Malioboro Terlalu Padat, Wali Kota Hasto Siapkan Taman Pintar Kedua di Giwangan : Edukasi Transportasi Laut-Udara
JOGJA - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta tengah bersiap memecah kepadatan wisatawan dan aktivitas ekonomi yang selama ini berpusat di kawasan Malioboro. Salah satu langkah strategis yang akan diambil adalah dengan mengembangkan wilayah Yogyakarta bagian selatan, termasuk rencana pembangunan Taman Pintar kedua di kawasan Giwangan.
Hal itu diungkapkan oleh Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, saat memberikan sambutan dalam acara penyerahan 50 unit becak listrik sekaligus penghancuran becak motor (bentor) di Unit Pelaksana Teknis Pengujian Kendaraan Bermotor (UPTKPB) Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta, Rabu (3/6/2026).
Hasto menjelaskan bahwa kompleksitas Kota Gudeg sudah saatnya dibagi agar tidak menumpuk di pusat kota. Sisi selatan dinilai memiliki potensi besar untuk tumbuh menjadi sentra ekonomi dan wisata baru.
"Pengembangan Kota Yogyakarta ke wilayah selatan itu penting, sehingga kompleksitas kota itu tidak hanya terkumpul di Malioboro, tetapi bisa terbagi ke selatan," ujarnya.
Hasto mengungkapkan, Taman Pintar yang ada saat ini dinilai sudah terlalu kecil dan sulit untuk dikembangkan lagi. Kini, Pemkot Yogyakarta membidik lahan seluas hampir 2 hektare di kawasan Giwangan, tepatnya di sekitar Pasar Ikan Higienis dan Embung Giwangan, untuk membangun Taman Pintar kedua.
"Kami mohon doanya, akan ada nantinya Taman Pintar berada di sekitar Giwangan karena di sini (pusat kota) terlalu kecil dan juga kurang bisa berkembang. Maka ini akan kami geser ke depannya, akan ada di dekat Taman Embung Giwangan," ungkapnya.
Menurutnya, proyek masa depan ini diproyeksikan tidak hanya menjadi ruang terbuka hijau, tetapi juga pusat edukasi yang lebih luas dan komplet. Selain mempertahankan fungsi pembibitan ikan di area embung, Hasto membocorkan bahwa Taman Pintar kedua ini akan mengusung konsep edukasi transportasi multi-moda yang unik.
Baca juga: Kisah Amirul Ramli: Mantan Marbot dan Penjual Asongan Malioboro Kini Bergelar Doktor di UMY
Bahkan, ia menyebutkan bahwa replika pesawat tersebut nantinya bisa dimanfaatkan sebagai sarana manasik atau simulasi penerbangan bagi calon jemaah haji.
"Maunya kita ya mengedukasi anak-anak didik kita ini tidak hanya lalu lintas darat, tapi juga udara dan laut. Di situ kan banyak air. Mungkin di pelabuhan itu seperti apa, kemudian mungkin juga kita bisa lah beli pesawat-pesawat bekas untuk melatih adik-adik kita, anak-anak kita, bagaimana tata cara untuk mempersiapkan satu penerbangan," beber Hasto.
Lebih lanjut, pemerataan pembangunan ini dipastikan tetap merangkul para pelaku transportasi tradisional, seperti pengayuh becak dan kusir andong. Dengan adanya sentra wisata baru di selatan, para pengayuh becak diharapkan bisa mendapatkan peluang rezeki baru tanpa harus berebut ruang di kawasan Malioboro.
"Dan juga tentu Bapak-Bapak pengayuh becak juga bisa tidak hanya terpusat di Malioboro, tapi juga ada sentra-sentra baru," imbuh Hasto.
Di sisi lain, untuk mendukung konsep Malioboro sebagai Sumbu Filosofi yang ramah lingkungan (pro-environment), Pemkot Yogyakarta berkomitmen penuh melakukan transisi dari becak konvensional ke becak listrik. Program ini berjalan berkat sinergi bersama BUMN seperti PT KAI dan PLN.
Kendati demikian, ia menegaskan bahwa kelestarian lingkungan harus berjalan beriringan dengan kesejahteraan manusia. Pemkot pun berencana memasukkan pengadaan becak listrik ini ke dalam skema APBD Kota Yogyakarta sebagai stimulan, sembari berharap adanya dukungan dari Dana Keistimewaan (Danais) Provinsi DIY.
"Prinsipnya kita pro environment, dan lingkungan itu tidak hanya lingkungan abiotik, tapi lingkungan biotik yaitu manusia. Jangan sampai kita pro lingkungan tapi tidak pro pada manusia. Kita mempertahankan becak karena ini moda transportasi tradisional dan bagian dari nguri-uri peninggalan nenek moyang dengan ciri khas Yogyakarta," pungkas Hasto.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara Langsung