Jumat, 12 JUNI 2026 • 15:00 WIB

DPRD DIY Napak Tilas ke Bengkulu : Temukan Cerita Sumur Misterius Diyakini Bawa Jodoh Hingga Aktivisme "Merakyat" Fatmawati

Author

Momen jajaran DPRD DIY saat menyambangi rumah pengasingan Bung Karno, pada Kamis (11/6/2026). (Olivia Rianjani)

JOGJA - Memperingati Bulan Juni sebagai Bulan Pancasila, Komisi A DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melakukan kunjungan kerja bernuansa napak tilas sejarah ke Kota Bengkulu pada Kamis (11/6/2026). Rombongan wakil rakyat ini menyusuri jejak-jejak pengasingan Sang Proklamator, Bung Karno, serta rumah masa kecil Ibu Negara pertama, Fatmawati.

Kunjungan ini dipimpin langsung oleh Sekretaris Komisi A DPRD DIY, Syarif Guska Laksana. Turut mendampingi jajaran anggota komisi lainnya, yaitu Yuni Satia Rahayu, D Radjut Sukasworo, Akhid Nuryati, Sigit Nursyam Priyanto, dan Sofyan Setyo Darmawan.

Sekretaris Komisi A DPRD DIY, Syarif Guska Laksana, mengatakan bahwa pemilihan Bengkulu sebagai lokasi kunjungan kerja didasari oleh nilai historisnya yang kuat. Bengkulu menjadi saksi bisu saat Bung Karno diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda.

"Kami mengadakan kunjungan ke Bengkulu ini untuk napak tilas sejarah perjuangan Bung Karno. Di sana, kami menggali kembali nilai-nilai semangat perjuangan beliau. Meskipun saat itu diasingkan dan dibatasi ruang geraknya, beliau tetap teguh dalam pendirian dan prinsip," ujarnya di lokasi.

Guska menilai, Bung Karno berhasil membuktikan bahwa keterbatasan ruang gerak bukan penghalang untuk tetap produktif melahirkan karya-karya besar yang memantik semangat kemerdekaan Indonesia.

"Ini adalah suatu hal yang patut kita contoh. Kegiatan ini tentunya diharapkan dapat membawa manfaat, baik bagi pemerintahan dan masyarakat DIY, maupun bagi Pemerintah Provinsi Bengkulu dalam mengangkat sisi pariwisata berbasis nasionalisme," jelasnya.

Intip Sumur yang Tak Pernah Kering

Momen awak media saat mencoba membasuk muka dengan air sumur di pengasingan Bung Karno. (Olivia Rianjani)

​Destinasi pertama rombongan adalah Rumah Pengasingan Bung Karno yang terletak di pusat Kota Bengkulu. Rumah bergaya Tionghoa yang dibangun tahun 1918 tersebut disewa oleh Belanda untuk mengasingkan Bung Karno selama empat tahun, dari tahun 1938 hingga 1942. Di rumah tersebut, Bung Karno tinggal bersama istri keduanya, Ibu Inggit Garnasih, dan dua anak angkat mereka, salah satunya bernama Ratna Juwami.

Pengelola Operasional Umum Pengasingan Bung Karno, Safrida Hanum, menjelaskan seluruh interior dan barang peninggalan seperti meja, kursi, ranjang, sepeda, hingga buku-buku di ruang kerja Bung Karno masih asli.

Namun, perhatian anggota dewan tersedot oleh keberadaan sebuah sumur tua di bagian belakang rumah yang dikenal unik dan misterius.

"Sumur ini memiliki keunikan yakni airnya tawar, tidak asin, dan tidak payau, padahal air di sumur rumah sebelah-sebelahnya agak payau karena dekat dengan pantai. Konon katanya, siapa saja yang mencuci muka di sumur ini akan kembali lagi untuk kedua kalinya ke rumah ini," ungkap Safrida.

Safrida menambahkan, sumur tersebut hampir tidak pernah kering total meskipun diterjang kemarau panjang.

"Banyak wisatawan yang berkunjung pasti mencuci muka di sana dengan niat baik masing-masing. Ada yang meyakini bisa mempermudah mendapat jodoh atau terkabul keinginannya. Insya Allah banyak yang terkabul, memang banyak kejadian seperti itu," bebernya.

Baca juga: UGM Benarkan Ada Dosennya Jadi Penasihat Daycare Little Aresha, Komisi X DPR RI : " Hukuman Harus Tiga Kali Lipat!"

Cinta dan Karya di "Monte Carlo"

Potret tempat pengasingan Ir Soekarno (Bung Karno). (Olivia Rianjani)

Selain sumur ajaib, rumah ini menjadi saksi bisu awal mula rajutan kisah cinta antara Bung Karno dan Ibu Fatmawati. Sejarahwan sekaligus mantan Kepala Dinas Pariwisata Bengkulu periode 2009-2011, Agus Setianto, mengungkapkan bahwa Bung Karno mendirikan grup teater bernama Monte Carlo untuk mengusir kejenuhan selama masa pengasingan.

Melalui seni teater ini, Bung Karno menyisipkan jiwa nasionalisme kepada masyarakat Bengkulu.

Menariknya, karena keterbatasan zaman, semua pemain di atas panggung adalah laki-laki. Namun di balik layar, sosok Fatmawati dan Inggit Garnasih terlibat aktif.

"Di dalam rumah ini terdapat kostum yang dinamakan Kostum Monte Carlo. Semasa pengasingannya, Bung Karno mendirikan sebuah grup musik sandiwara atau teater yang melibatkan masyarakat Bengkulu. Anggota teater tersebut di antaranya adalah Ibu Inggit dan Ibu Fatmawati. Pada waktu itu, Ibu Fatmawati belum menjadi istri Bung Karno, melainkan masih menjadi murid beliau," jelas Agus.

Fatmawati, yang merupakan sahabat dari anak angkat Bung Karno, Ratna Juwami, sering menginap di rumah tersebut. Dari intensitas pertemuan dalam kegiatan kesenian inilah benih-benih cinta mulai tumbuh.

Agus menceritakan, pemindahan Bung Karno ke Bengkulu diawali dari aksi protes keras M.H. Thamrin di Dewan Volksraad karena Bung Karno sakit keras saat diasingkan di Ende, Flores. Setelah melalui berbagai penolakan dari residen lain termasuk Kalimantan, Residen Bengkulu akhirnya bersedia menampung Bung Karno hingga tiba pada 9 Mei 1938.

Selama empat tahun di Bengkulu, Bung Karno menghasilkan sekitar 12 karya sandiwara, termasuk lakon Rainbow (Poetri Kentjana Boelan), Hantu Gunung Bungkuk, hingga Dokter Setan. Selain aktif mengajar bersama ayah Ibu Fatmawati, beliau juga mendesain Masjid Jami di Jalan Suprapto, Bengkulu.

"Ada satu naskah lagi yang ditulis Bung Karno tetapi belum sempat dipentaskan karena Jepang keburu masuk dan Bung Karno dilarikan ke Padang pada tahun 1942. Cerita tersebut adalah sebuah ramalan Bung Karno tentang Indonesia Merdeka. Sayangnya, naskah terakhir itu belum sempat dipentaskan dan keberadaannya sampai sekarang masih menjadi misteri," papar Agus Setianto, yang juga penulis buku Bung Karno Maestro Monte Carlo.

Fatmawati Remaja: Sang Aktivis yang Merakyat

Potret kediaman Fatmawati Soekarno. (Olivia Rianjani)

​Perjalanan dilanjutkan menuju Rumah Fatmawati yang berjarak tidak jauh dari lokasi pertama. Rumah panggung kayu yang kini menjadi museum tersebut diawasi langsung oleh Pemda.

Adik sepupu kandung Ibu Fatmawati, Marwan Amanadin, yang bertugas menjaga rumah menceritakan bahwa Fatmawati lahir di rumah tersebut pada tahun 1923 dan tinggal di sana hingga menikah dengan Bung Karno pada tahun 1943.

"Kalau masa muda Ibu Fatmawati itu dikatakan seperti aktivis lah, tapi belum terorganisir. Karena ketamanya itu belum terorganisir, jadi dia seperti aktivis gitu lah. Dia lahir dan sekolah di Bengkulu sampai setingkat SMA," kenangnya.

Marwan menuturkan, kisah cinta mereka memuncak saat Bung Karno jatuh hati pada Fatmawati remaja. Namun, karena Ibu Inggit Garnasih tidak ingin dipoligami, Inggit memilih meminta diantarkan pulang ke Bandung. Bung Karno kemudian resmi menikahi Fatmawati pada 1943 dan memboyongnya ke Jakarta.

Di museum ini, pengunjung dapat melihat mesin jahit legendaris yang digunakan untuk menjahit Bendera Pusaka.

"Nah, mesin jahit bendera itu sebenarnya jahit benderanya di Jakarta. Tapi kalau tahu ini dijadikan museum, jadi dibawa ke sini. Mesin asli, kosin-nya aja asli. Kalau tempat tidur, hanya ranjangnya saja yang asli, kalau kasurnya sudah tidak asli lagi," katanya.

Lanjut Marwan menilai sosok Fatmawati sebagai pribadi yang sangat merakyat. Penilaian serupa disepakati oleh Agus Setianto.

"Kalau saya nilai, maksud orang juga ya baik-baik lah, orang yang berhormat begitu. Dia dengan masyarakat itu nggak sombong, merakyat lah dia," ucapnya.

Melihat rekam jejak sejarah yang luar biasa tersebut, Anggota Komisi A DPRD DIY, Sofyan Setyo Darmawan, mengaku sangat terkesan dan mendapatkan banyak inspirasi dari keteladanan sosok Ibu Fatmawati sejak masa mudanya.

"Ya Alhamdulillah, saya kira kita semakin mengenali sejarah perjuangan bangsa ya. Sosok Bu Fatmawati yang ternyata sejak remajanya itu aktivis, punya kepedulian sosial yang tinggi, kepedulian atas kemerdekaan," kata Sofyan.

Baca juga: Soroti Anggaran Pendidikan Ratusan Miliar, DPRD DIY Minta Bentuk Satgas Khusus Berantas Kejahatan Jalanan Anak :"Ini Sudah Darurat!"

Kendati demikian, ia menggarisbawahi bahwa karakter pergerakan kuat yang dimiliki Fatmawati mengalir dari darah kedua orang tuanya, Hasan Din dan Siti Khotidjah, yang merupakan tokoh Muhammadiyah.

"Saya kira berasal dari darah tokoh pergerakan inilah ada di Bu Fatmawati yang itu menjadi contoh ya, yang pertama contoh bagi remaja, remaja juga ternyata sudah sejak kecil punya visi perjuangan, visi pergerakan, kemerdekaan. Yang kedua tentu bagi para ibu ya, yang kemudian mendampingi suaminya dengan setia dalam perjuangan. Jadi pahit getirnya saya kira itu inspirasi yang dapat kita ambil dari Bu Fatmawati," pungkas Sofyan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU