Krisis Kesehatan Mental 34 Persen di Jogja, Pemkot Segera Siapkan Sistem Skrining Berjenjang Karena Bakal Jadi Contoh Nasional
JOGJA - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji, menyoroti fenomena memprihatinkan yang melanda generasi muda di tanah air. Dalam acara "Ngopi Lintas 3 Generasi" di Plaza Pemkot Yogyakarta, Kamis (26/6/2026), Wihaji mengungkapkan bahwa saat ini sekitar 25 persen anak di Indonesia mengalami fatherless atau kehilangan sosok ayah dalam tumbuh kembangnya.
Wihaji menekankan bahwa peran ayah tidak cukup hanya sebatas pemenuhan ekonomi atau sekadar membayar biaya sekolah. Menurutnya, kehadiran ayah secara psikologis menjadi fondasi utama dalam pembangunan keluarga yang kokoh.
"Kita ingatkan kembali program Gemar (Gerakan Ayah Mengambil Rapor). Itu cara kita untuk mengingatkan supaya ayah melayani anak tidak hanya masalah ekonomi, bayari SPP tok, tapi juga disentuh psikologisnya," ujarnya.
Baca juga: Jadi Lulusan Tercepat UGM, Kisah Marlyn Buat Skripsi Tentang Depresi pada Perempuan Menikah
Meski dikenal sebagai kota pendidikan dan miniatur Indonesia yang plural, Yogyakarta ternyata tidak luput dari tantangan besar, yakni meningkatnya angka kesehatan mental dan depresi. Wihaji mencatat angka masalah kesehatan mental di Yogyakarta cukup serius, mencapai 34 persen.
Oleh karena itu, Yogyakarta dipilih menjadi kota percontohan pembangunan keluarga nasional. Wihaji mengajak seluruh pihak untuk lebih peduli pada pentingnya komunikasi antara orang tua dan anak agar fenomena fatherless dan krisis mental dapat ditekan.
"Kita tidak takut untuk terus mengedukasi bahwa anak-anak kita ayo diajak ngobrol, diajak diskusi. Teknologi itu gunanya melayani kita, jangan sebaliknya, kita malah melayani teknologi," tegasnya.
Sehingga, ia berharap, dengan adanya sistem manajemen kesehatan mental yang terintegrasi dan berjenjang, kasus toxic people maupun gangguan mental lainnya dapat terpetakan dengan baik, sehingga memberikan solusi nyata bagi masyarakat.
"Harapan kami, kita memiliki sistem manajemen yang baik untuk menghasilkan sesuatu yang positif bagi generasi masa depan kita," tandas Hasto.
Menanggapi arahan tersebut, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyatakan kesiapannya untuk menindaklanjuti program pembangunan keluarga, terutama dalam penanganan masalah kesehatan mental yang kian meningkat akibat pluralitas penduduk di kota tersebut.
"Apa arahan dari Pak Menteri, saya kira akan kami tindak lanjuti. Termasuk sistem skrining untuk mental disorder dari sekolah ke Puskesmas hingga ke rumah sakit," ujar Hasto.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung