanita Asal Yogya Jadi Korban Penipuan Kerja Migran Ilegal: Dipaksa Jadi Scammer di Kamboja, Target Tipu 300 WNI Per Bulan

Kisah Puspa, Wanita Asal Yogya Jadi Korban Penipuan Kerja Migran Ilegal: Dipaksa Jadi Scammer di Kamboja, Target Tipu 300 WNI Per BulanSaat Dinsos DIY akan rehabilitasi kasus scamming terhadap warganya di Kamboja (Istimewa)

JOGJA - Puspa (24), perempuan asal Yogyakarta, menjadi korban penipuan kerja imigran ilegal yang berujung pada eksploitasi berat di Kamboja. Ia dijebak untuk menjadi bagian dari jaringan penipuan online yang dijalankan oleh sindikat asing, setelah sebelumnya dijanjikan pekerjaan legal di Thailand.

Dirinya mengaku awalnya berkenalan dengan seorang perempuan di Facebook yang mengaku memiliki restoran di Thailand dan menawarkan pekerjaan sebagai staf dapur dengan gaji 900 dolar AS. Seluruh komunikasi dilanjutkan melalui WhatsApp, bahkan sempat melakukan panggilan video secara intens selama sebulan.

Dia bilang saya akan kerja di Thailand, semua dokumen dan izin kerja akan diurus di sana, seperti sistem calling visa di Singapura,” ujar Puspa, pada Jumat (18/7/2025).

Sayangnya, janji tinggal janji. Tiket pesawat yang diberikan justru menuju Ho Chi Minh, Vietnam, bukan Thailand. Dari sana, ia dijemput oleh seorang pria yang membawanya menyeberang ke Kamboja tanpa sepengetahuannya.

Saya sempat bertanya, kenapa bukan ke Thailand, tapi dia bilang tenang saja, percaya saja. Ternyata saya dibawa ke Kamboja,” ujarnya.

Di Kamboja, Puspa menyaksikan dirinya hendak diperjualbelikan. Disana, ia melihat seorang pria Tiongkok menyerahkan uang kepada orang yang membawanya. Ia lalu dipaksa tinggal dan bekerja di sebuah gedung penuh pekerja migran, kebanyakan dari Indonesia, yang bekerja sebagai scammer.

Saya cuma lulusan SMP, tidak tahu komputer. Tapi saya dipaksa kerja nipu orang Indonesia. Kalau tidak, saya bisa kena denda atau hukuman. Kata mereka, ‘Kamu tidak bisa dipenjara karena korbanmu orang Indonesia juga," katanya.

Lanjut Puspa menjelaskan, dirinya bekerja dalam sistem tim yang terbagi dalam posisi customer service (CS), resepsionis, mentor, dan leader. Targetnya adalah menipu warga Indonesia (WNI) hingga Rp 300 juta per bulan. Jika tidak mencapai target, gaji tidak dibayarkan. Korban yang berhasil ditipu akan diarahkan untuk mengunduh aplikasi tidak resmi, lalu diminta melakukan top-up uang secara bertahap, mulai dari ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah.

Mereka pakai grup Telegram. Ada satu korban dan empat akun palsu yang isinya orang yang mengaku polisi, tentara, atau perempuan cantik. Semuanya settingan untuk membangun kepercayaan,” bebernya.

Jika ada korban tergiur dan mengisi saldo, mereka akan ditipu habis-habisan dengan alasan sistem error, kesalahan VIP, atau pajak tambahan.

"Kalau saldo korban Rp50 juta, nanti dia disuruh bayar Rp100 juta lagi agar bisa cair. Tapi tetap tidak bisa. Itu semua skenario penipuan,” ungkapnya.

Disiksa dan Dikenai Denda Tak Masuk Akal

Selain itu, Puspa hidup dalam tekanan fisik dan mental selama bekerja di sana. Jika tidak mencapai target, ia bisa dipukul, disetrum, atau bahkan dilempar dari lantai tiga, ini sebuah perlakuan yang dialami temannya.

Kalau masuk ruangan bos, itu sudah ada setrum, pistol, dan tongkat panjang,” katanya.

Selain itu, hukuman berupa denda diterapkan untuk alasan sepele.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Kisah Puspa, Wanita Asal Yogya Jadi Korban Penipuan Kerja Migran Ilegal: Dipaksa Jadi Scammer di Kamboja, Target Tipu 300 WNI Per Bulan

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!