Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Sabtu, 11 JULI 2026 • 14:20 WIB

Peringatkan Ancaman Kelaparan Global di 2050, Dosen UGM Sebut Manusia Bakal Rebutan Makanan :"Pemerintah Harus Lakukan Ini"

Peringatkan Ancaman Kelaparan Global di 2050, Dosen UGM Sebut Manusia Bakal Rebutan Makanan : Pemerintah Harus Lakukan IniKebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Istimewa)

JOGJA - Kerusakan lingkungan yang masif akibat eksploitasi energi fosil sejak era revolusi industri telah menciptakan "hutang" moral dan ekonomi yang sangat besar bagi peradaban manusia. Jika tidak segera dilakukan tindakan nyata, manusia diprediksi akan menghadapi masa depan suram pada tahun 2050, yakni terjebak dalam konflik memperebutkan pangan atau terpaksa menjadi pengungsi demi bertahan hidup.

Peringatan keras ini disampaikan oleh Guru Besar bidang Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik (FT) UGM, Prof. Ir. Sudaryono, M.Eng., Ph.D., IPU., dalam Valedictory Lecture bertajuk ‘Pertanggungjawaban Aksiologi Ilmu-Ilmu Teknik di Hadapan Peradaban Manusia dan Semesta’ di Auditorium SGLC FT UGM, Jumat (10/7/2026).

Baca juga: Janda di Sleman yang Hidupi Keluarga Lewat Jualan Air Omset Rp 1,5 Juta Per Bulan, Kini Anaknya Masuk UGM Tanpa Biaya

Menurut Prof. Sudaryono, sekitar 50 persen emisi karbon yang saat ini menyelimuti atmosfer bumi merupakan akumulasi dari kerusakan lingkungan yang dilakukan manusia dalam 30 tahun terakhir. Ia menegaskan bahwa krisis ini bukan hanya persoalan lingkungan hidup, melainkan ancaman langsung terhadap keberlangsungan kemanusiaan.

"Pada 2050, apabila tidak ada tindakan nyata, manusia hanya akan dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama pahit yaitu bisa bisa bertarung memperebutkan makanan dengan sesama atau meninggalkan negaranya demi bertahan hidup," ujar Sudaryono dalam pidato jelang masa purna tugasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Sudaryono menyoroti tanggung jawab etis atau aksiologi dari ilmu teknik. Ia menilai ilmu teknik memiliki sifat preskriptif yang bertujuan membawa perubahan. Namun, ia juga mengakui adanya paradoks yakni di satu sisi ilmu teknik memberdayakan lingkungan, namun di sisi lain menjadi kontributor utama kerusakan peradaban.

"Ilmu teknik harus bisa mempertanggungjawabkan aksiologinya, mempertanggungjawabkan pemanfaatannya di tingkat masyarakat. Tidak ada pilihan lain selain berubah, dan Fakultas Teknik memiliki peluang besar untuk menjadi lebih tangguh dalam menjawab tantangan ini," tegasnya.

Acara yang dipimpin oleh Dekan FT UGM, Prof. Ir. Selo, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D., IPU., ini juga menjadi momentum refleksi atas dedikasi akademik Prof. Sudaryono selama berkarya di UGM. Prof. Selo mengenang sosok seniornya tersebut sebagai mentor yang mengajarkan nilai kepemimpinan berbasis empati.

"Satu ungkapan beliau yang saya terapkan di Fakultas Teknik yaitu diilengke, dielokke, dan dieman (diingatkan, diperbaiki, dan disayangi)," ungkap Selo.

Baca juga: Sentil Krisis Lingkungan, Dosen UGM Sebut Manusia Modern Perlu Belajar "Santun" pada Masyarakat Adat

Sementara itu, rekan sejawat Prof. Sudaryono, Prof. Ir. Bambang Hari Wibisono, MUP., M.Sc., Ph.D., menyebut bahwa warisan terbesar yang ditinggalkan Sudaryono bukan sekadar karya akademis, melainkan cara pandang dalam memahami realitas manusia.

"Beliau mengajarkan bahwa penelitian yang baik selalu berangkat dari kepekaan terhadap realitas. Warisan terbesar beliau adalah manusia-manusia yang terinspirasi dan dibentuk oleh dedikasi beliau," pungkas Bambang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Peringatkan Ancaman Kelaparan Global di 2050, Dosen UGM Sebut Manusia Bakal Rebutan Makanan :"Pemerintah Harus Lakukan Ini"

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!