Selasa, 21 JULI 2026 • 17:45 WIB

UGM dan University Melbourne Soroti Sisi Gelap AI: Dari Etika, Kekuasaan, Hingga Masa Depan Manusia

Author

The 6th Australia - Indonesia in Conversation (AIC) 2026 di Yogyakarta, Senin (20/7/2026). (Istimewa)

JOGJA - Perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) yang kian masif ini tak lagi sekadar menawarkan kemajuan teknologi, tetapi juga memicu persoalan serius terkait etika, relasi kekuasaan, hingga keberlanjutan hidup manusia. Menanggapi dinamika tersebut, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Faculty of Arts, The University of Melbourne menggelar The 6th Australia - Indonesia in Conversation (AIC) 2026 di Yogyakarta, Senin (20/7/2026).

Mengusung tema Is AI the Game-Changer? Intelligence Unbound yakni Ethics, Power, and the Imagination of Life in the Digital Age, forum tahunan ini mempertemukan para akademisi dari Indonesia dan Australia. Mereka membedah AI melalui kacamata ilmu sosial dan humaniora, mulai dari aspek etika, politik pengetahuan, kreativitas, hingga dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.

Dekan FISIPOL UGM, Wawan Mas’udi, S.IP., MPA., Ph.D., menyampaikan bahwa forum ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat kemitraan strategis yang telah terjalin lebih dari 15 tahun antara UGM dan The University of Melbourne. Kemitraan tersebut meliputi program joint degree, double degree, pertukaran mahasiswa dan dosen, hingga riset kolaboratif.

Disebutnya, gagasan forum ini sendiri pertama kali digagas saat pandemi COVID-19 untuk menyediakan ruang diskusi yang lebih setara dan cair dibanding konferensi akademik formal pada umumnya.

"Australia - Indonesia in Conversation merupakan salah satu milestone strategis dari hubungan kami dengan teman-teman di The University of Melbourne. Di dalam conversation ini artinya ada exchange of knowledge, exchange of experience, dan upaya saling menginspirasi terkait berbagai dinamika sosial, politik, ekonomi, kebudayaan, termasuk tata kelola perguruan tinggi," ujar Wawan.

Baca juga: 80 Persen APBN dari Pajak, Guru Besar UGM Ingatkan Kunci Pengawasan Pajak Ada di Data Akuntansi

Sementara itu, perwakilan The University of Melbourne, Assoc. Prof. Edwin Jurriëns, menjelaskan bahwa AI dipilih sebagai fokus utama AIC 2026 karena pengaruhnya yang sangat luas. Namun, ia menekankan agar pembahasan tidak terjebak pada kecanggihan fitur semata, melainkan dampaknya pada identitas, relasi sosial, serta kebudayaan.

Edwin mendorong masyarakat agar lebih kritis melihat berbagai kepentingan di balik pengembangan teknologi tersebut.

"Yang penting bukan hanya teknologinya, tetapi juga pengambilan keputusan politik di baliknya, kepentingan ekonomi di baliknya," tegas Edwin.

Adapun rangkaian diskusi ini terbagi ke dalam dua panel utama yakni anel pertama bertajuk Governing Intelligence Ethics, Power, and the Politics of Knowing menyoroti pentingnya tata kelola AI yang transparan, inklusif, dan akuntabel.

Dalam sesi ini, Prof. Robert Hassan memperkenalkan konsep Homo Analogicus untuk menggambarkan hakikat manusia yang berkembang melalui interaksi nyata.

"Fakta bahwa kita berhenti berevolusi secara fisik ketika menjadi manusia modern adalah karena teknologi telah mengambil alih begitu banyak peran, sehingga kita tidak perlu lagi beradaptasi dengan lingkungan kita," jelas Robert.

Sementara pada panel kedua bertajuk Sustaining Imagination Eco-Aesthetics, Creativity, and the Ethics of Intelligent Futures, para pembicara menekankan bahwa AI tidak seharusnya menggeser kreativitas manusia, melainkan menjadi alat bantu untuk berinovasi dan menyelesaikan masalah sosial.

Edwin Jurriens kembali mengingatkan agar arah pengembangan AI tetap menaruh perhatian pada nilai-nilai kemanusiaan dan lingkungan.

Baca juga: Peletakan Batu Pertama Gedung Baru Polda DIY Hari Ini, Kapolri : Gedung Paling Canggih Berbasis Smart City Dan AI

Oleh karena itu, sebagai langkah konkret ke depan, UGM dan The University of Melbourne berkomitmen menindaklanjuti hasil diskusi AIC 2026 melalui publikasi ilmiah bersama, seperti edited volume, guna memperkaya diskursus global mengenai pemanfaatan AI yang etis dan berorientasi pada publik.

"Yang menjadi pertanyaan bukan hanya bagaimana teknologi berkembang, tetapi juga bagaimana masa depan manusia, relasi antarmanusia, dan posisi kita di tengah perubahan yang berlangsung sangat cepat," tandas Edwin.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Di Grup WA

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU