JOGJA - Impian tidak akan pernah menjadi kenyataan jika hanya disimpan di dalam hati dan pikiran. Hal itulah yang dibuktikan oleh Rofi Arif Robbani, alumnus SMA Negeri 1 Maos, Cilacap, Jawa Tengah.
Lewat kerja keras, manajemen waktu yang ketat, dan ketekunan, anak seorang penjual ikan keliling ini sukses diterima di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Kebahagiaannya kian lengkap setelah ia dinyatakan mendapat subsidi UKT 100 persen alias kuliah dengan biaya nol rupiah.
Selama duduk di bangku SMA, Rofi dikenal sebagai siswa yang aktif. Hari-harinya diisi dengan belajar, berorganisasi, melakukan penelitian, hingga mengikuti berbagai kompetisi. Bagi Rofi, setiap tanggung jawab harus diselesaikan dengan skala prioritas yang jelas.
Komitmen itu ia buktikan saat harus menyelesaikan penelitian untuk Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) di tengah persiapan ujian akhir sekolah. Kerja kerasnya membuahkan hasil manis dengan koleksi delapan penghargaan dari tingkat kabupaten, nasional, hingga internasional.
Beberapa prestasinya antara lain Juara 1 Festival ELINS FMIPA UGM 2024, Silver Medal Indonesia International Applied Science Project Olympiad (I2ASPO) 2023, serta Bronze Medal International Science and Invention Fair (ISIF) 2023. Di luar kompetisi, ia juga memimpin Duta Literasi Perpustakaan Griya Pasinaon dan aktif dalam Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) di sekolahnya.
Benih-benih impian kuliah di UGM sejatinya tumbuh kuat saat ia menjadi finalis Festival Elektronika dan Instrumentasi (ELINS) FMIPA UGM 2024. Atmosfer kampus tersebut langsung mencuri hatinya.
"Waktu datang ke FMIPA UGM saya benar-benar bilang ke diri sendiri, pokoknya saya harus keterima UGM bagaimana pun caranya," ujarnya, Jumat (17/7/2026).
Meski mengantongi banyak prestasi di bidang sains dan rekayasa, Rofi memilih jalan berbeda dengan mengambil jurusan Psikologi. Ia memiliki misi besar untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental (mental health awareness) lintas generasi, serta membantu mengurangi konflik dalam keluarga.
Ketegangan memuncak di rumahnya yang berada di Adipala, Cilacap, sesaat sebelum pengumuman SNBP dibuka. Rofi bahkan meminta sang ibu untuk segera pulang agar bisa melihat hasilnya bersama-sama di ruang tamu.
"Yang pertama saya bilang waktu itu cuma, ‘Hah, keterima," kenang Rofi.
Tak berselang lama setelah pengumuman kelulusan, kejutan manis kembali menghampiri keluarga Rofi. Saat sedang berkumpul bersama teman-temannya, ia sempat bingung melihat nominal subsidi kuliah yang diberikan UGM. Setelah dipastikan biaya kuliahnya benar-benar nol rupiah, ia langsung melakukan panggilan video dengan sang ibu.
"Itu benar-benar sebuah berkah bagi kami. Saya jadi bisa kuliah dengan lebih tenang tanpa harus terlalu memikirkan biaya," ucap Rofi.
Keberhasilan Rofi tidak lepas dari tetesan keringat sang ayah, Hasan Ismail. Setiap pagi, Hasan berkeliling dari rumah ke rumah menjajakan ikan di wilayah Cilacap demi masa depan anak-anaknya.
"Yang penting saya usaha. Berapa pun hasilnya, itu rezeki kami," kata Hasan.
Hasan mengaku sempat heran ketika Rofi yang masih duduk di bangku SD bercita-cita kuliah di kampus sebesar UGM. Namun, ia tetap mendukung total mimpi sang anak.
"Saya tidak menyangka anak saya bisa diterima di UGM. Harapan saya, Rofi bisa kuliah dengan baik, terus berprestasi, dan memiliki masa depan yang lebih baik," ungkap Hasan.
Senada dengan sang suami, sang ibu, Suharti, yang menjadi tempat pertama Rofi berkeluh kesah, tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya atas kebijakan UKT 0 dari UGM.
"Saya sangat bersyukur, terima kasih UGM. UKT nol ini sangat membantu sehingga Rofi bisa lebih fokus belajar," ujar Suharti.
Bagi Rofi, jaket almamater UGM yang kini ia kenakan adalah bukti nyata bahwa latar belakang ekonomi keluarga bukanlah penghalang untuk meraih mimpi yang tinggi. Menatap masa depannya di UGM, ia ingin aktif berorganisasi, memperluas jaringan, dan memastikan ilmunya kelak membawa dampak positif bagi masyarakat luas.
Di akhir ceritanya, ia menitipkan sebuah pesan motivasi bagi anak-anak muda lainnya yang masih ragu mengejar cita-cita.
"Jangan pernah merasa mimpi kalian ketinggian. Jangan pernah merasa tidak punya kesempatan. Kesempatan itu akan selalu ada selama kita mau berusaha. Apa pun tantangannya, mulai saja dulu. Insyaallah apa yang dimulai dengan niat baik pasti akan mendapatkan hasil yang baik juga," pungkas Rofi.
Ke depan, Rofi bertekad melanjutkan pendidikan profesi psikolog atau studi magister demi mewujudkan cita-cita tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Melalui E-mail